Godzilla: King of the Monsters (2019)
131 min|Action, Adventure, Fantasy, Sci-Fi|31 May 2019
8.3Rating: 8.3 / 10 from 185 usersMetascore: 50
The crypto-zoological agency Monarch faces off against a battery of god-sized monsters, including the mighty Godzilla, who collides with Mothra, Rodan, and his ultimate nemesis, the three-headed King Ghidorah.

Godzilla: King of the Monsters alias Godzilla 2 merupakan sekuel dari Godzilla (2014) yang juga seri ketiga dari semesta sinematik, MonsterVerse setelah Kong: Skull Island (2017). Film ini diarahkan oleh Michael Dougherty dengan bujet produksi sebesar US$ 200 juta bersama Legendary Pictures. Film ini dibintangi beberapa pemain seri pertamanya, yakni Ken Watanabe, Sally Hawkins, David Strathairn dengan beberapa pemain baru, yakni Vera Farmiga, Kyle Chandler, Bradley Whitford, Charles Dance, hingga aktris Tiongkok, Zhang Ziyi. Mengekor tren universe yang kini tengah panas-panasnya, seri monster raksasa ini juga masih bakal berlanjut dengan film seri keempatnya, Godzilla vs Kong yang rilis tahun depan. Namun, apakah film ini mampu mengekor kualitas seri pertamanya yang begitu superior?

Lima tahun sejak peristiwa bencana besar dalam film pertama. Monarch, satu lembaga yang memantau para monster raksasa, ternyata telah sejak lama mengetahui keberadaan mereka di berbagai lokasi di bumi. Monarch menjaga dengan keamanan maksimum untuk mengantisipasi agar mereka tidak bangun dari tidur panjangnya dan keluar dari sana. Sementara satu kelompok anarkis yang dimotori tentara bayaran, Alan Jonah justru ingin melepas para monster tersebut dengan tujuan untuk mengembalikan keseimbangan alam. Dengan bantuan Emma Russel, seorang ilmuwan Monarch, satu persatu monster raksasa pun lepas. Godzilla pun kembali bangun untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.

Ibarat John Wick 3 yang baru saja rilis beberapa waktu lalu, alur plot Godzilla 2 pun tak jauh berbeda dengan mengedepankan aksi pertarungan maha hebat tanpa henti. Plotnya bergerak dengan tempo sangat cepat, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, hanya untuk mengejar satu monster demi monster lainnya. Satu aksi pertarungan hebat pun berganti dengan satu aksi pertarungan hebat lainnya, tanpa lelah, tanpa konflik drama berarti, dan terlalu mudah kita antisipasi kisahnya. Semua dalam film ini adalah tentang para monster dan aksi pertunjukan besar mereka. Tak ada lain!

Baca Juga  Wrath of The Titans

Berbeda dengan seri pertamanya Godzilla, sang sineas Gareth Edwards mampu memberatkan cerita pada sosok manusianya dan tidak pada monsternya, dan ini yang membuat kita mampu berempati penuh dengan tokoh-tokohnya. Dalam film sekuelnya ini, kita nyaris tak bisa masuk dalam karakter mana pun karena fokus cerita memang bukan ke mereka. Apakah ini sebuah pencapaian yang buruk? Jelas tidak bagi penonton yang mencari aksi para monster semata, namun bagi saya, menonton film ini terasa sangat melelahkan, mata dan batin. Unsur humor pun sesekali disisipkan tapi apalah artinya karena kisah filmnya memang terlalu serius.

Dari sisi pencapaian visualnya (CGI), ketimbang Godzilla, film sekuelnya ini memang jauh lebih mengesankan. Monster-monster kaiju ikonik, macam Gidhorah, Rodan, dan Mothra mampu divisualisasikan dengan begitu nyata melalui sosok raksasa bak dewa yang amat mengerikan. Ditambah suasana atmosfir yang kelam menjadikan situasi pertarungan antar monster menjadi terasa mencekam. Satu shot berkesan diperlihatkan ketika sang monster naga berkepala tiga (Ghidorah) berdiri kokoh dibelakangnya di atas gunung berapi dengan latar depan sebuah simbol “cross” yang memperlihatkan sosoknya bak dewa yang menjadi pemimpin para monster. Dari sisi visual dan aksinya memang jauh dari mengecewakan.

Dengan pencapaian visual mengesankan, Godzilla: King of the Monsters adalah sebuah pertunjukan besar para monster raksasa dengan mengesampingkan unsur drama serta sisi manusiawi yang menjadikan seri pertamanya begitu istimewa. Godzilla (2014) memang adalah sebuah pencapaian langka, baik secara teknis, tema, maupun cerita. Dengan talentanya, sang sineas (Gareth Edwards) membungkus tiap adegannya melalui sentuhan estetiknya yang unik dengan sudut pembatasan gambar maupun cerita yang selalu mengusik rasa penasaran penonton. Film sekuelnya kini, hanyalah sebuah formalitas box office belaka, tanpa menawarkan sesuatu yang unik dan baru.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaNew Trailers: Update
Artikel BerikutnyaMiss & Mrs. Cops
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.