Godzilla: King of the Monsters (2019)
132 min|Action, Adventure, Fantasy|31 May 2019
6.0Rating: 6.0 / 10 from 210,016 usersMetascore: 48
The crypto-zoological agency Monarch faces off against a battery of god-sized monsters, including the mighty Godzilla, who collides with Mothra, Rodan, and his ultimate nemesis, the three-headed King Ghidorah.

Godzilla: King of the Monsters alias Godzilla 2 merupakan sekuel dari Godzilla (2014) yang juga seri ketiga dari semesta sinematik, MonsterVerse setelah Kong: Skull Island (2017). Film ini diarahkan oleh Michael Dougherty dengan bujet produksi sebesar US$ 200 juta bersama Legendary Pictures. Film ini dibintangi beberapa pemain seri pertamanya, yakni Ken Watanabe, Sally Hawkins, David Strathairn dengan beberapa pemain baru, yakni Vera Farmiga, Kyle Chandler, Bradley Whitford, Charles Dance, hingga aktris Tiongkok, Zhang Ziyi. Mengekor tren universe yang kini tengah panas-panasnya, seri monster raksasa ini juga masih bakal berlanjut dengan film seri keempatnya, Godzilla vs Kong yang rilis tahun depan. Namun, apakah film ini mampu mengekor kualitas seri pertamanya yang begitu superior?

Lima tahun sejak peristiwa bencana besar dalam film pertama. Monarch, satu lembaga yang memantau para monster raksasa, ternyata telah sejak lama mengetahui keberadaan mereka di berbagai lokasi di bumi. Monarch menjaga dengan keamanan maksimum untuk mengantisipasi agar mereka tidak bangun dari tidur panjangnya dan keluar dari sana. Sementara satu kelompok anarkis yang dimotori tentara bayaran, Alan Jonah justru ingin melepas para monster tersebut dengan tujuan untuk mengembalikan keseimbangan alam. Dengan bantuan Emma Russel, seorang ilmuwan Monarch, satu persatu monster raksasa pun lepas. Godzilla pun kembali bangun untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.

Ibarat John Wick 3 yang baru saja rilis beberapa waktu lalu, alur plot Godzilla 2 pun tak jauh berbeda dengan mengedepankan aksi pertarungan maha hebat tanpa henti. Plotnya bergerak dengan tempo sangat cepat, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, hanya untuk mengejar satu monster demi monster lainnya. Satu aksi pertarungan hebat pun berganti dengan satu aksi pertarungan hebat lainnya, tanpa lelah, tanpa konflik drama berarti, dan terlalu mudah kita antisipasi kisahnya. Semua dalam film ini adalah tentang para monster dan aksi pertunjukan besar mereka. Tak ada lain!

Baca Juga  The Last Stop in Yuma County

Berbeda dengan seri pertamanya Godzilla, sang sineas Gareth Edwards mampu memberatkan cerita pada sosok manusianya dan tidak pada monsternya, dan ini yang membuat kita mampu berempati penuh dengan tokoh-tokohnya. Dalam film sekuelnya ini, kita nyaris tak bisa masuk dalam karakter mana pun karena fokus cerita memang bukan ke mereka. Apakah ini sebuah pencapaian yang buruk? Jelas tidak bagi penonton yang mencari aksi para monster semata, namun bagi saya, menonton film ini terasa sangat melelahkan, mata dan batin. Unsur humor pun sesekali disisipkan tapi apalah artinya karena kisah filmnya memang terlalu serius.

Dari sisi pencapaian visualnya (CGI), ketimbang Godzilla, film sekuelnya ini memang jauh lebih mengesankan. Monster-monster kaiju ikonik, macam Gidhorah, Rodan, dan Mothra mampu divisualisasikan dengan begitu nyata melalui sosok raksasa bak dewa yang amat mengerikan. Ditambah suasana atmosfir yang kelam menjadikan situasi pertarungan antar monster menjadi terasa mencekam. Satu shot berkesan diperlihatkan ketika sang monster naga berkepala tiga (Ghidorah) berdiri kokoh dibelakangnya di atas gunung berapi dengan latar depan sebuah simbol “cross” yang memperlihatkan sosoknya bak dewa yang menjadi pemimpin para monster. Dari sisi visual dan aksinya memang jauh dari mengecewakan.

Dengan pencapaian visual mengesankan, Godzilla: King of the Monsters adalah sebuah pertunjukan besar para monster raksasa dengan mengesampingkan unsur drama serta sisi manusiawi yang menjadikan seri pertamanya begitu istimewa. Godzilla (2014) memang adalah sebuah pencapaian langka, baik secara teknis, tema, maupun cerita. Dengan talentanya, sang sineas (Gareth Edwards) membungkus tiap adegannya melalui sentuhan estetiknya yang unik dengan sudut pembatasan gambar maupun cerita yang selalu mengusik rasa penasaran penonton. Film sekuelnya kini, hanyalah sebuah formalitas box office belaka, tanpa menawarkan sesuatu yang unik dan baru.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSi Doel the Movie 2
Artikel BerikutnyaMiss & Mrs. Cops
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.