https://www.imdb.com/title/tt7451284/?ref_=nv_sr_1

     Amat jarang film horor yang diadaptasi dari panggung teater, namun Ghost Stories berhasil melakukannya dengan baik. Film ditulis dan disutradarai oleh Andy Nyman dan Jeremy Dyson, dan uniknya Nyman bermain pula sebagai tokoh utama dalam versi teater dan adaptasi filmnya. Film produksi Inggris ini, dibintangi pula oleh Martin Freeman, Paul Whitehouse, dan Alex Lawther.

     Berlatar akhir tahun 1970-an, filmnya berkisah tentang seorang profesor skeptik, Phillips Goodman yang menjadi pengasuh sebuah acara TV yang membongkar trik para cenayang. Suatu ketika, Phillips mendapat undangan dari Charles Cameron, seorang investigator dunia arwah ternama yang konon meninggal secara misterius. Cameron menantang Phillips untuk menilik tiga kasusnya, yang dulu tidak mampu ia selesaikan serta membuatnya percaya bahwa dunia arwah ternyata benar-benar eksis.

    Sejak awal, filmnya sudah tampak dikemas unik melalui montage yang menggambarkan latar belakang sang profesor yang seorang Yahudi. Kemasan filmnya sempat mengecoh ketika Phillips melanggar tembok keempat dengan berbicara dengan penonton, namun plot selanjutnya berjalan normal. Alur kisah filmnya kemudian berjalan episodik sejalan tiga kasus yang dihadapi Phillips. Masing-masing kisah berjalan disajikan melalui kilas-balik untuk menjelaskan pengalaman mengerikan yang dialami masing-masing tokohnya.

     Hingga momen ini, kita masih tidak mendapat arah cerita yang jelas, hanya mendapat pesan kecil tentang “dosa” dari masing-masing tokoh sehingga seolah mereka dihukum melalui pengalaman menakutkan tersebut. Setelahnya, mendadak kisahnya berubah haluan dengan amat mengejutkan yang merupakan kisah “keempat” yakni sang profesor sendiri. Pelanggaran tembok keempat di awal terjawab sudah karena ternyata keseluruhan skenario tersebut hanya dibuat oleh satu orang saja. Bukan formula baru memang, namun cukup mengagetkan.

Baca Juga  Resident Evil: Retribution

     Bicara soal pencapaian horornya, satu hal yang mendapat pujian lebih adalah bagaimana sang sineas membangun mood horor melalui setting dan atmosfir yang mencekam sepanjang filmnya. Nyaris tak ada momen nyaman dalam film ini. Kadang, kita bisa bernafas lega ketika sebuah adegan horor berakhir, namun tidak berlaku untuk film ini. Sepanjang film kita disuguhi atmosfir suram dengan cuaca yang nyaris selalu mendung. Satu hal lagi adalah pecapaian setting. Sudah hal umum dalam genrenya, sebuah rumah atau gudang tua yang dihantui. Namun, pada segmen kisah pertama yang berlokasi di bekas RS jiwa, entah mengapa bisa disajikan berbeda dari film horor kebanyakan. Juga, segmen ketiga yang berlokasi di sebuah rumah modern. Trik horornya sudah umum, namun bisa disajikan begitu mengerikan dan mengejutkan.

     Dengan dukungan atmosfir kelam dan setting-nya yang menawan, Ghost Stories menampilkan tiga kisah horor dengan satu plot twist mengejutkan yang dikemas unik, walau kisah serta trik horornya hanya merangkai formula familiar. Satu hal yang menjadi pertanyaan besar adalah pesan filmnya yang agak rancu. Tujuan seolah jelas mengarah pada “rasa bersalah” yang berimbas secara psikologis pada mental seseorang berupa trauma. Hal ini dipertegas dengan masing-masing episode yang intinya semua tokoh hanya memikirkan diri sendiri tanpa melihat akibatnya bagi orang-orang terdekat. Namun, kejutan di akhir membuyarkan semuanya. Mungkin poin film ini sederhana. Kadang apa yang kita lihat bukan seperti apa yang kita pikirkan, namun selalu ada penjelasan di balik semuanya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaAssalamualaikum Calon Imam
Artikel BerikutnyaSajen
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.