Finding Dory (2016)

97 min|Animation, Adventure, Comedy|17 Jun 2016
7.2Rating: 7.2 / 10 from 303,249 usersMetascore: 77
Friendly but forgetful blue tang Dory begins a search for her long-lost parents and everyone learns a few things about the real meaning of family along the way.

Setelah Finding Nemo, kini setelah 13 tahun sekuelnya baru dirilis. Apakah film ini sudah kehilangan momen setelah sekian lama? Sepertinya tidak. Finding Nemo boleh dianggap sebagai salah satu karya Pixar terbaik hingga kini dan memang rasanya sulit untuk dilewati sekuelnya. Andrew Stanton kembali menjadi sutradara dengan bujet produksi kini lebih dari sebelumnya, yakni US $200 juta. Mengikuti formula film pertamanya, Finding Dory kini mengetengahkan petualangan Dory, Marlin, dan Nemo mencari orang tua Dory di seberang lautan sana. Suka duka mengikuti petualangan mereka dan mempertemukan mereka dengan karakter-karakter baru yang unik.

Harus diakui memang formula Finding Dory terasa sedikit repetitif seperti Nemo. Kisahnya pun terasa agak memaksa ketika keputusan Marlin untuk pergi mengantar Dory tanpa argumen yang memadai dan mengajak sang putra (Nemo) pula. Keputusan untuk menyeberangi lautan lepas berjarak ribuan mil jauhnya dan berbahaya rasanya terlalu cepat dan tidak terasa seperti mengambil keputusan besar. Pesan Finding Dory kurang lebih sama, yakni pentingnya keluarga, persahabatan, dan kerja tim yang menjadi ciri film-film produksi Pixar. Hanya saja kali ini dengan kemasan cerita yang lebih luas dan lebih menghibur dari film sebelumnya. Hal yang sedikit berbeda kali ini karakter Dory lebih dominan dalam cerita filmnya serta gambaran kilas-balik yang menampilkan kedua orang tua Dory.

Baca Juga  Son

Kelemahan di sisi cerita jelas tertutup oleh munculnya karakter-karakter baru yang unik dan lucu. Karakter si gurita Hank, ikan hiu paus Destiny, paus Beluga Bailey yang muncul cukup dominan menambah warna cerita menjadi lebih dinamis dari sebelumnya. Belum lagi dua karakter anjing laut karismatik dengan polahnya, Fluke dan Rudder, serta si burung konyol, Becky. Kemunculan mereka semua dengan tingkah dan polahnya masing-masing dijamin bakal mengundang tawa penonton. Satu sekuen klimaks di penghujung cerita menampilkan satu adegan aksi yang amat sangat menghibur, konyol, sekaligus menyentuh dan dijamin seisi bioskop bakal meledak dengan haru dan tawa.

Finding Dory memang terasa sedikit memaksa, repetitif, dan tidak lagi memiliki kekuatan cerita seperti film pertamanya namun tambahan beberapa karakter baru yang lucu, enerjik, dan berkarisma, serta beberapa adegan menyentuh sudah lebih dari cukup membuat film ini menjadi hiburan yang sempurna bagi segala usia. Melalui Finding Dory, Pixar (bersama Disney) kembali mampu mengusung tradisi mereka mengkombinasikan pencapaian visual yang luar biasa dengan kisah yang menyentuh. Seperti tradisi film-film mereka, satu animasi pendek disajikan sebelum film utamanya dimulai, berjudul Piper dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Dikemas begitu mencengangkan secara visual demikian pula kisahnya. Jangan lewatkan pula post credit scene di akhir filmnya yang menampilkan karakter-karakter lama.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaCentral Intelligence
Artikel BerikutnyaThe Nun: Spin-Off The Conjuring
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.