From London to Bali merupakan film komedi romantis yang cukup memberikan pesan moral yang baik. Tidak ada unsur pornografi, penonton bisa tertawa dan terhibur sepanjang film. Tapi tentu saja dilarang berekspektasi tinggi. Kenapa?

     Kisahnya dimulai dari perpisahan Lukman (Ricky Harun) dan Dewi (Jessica Mila). Sepasang kekasih ini harus menjalani long distance relationship karena Dewi melanjutkan studinya ke London. Sedih karena jauh dari pacarnya, Lukman pun bekerja ke Bali demi mendapatkan uang yang banyak agar dapat menemui Dewi ke London. Ternyata, pekerjaannya di Bali sebagai koboi (escort laki-laki yang menemani turis perempuan untuk bersenang-senang selama di Bali) memberikan pengalaman yang baru hingga Lukman pun bertemu dengan gadis Bali yang cantik dan baik hati, Putu (Nikita Willy). Aksi Fico Fachriza dan Muhadkly Acho juga memeriahkan suasana.

     Alur film berjalan cukup cepat dan bisa diikuti tanpa kantuk. Cerita yang disajikan sangat ringan meskipun terdapat adegan yang tidak masuk akal dan tidak disajikan dengan baik. Secara keseluruhan film dapat dinikmati dengan unsur komedi yang cukup menghibur meskipun tidak seperti film-film komedi yang belakangan tayang di bioskop. Para pemain berakting dengan cukup baik tetapi tidak ada yang istimewa.

     From London to Bali tidak memberikan sesuatu yang baru kecuali mengangkat fenomena koboi yang sedang marak terjadi di Bali khususnya wilayah Kuta. Bali menyajikan modernitas dengan segala sajian hiburan kelas dunia, di sisi lain berusaha untuk tetap melestarikan keindahan budaya lokal dengan tradisi dan adatnya. Dalam film ini ditunjukkan bahwa koboi bukanlah pekerjaan yang mulia dan patut untuk diperangi.

Baca Juga  DreadOut

     Tidak ada yang istimewa dari sajian visual yang disuguhkan film garapan Angling Sagaran ini. Bahkan dua lokasi yang seharusnya menjadi nilai jual film pun tidak nampak keindahannya. Film ini seakan dibuat seadanya saja tanpa berusaha untuk mengeksplor keindahan London dan Bali untuk menyajikannya secara cantik dan menggugah mood penonton. Adegan demi adegan yang disajikan juga tampak kurang baik. Hal ini terlihat dari pergerakan gambar, pemilihan background, serta transisi adegan yang kurang enak dilihat.

     Secara keseluruhan From London to Bali memberikan hiburan yang tidak lebih baik dari film televisi selain setting lokasi yang cukup mewah dan pasti membutuhkan biaya yang besar karena berlokasi di London. Film Komedi ini tidak mampu meninggalkan kesan yang membekas. Sayang rasanya mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli tiket bioskop hanya untuk menonton film bioskop yang setara dengan FTV yang bisa kita tonton secara gratis di saluran televisi swasta sambil tiduran di rumah. Buang-buang uang saja!

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaBleed for This
Artikel BerikutnyaSplit
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

1 TANGGAPAN

  1. Saya baru saja nonton film ini, sama seperti pendapat Penulis yang review film ini kurang lebihnya saya setuju. Saya tidak menonton film ini di bioskop. Bukan saya tidak mendukung film karya bangsa, akan tetapi sungguh sayang rasanya kalo mengeluarkan uang hanya untuk tontonan seperti ini, bahkan dari Judul, poster dan trailer saya sudah bisa menebak alur dari film ini. Jika anda pernah menonton FTV indonesia, kurang lebih alur ceritanya sama. Semoga saja kedepannya film-film seperti ini lebih dikembangkan lagi.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.