PROLOGUE:

Situasi yang semakin memburuk akibat COVID-19 tentu membuat kita semakin was-was. Saat ini mungkin separuh penduduk di dunia tengah berdiam diri di rumah untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Semua orang tentu dalam situasi tak nyaman. Seolah, kita saat ini tengah berada dalam cerita film yang biasa kita tonton. Siapa mengira, kita bisa mengalami hal yang lebih buruk daripada di cerita film, padahal kisahnya cuma rekaan. Untuk itu, kami mencoba untuk melakukan kilas-balik, film-film yang berhubungan dengan situasi yang sama, sebuah pandemi atau wabah yang meluas entah itu dalam skala kecil atau global. Kami telah mengawalinya melalui ulasan film Contagion beberapa minggu lalu. Siapa tahu, kita bisa tahu lebih atau sedikit, bagaimana sebuah wabah bisa meluas dan bisa mengantisipasi agar tidak menjadi lebih buruk. Selamat membaca dan menonton.

Ulasan seri wabah lainnya: CONTAGIONWORLD WAR Z OUTBREAKONLY THE HAPPENINGTHE FLU

The Cassandra Crossing (1976)
129 min|Drama, Thriller|09 Feb 1977
6.3Rating: 6.3 / 10 from 10,605 usersMetascore: 30
Passengers on a European train have been exposed to a deadly disease. Nobody will let them off the train. So what happens next?

Era 1970-an dikenal sebagai era emas film bencana dengan karya-karya masterpiece genrenya, sebut saja Airport, Poseidon Adventure, hingga Towering Inferno. Terkait dengan bencana wabah, The Cassandra Crossing (1976) adalah satu contohnya. Inti filmnya berkisah tentang satu wabah penyakit yang ditularkan di sebuah kereta api yang tengah berjalan. Menarik bukan. Film ini diarahkan oleh George P. Cosmatos dengan bermain di dalamnya sederetan bintang internasional ternama kala itu, seperti Sophia Loren, Richard Harris, Martin Sheen, Eva Gardner, O.J. Simpson, hingga Burt Lancaster.

Alkisah seorang teroris berhasil lolos dari aksi pemboman di kantor organisasi kesehatan dunia di Jenewa. Dua rekannya tewas, namun malangnya, sebelum meloloskan diri, sang teroris terkena cairan eksperimen di ruang isolasi laboratorium yang rupanya adalah bakteri mematikan. Sang teroris berhasil menyelinap masuk ke sebuah kereta api yang bertujuan ke Stockholm. Tak lama setelah kereta berjalan, sang teroris pun terlihat sakit. Tanpa ia sadari, ia pun menulari orang-orang yang didekatnya.

Baca Juga  Injustice

Cepat, menghibur, dan menegangkan. The Cassandra Crossing adalah tipikal film bencana pada era ini yang menggunakan struktur 3 babak yang solid. Sejak awal hingga akhir, film ini seolah tanpa henti menyajikan ketegangan. Ketegangan dan aksi pun tensinya semakin naik hingga segmen aksi klimaks yang memuncak. Ruang yang terbatas, tak ada jalan keluar, dan berpacu dengan waktu menjadi formula ampuh untuk mempermainkan emosi penonton. Andai saja film ini di-remake saat ini, rasanya punya potensi besar. Hanya saja, logika kisahnya dan alur yang memaksa memang sedikit mengganjal. Tak jelas, bagaimana sebagian penumpang bisa tertular sementara yang lain tidak. Sang dokter yang juga tokoh utama, berulang kali memegang sang teroris yang tergeletak sakit, namun seorang gadis yang hanya sekali berpapasan bisa tertular. Aksi klimaks juga terasa konyol, tak habis pikir, bagaimana seorang dokter dan lainnya bisa begitu mahir memegang senjata mesin. Ekspresi mereka pun terlalu tenang untuk situasi yang demikian menegangkan.

The Cassandra Crossing adalah satu contoh tipikal film bencana era 1970-an, bertempo cepat, kompilasi bintang ternama, menegangkan dan menghibur, walau logika plotnya kadang terlalu konyol. Setidaknya, film ini menyajikan protokol yang sesungguhnya untuk mencegah penyebaran wabah agar tidak lebih meluas. Segmen di Nuremberg, ketika seluruh penumpang kereta api di-lock down disajikan sangat detil dan rinci. Situasi sama persis seperti perang dan otoritas tidak berani mengambil resiko. Hanya saja, aksi nekad sang dokter dan kawan-kawan memang tergolong berani, dan faktanya mereka pun mengorbankan ratusan penumpang lainnya. Pilihan memang selalu ada resiko. Mau lock down atau tidak, bukan kita yang memutuskan. Ini banyak contoh di dekat-dekat saya, untuk apa lock down jika konsep social distancing saja belum dipahami? Percuma saja hasilnya.

Stay Healthy and safe people!

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHari Film Nasional: Sebuah Refleksi
Artikel BerikutnyaBlow the Man Down
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses