Satu lagi, aksi komedi spionase dirilis dengan tidak tanggung-tanggung dibintangi Chris Evans dan Ana De Armas, dua nama yang tengah naik daun. Ghosted diarahkan oleh Dexter Flecther dengan Evans juga menjadi salah seorang produsernya. Film berdurasi 116 menit ini dirilis oleh Apple TV+ tanggal 21 April kemarin. Genre aksi-komedi spionase bukanlah satu persilangan genre yang mampu menghasilkan film-film istimewa. Ghosted pun bernasib sama, hanya mengandalkan pesona dua bintang utamanya.

Cole (Evans) adalah seorang pria tampan yang selalu gagal dalam kehidupan asmaranya. Dalam sebuah bazar, ia bertemu dengan seorang gadis muda cantik bernama Sadie (Armas). Mereka pun terlibat dalam kisah cinta semalam, yang rupanya tidak bisa dilupakan Cole. Sadie mendadak menghilang dan tidak pernah membalas chat Cole. Ini membuat Cole gelisah bukan kepalang. Bermodal GPS pada inhaler-nya yang tertinggal di tas Sadie, ia melacaknya hingga ke London. Di titik lokasi GPS, Cole malah justru diculik sekawanan misterius yang mengiranya seorang agen bernama Taxman. Ketika nyawanya diujung tanduk, tebak siapa yang muncul? Sadie yang lengkap dengan senapan mesin yang menghabisi semua para penculik Cole.

Ringkasan plot diatas seluruhnya tersaji dalam trailer-nya. Bagi penikmat film sejati, trailer-nya sudah cukup untuk membaca keseluruhan plot filmnya. Tak ada lagi kejutan, selain hanya aksi-aksi heboh penuh ledakan serta dua tokoh utama kita saling beradu mulut dalam banyak adegannya. Selain ini, tidak ada yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Satu problem terbesar adalah plotnya memang tidak pernah serius (baca: tak masuk akal) dalam menuturkan kisahnya. Gegap gempita aksi dan ledakannya yang seringkali berlebihan, tidak pernah memberi ancaman berarti bagi dua protagonisnya. Alhasil, tidak ada pertaruhan sama sekali yang mampu membuat ancaman yang sanggup melibatkan penonton di dalamnya. Kita pun tidak pernah merasakan sisi ketegangan yang diharapkan selain hanya bermodal chemistry Cole dan Sadie. Tidak ada masalah untuk Armas untuk peran yang kini menjadi tipikalnya, setelah Bond dan The Gray Man. Namun peran Cole untuk Evans rasanya kurang pas. Evans terlalu “cowok” untuk perannya sebagai petani desa yang mabuk kepayang.

Baca Juga  A Man Called Otto

Entah aksi, komedi, roman, atau naskahnya yang menggelikan, Ghosted tidak pernah cukup untuk membuat sebuah tontonan yang meyakinkan untuk bisa bersimpati dengan dua tokoh dan kisahnya. Satu hal yang mencuri perhatian justru munculnya beberapa cameo bintang-bintang besar yang hanya muncul sekilas dan teramat konyol dalam beberapa momennya. Beberapa di antara mereka adalah rekan-rekan Evans sendiri dalam Marvel Cinematic Universe. Sisanya, hanyalah chemistry memikat antara Armas dan Evans yang selalu ditunggu dalam tiap adegannya. Jika  saja, naskahnya dibuat sedikit lebih serius, rasanya filmnya akan berbeda.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaShort: Kasat Mata
Artikel BerikutnyaThe Mandalorian Series, Ketika Seri Lebih Besar dari Feature
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses