Ghost Writer adalah film horor komedi arahan Bene Dion. Film ini menjadi debut Bene Dion sebagai sutradara yang sebelumnya juga menulis naskah Warkop DKI Reborn bersama Anggi Umbara. Sementara sineas muda Ernest Prakasa duduk di kursi produser. Film ini dibintangi oleh Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Endy Arfian, Ernest Prakasa, Deva Mahendra, dan Asmara Abigail. Film ini rilis bersamaan dengan 4 film Indonesia lainnya pada liburan lebaran kali ini. Apakah Ghost Writer mampu bersaing?

Bercerita tentang Naya (Tatjana Saphira), seorang gadis muda seorang penulis novel. Naya dan adiknya, Darto (Endy Arfian), pindah ke sebuah rumah tua di seputar Jakarta. Suatu hari, ia menemukan sebuah buku di loteng rumahnya yakni sebuah diary milik penghuni sebelumnya. Tak disangka-sangka, muncul pemilik diary tersebut yang ternyata seorang hantu bernama Galih (Ge Pamungkas). Naya yang membutuhkan ide untuk novel barunya, meminta izin Galih untuk menuliskan cerita hidupnya ke dalam sebuah novel.

Ghost writer sendiri adalah istilah untuk seorang penulis bayaran yang namanya tidak tercantum dalam sebuah karya cetak. Dalam film ini, uniknya yang menjadi seorang ghost writer adalah hantu benaran. Ide yang menarik ketika secara harafiah mengartikan judul film ke dalam kisahnya.

Seperempat awal film, dibuka dengan nuansa horor ketika pertama kali Naya dan adiknya pindah ke rumah tua. Setting-nya memang sungguh mendukung nuansa mencekam segmen horornya. Hanya saja, tak ada kejutan berarti dari trik horornya dan terlalu mudah diantisipasi penonton. Beberapa momen jump scare juga terkesan kaku dan terlihat tidak natural. Amat disayangkan rumah sebesar ini, tidak dieksplorasi lebih jauh karena separuh durasinya berlatar di sini.

Dalam perkembangan, sisi komedi terlihat lebih dominan sejak kehadiran sosok Galih. Sosok sang hantu  lebih ditampilkan lucu ketimbang menakutkan. Sayangnya, make-up-nya seringkali tidak konsisten. Sang hantu di-make-up dengan body painting putih yang tidak merata hingga lehernya masih terlihat abu-abu. Di bagian punggung tangan terlihat sering kali berubah warna, kadang terlihat putih, kadang terlihat abu-abu (seperti warna cat putihnya luntur).

Baca Juga  Menebus Impian, Mencari Makna Kebahagian

Sisipan drama keluarga menjadi alasan mengapa film ini rela tayang semasa liburan lebaran. Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya cukup menyentuh, namun sayangnya tidak mampu dimaksimalkan oleh para pemerannya. Menggandeng aktor-aktris papan atas serta beberapa pemain reguler Ernest, nyatanya tak membuat maksimal dalam segi akting. Chemistry antar tokohnya sama sekali tidak mengena. Misal saja hubungan Naya dan Vino yang terlihat seperti teman ketimbang kekasih. Sosok Galih yang menjadi kunci, meski momen komedi mampu ia bawakan dengan baik, namun lain halnya dengan momen drama yang masih terlihat memaksakan secara ekspresi dan pembawaan. Hal ini menjadikan penonton tak bisa berempati kepada para karakternya. Momen haru pun tidak terasa emosional. Beberapa pengadeganan yang bersifat komedi pun dirasa cukup garing. Tiap kali kehadiran Vino yang tengah “berakting” terasa terlalu repetitif dan sedikit membuat kesal, apa sih nggak penting!

Menonton Ghost Writer bisa menjadi salah satu pilihan pada liburan lebaran kali ini. Dengan tema keluarga di dalam kisahnya, menjadikan film ini masih satu tema dengan film-film arahan Ernest Prakasa sebelumnya. Ide menarik tentang ghost writer dengan sisipan komedi serta horor yang dikemas dalam film ini tentu menjadi hiburan tersendiri, meski masih banyak kekurangannya. Dengan pengemasan cerita dan filmnya yang tidak istimewa, rasanya sulit untuk menarik perhatian penonton dibandingkan 4 film liburan lainnya. Menarik untuk disimak, Hit & Run, Single 2, Kuntilanak 2, Si Doel the Movie 2, serta Ghost Writer, mana yang lebih laris?

PENILAIAN KAMI
Overall
45 %
Artikel SebelumnyaKuntilanak 2
Artikel BerikutnyaDark Phoenix
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil hobi menonton film dan menulis. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya rubrik film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Ia juga salah satu penyusun dan penulis buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018. Kini, ia menjabat sebagai Asisten Divisi Website untuk periode 2019-2020.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.