Seberapa sering kita menonton film-film fiksi ilmiah dengan pengemasan komedi yang mengolok-olok dan mencundangi kecanggihan teknologinya sendiri? Podalydès bersaudara, Bruno dan Denis, menulis skenario soal itu dalam French Tech, yang kemudian diarahkan sendiri oleh Bruno. Film komedi fiksi ilmiah ini diproduksi Why Not Productions, Arte France Cinéma, Cinécap 3, dan Cinémage 14. Termasuk duo Podalydès sendiri, para pemeran lainnya dalam French Tech antara lain Sandrine Kiberlain (A Radiant Girl), Luàna Bajrami, Yann Frisch, dan Leslie Menu. Menjadi penulis, menyutradarai, bahkan masuk jadi salah satu aktornya, bagaimana Bruno menggarap film ini?

“Life isn’t always easy. Right?”

Alexandre Duveteux (Denis) amat butuh pekerjaan demi menghidupi dua anaknya. Namun pekerjaan yang didapatkannya adalah di sebuah perusahaan teknologi digital. Alex sendiri hanyalah seorang laki-laki tua yang banyak ketinggalan kemajuan teknologi. Daripada dia, Arcimboldo (Bruno), laki-laki lain yang kemudian menjadi teman dekat Alex, justru lebih melek teknologi. Masalah Alex pun bertambah, saat ia mesti berpartner dengan Séverine Cupelet (Kiberlain). Terlebih, perusahaan tempat Alex dan Séverine kerja melarang adanya anak-anak.

Salah satu film fiksi ilmiah dengan kemasan komedi paling progresif sejauh ini. Alih-alih menjadikan fiksi ilmiah tampak keren dan hebat, French Tech justru beberapa kali mencundangi kemajuan teknologi dengan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan erornya. Seakan keberadaan teknologi canggih dalam film ini sudah seperti mainan belaka, yang menyenangkan saat bisa dimanfaatkan, tetapi juga menyebalkan saat mengalami kendala. Jika menengok agak ke belakang, beberapa waktu lalu juga ada Everything Everywhere All at Once. Film fiksi ilmiah yang dengan cerdasnya membawakan multiverse dengan begitu komikal. Meski Everything Everywhere All at Once mengandung subteks lebih personal terhadap tokoh utamanya, daripada French Tech yang sekadar mempersoalkan tentang keberanian untuk berbicara ke bos.

Apa yang kurang dari French Tech boleh jadi adalah itu. Duet Podalydès tidak dengan matang mempertimbangkan pentingnya keberadaan subteks yang lebih intim. Mereka cenderung mengobral lelucon sebanyak-banyaknya di sepanjang cerita, baik dari karakter setiap tokoh, faktor situasi, maupun “kegagalan” teknologi. Memang lucu, menghibur, dan mendulang gelak tawa. Apalagi dengan sindiran-sindiran ke berbagai produk berteknologi canggih. Namun tanpa naskah yang mapan, French Tech pada akhirnya sekadar menjadi hiburan pelepas dahaga semata di penghujung hari. Meski problematika yang diberikan oleh Podalydès bersaudara untuk kedua tokoh French Tech, Alexandre (Denis) dan Séverine (Kiberlain) cukup merepotkan mereka.

Baca Juga  All the Bright Places

Akting Denis dan Kiberlain malah lebih baik daripada permasalahan naskah itu. Mereka pun sama-sama menjadi karyawan sebuah perusahaan yang melarang kepemilikan anak. Padahal keduanya sudah memiliki anak. Keseruan mulai meningkat, ketika pada akhirnya Alex dan Séverine mau bekerja sama untuk mengakali aturan perusahaan. Sampai anak Séverine, Suzie (Bajrami) pun angkat suara agar karyawan lainnya juga mau melawan. Polah tingkah para tokoh itu pun sudah lucu. Salah satu yang paling pecah adalah pada momen pengambilan drone oleh Arcimboldo, tetapi harus berebut dengan kelompok lain. Adegannya biasa, namun dibawakan oleh olah peran yang baik dari Bruno, serta tambahan musik yang mendukung situasinya.

Atas perhatian yang begitu dominan terhadap sisi komedi dari sebuah fiksi ilmiah, mengakibatkan French Tech tak terlalu banyak melakukan olahan ciamik terhadap kemasan filmis lainnya. Hanya beberapa kali bermain-main dengan sudut pengambilan gambar untuk menyembunyikan informasi. Penutupan informasi yang kemudian dibuka secara komikal untuk memicu tawa. Musik dan editing cepat pun disesuaikan dengan kebutuhan komedi dalam setiap adegan.

French Tech amat komikal dalam menunjukkan beragam bentuk kecanggihan teknologi, lewat karakterisasi dari setiap tokoh dan polah tingkah mereka. Produk-produk berteknologi masa depan jadi mainan belaka dalam cerita buatan duo Podalydès. Drone misalnya, yang jadi tampak tak bernilai dalam French Tech. Jalan keluar dari kemelut perasaan serta hal-hal dilematis karena menyimpan rahasia melawan aturan perusahaan rupanya sederhana. Hanya butuh kejujuran dan keberanian berpendapat untuk mengakhiri cerita film ini dengan solusi terbaik.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Man in the Basement (Festival Sinema Prancis)
Artikel BerikutnyaSinema Neorealisme Italia
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.