Episode dated 11 August 1999 (1999)
N/A|News|11 Aug 1999
Rating: Metascore: N/A
N/A

Film kriminal di tengah bencana memang tak lagi baru, namun sub genre ini memang menarik untuk diikuti. Force of Nature adalah film aksi kriminal – bencana arahan Michael Polish. Film ini dibintangi nama-nama besar, sebut saja Mel Gibson, Emily Hirsch, Kate Bosworth, hingga aktor dan aktris latin, David Zayas dan Stephanie Cayo.

Alkisah di negara pulau kecil di Amerika selatan, Puerto Rico, badai level 5 menghantam tempat ini. Cardillo (Hirsch), polisi transfer asal New York mendapat tugas untuk mengevakuasi 2 orang tua di sebuah gedung. Bersama partner barunya, Jess, Cardillo menghadapi situasi di luar dugaan, ketika sekelompok kriminal mengincar barang seni bernilai tinggi yang disimpan oleh salah satu penghuni gedung tersebut. Cardillo, Jess, bersama penghuni tersisa, termasuk mantan polisi dan putrinya, berusaha bertahan hidup di bawah tekanan para kriminal serta badai besar di luar.

Kisah pencurian di tengah bencana memang bukan hal baru, sebut saja Hard Rain dan Hurricane Heist. Keduanya memang bukan terhitung film yang bagus sekalipun aksinya menghibur. Force of Nature memiliki nasib kurang lebih sama, sekali pun premisnya menarik. Situasi Die Hard di tengah bencana besar memang membuat filmnya memiliki potensi kisah yang menarik. Sayangnya, kisahnya sendiri tak digarap serius dengan banyak pengembangan cerita yang mengabaikan logika serta terlalu mudah untuk diantisipasi kisahnya. Setting bangunan yang demikian menarik juga tak mampu digarap baik dalam naskahnya sehingga sering kita kehilangan informasi, ada di lantai berapa sang tokoh. Posisi lantai jelas penting untuk menambah sisi ketegangan aksinya. Dalam film ini semua lantai seperti terlihat sama.     

Force of Nature memiliki premis menarik untuk aksinya, walau idenya tak lagi orisinal dan membuang talenta para kasting seniornya. Gibson nyaris tak penah miss dalam memilih peran, namun kini perannya sama sekali tak membekas, sekali pun karakter sang tokoh memang ekspresif. Sayang jika aktor sekaliber ini harus memiliki nasib serupa dengan Bruce Willis yang kini sering bermain dalam film kelas dua. Demikian pula halnya dengan Hirsch dan Boswoth. Aktor lokal Stephanie Cayo dan sang antagonis justru sedikit mencuri perhatian. Untuk fans film aksi kriminal sejenis dan plot Die Hard rasanya bakal sedikit terhibur walau ketegangan yang kita harapkan, jauh dari harapan.

Baca Juga  Ant-Man and the Wasp

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaArtemis Fowl
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.