Furious 7 (2015)
137 min|Action, Thriller|03 Apr 2015
7.1Rating: 7.1 / 10 from 434,889 usersMetascore: 67
Deckard Shaw seeks revenge against Dominic Toretto and his family for his comatose brother.

Sejak titik balik sukses Fast Five silam, produser dan penulis naskah sadar jika formula “team work” bekerja sempurna mempermulus sukses seri ini dibanding sebelumnya. Seri ke-6, dengan pula menggunakan formula sama terbukti meraih sukses melebihi seri ke-5. Dan kali ini seri ke-7 mereka juga menggunakan formula yang sama, ditambah kepergian Walker sebelum film ini selesai produksi, kesuksesan film ini melebihi ekspetaksi siapa pun hingga bisa dipastikan seri ke-8, 9, dan seterusnya kemungkinan besar akan terus diproduksi. Dijamin.

Sekuel demi sekuel diproduksi semata karena sukses film sebelumnya tanpa terkonsep sejak awal dan mengalami perubahan besar sejak seri kelima karena mampu menggabungkan semua unsur cerita dari seri pertama hingga empat, yang berlanjut hingga Furious 7. Penulis naskah cukup pintar mengakali kita dengan mampu menghubung-hubungkan cerita dari seri-seri sebelumnya dengan sedikit memutarbalikkan fakta dan logika. Siapa pun tahu Letty yang tewas di seri ke-4 dihidupkan kembali di seri ke-6 semata hanya karena tuntutan pasar (tanpa direncanakan dari awal). Sama halnya Han yang tewas pada seri ke-3 ternyata dibunuh Deckard Shaw pada seri ke-7 (Jason Statham). Ini jelas terlalu memaksa dan konyol.

Furious 7 mengambil cerita sesaat setelah seri ke-3 sejak Han tewas. Inti cerita hanya sederhana, Dominic dan kawan-kawan ingin membalas dendam kematian rekan dekatnya (baca: family) tersebut. Sementara lucunya, Deckard Shaw sendiri ingin membalaskan dendam adiknya, Owen Shaw, yang kini koma akibat aksi Dominic dan kawan-kawan di seri ke-6. Dominic mendapat tawaran dari agen Frank Petty (Russel) untuk membantu mecari Deckard namun ia harus membantu sang agen mendapatkan sebuah program komputer maha dahsyat bernama God’s Eye. Cerita film hanya bergerak seputar ini dan lucunya setiap kali usaha Dominic dan kawan-kawan mendapatkan God’s Eye disitu pulalah Deckard Shaw muncul. Pertanyaan sederhana: Buat apa mengejar God’s Eye, mengapa Dominic dan tim tidak lantas fokus mengejar Deckard?. Plot filmnya telah membunuh filmnya sendiri.

Baca Juga  Morgan

Bicara soal aksi, sehebat apapun aksi jika cerita tidak memiliki motif yang kuat tetap saja terasa hambar. Ini masalah besar filmnya kecuali untuk penonton yang memang ingin menonton aksinya, cerita atau motif bukan masalah. Aksi gila-gilaan di luar nalar mulai muncul di seri ke-6, ketika mobil-mobil dan para pemain berterbangan di aksi jalanan mereka dan kini aksi lebih gila lagi muncul. Mobil-mobil yang terjun dari pesawat menggunakan parasut bukan hal yang baru dalam film dan ini masih bisa dinalar namun ketika satu mobil “terbang” dari satu gedung pencakar langit ke pencakar langit yang lain hingga dua kali, ini jelas kelewatan. Logika aksi sejak seri ke-1 dan ke-5 masih dalam batas toleransi tapi seri ke-7 ini sudah luar biasa kebablasan.

Furious 7 dengan segala aspeknya semata hanya bisnis dan pastinya fans aksi seri ini tidak akan kecewa. Mendiang Paul Walker jelas menjadikan film ini salah satu tontonan paling dramatik yang pernah ada. Tak seorang pun lepas dari sosok Walker yang seolah dihidupkan kembali dalam film ini. Adegan akhir yang menjadi tribute buat Paul juga disajikan sangat menyentuh. Paul Walker menjadi faktor besar bagi kesuksesan film ini. Tidak apapun yang bisa ditawarkan Furious 7 selain ini. Semoga seri ke-8 dan seterusnya bisa menggunakan pendekatan yang berbeda dengan sisi dramatik yang lebih kuat dan aksi jalanan yang lebih nalar.

Movie Trailer

PENILAIAN KAMI
Total
30 %
Artikel SebelumnyaWhiplash
Artikel BerikutnyaAvengers: Age of Ultron
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses