Setelah penantian panjang, akhirnya Godzilla Minus One tayang secara tak terduga di platform Netflix. Film ini menjadi topik hangat bagi para pengamat film di dunia serta raihan Piala Oscar untuk visual efek terbaik dalam ajang Academy Awards baru lalu. Film bergenre kaiju produksi Jepang ini diarahkan oleh Takashi Yamazaki dengan sederetan bintang-bintang ternama, sebut saja Ryunosuke Kamiki, Minami Hamabe, Yuki Yamada, Munetaka Aoki, Hidetaka Yoshioka, Sakura Ando, dan Kuranosuke Sasaki. Apakah film ini memang seheboh yang diberitakan?

Kisah filmnya dibuka pada momen menjelang berakhirnya PD II di satu wilayah Jepang. Kōichi Shikishima (Kamiki) adalah seorang pilot yang seharusnya melaksanakan misi kamikaze, namun ia justru mendarat di pangkalan Pulau Odo. Belum lepas rasa bersalahnya, mendadak pulau tersebut dihampiri monster Godzilla dan menewaskan semua orang di sana, kecuali Kōichi dan seorang kepala mekanik. Kōichi akhirnya pulang ke kampung halamannya, mendapati kota Tokyo telah luluh lantak akibat serangan sekutu. Ayah dan ibunya tewas, ia pun terpaksa menampung seorang gadis muda, Noriko (Hamabe) dan seorang balita, Akiko di rumahnya. Selama beberapa tahun, mereka tinggal bersama, menempuh suka duka menghadapi masa-masa sulit, tidak hingga sang monster datang. Kōichi pun dipaksa kembali untuk menghadapi masa lalunya yang penuh dengan trauma.

Kisah filmnya banyak dipengaruhi kisah Godzilla klasik dan memiliki kemiripan dengan Shin Godzilla (2016). Sosok monster raksasa ini tidak digambarkan sebagai sesosok dewa penolong, namun adalah monster penghancur yang menewaskan puluhan ribu warga dan memporakporandakan kota dengan brutal. Dalam Shin Godzilla, plotnya menyajikan meeting demi meeting para petinggi dan pihak otoritas untuk mengantisipasi sang monster agar tidak merusak kota lebih jauh. Kini, Minus One lebih terfokus pada sosok protagonis kita, Kōichi. Melalui sosok ini, kisahnya berkembang lebih dalam ke trauma psikologis, relasinya dengan Noriko dan Akiko, persahabatan dengan tiga rekan kerjanya, serte tentu saja sang kaiju. Uniknya, kali ini sang monster hanya berperan sebagai katalis sebagai pemicu konflik internal yang dihadapi sang protagonis. Ketimbang Shin Godzilla, kisahnya memang jauh lebih manusiawi dan menyentuh.

Baca Juga  Tomb Raider

godzilla minus one

Kisah humanis didukung pula pencapaian visual yang menawan dan terlihat natural. Sosok Godzilla kini banyak diperlihatkan secara dekat melalui perspektif manusia dan jarang melalui shot jauh. Shot dekat berupa hentakan kaki raksasa yang berjalan bersama ratusan warga yang berlarian sering kali digunakan. Sosok sang monster terlihat lebih gigantik dan mengintimidasi. Satu segmen aksi ketika Godzilla mengejar satu kapal boat yang memberondongnya dengan senapan mesin terlihat begitu meyakinkan. Satu shot yang demikian mencengangkan adalah ketika sang monster mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk menghancurkan Kota Ginza. Melalui POV shot Kōichi, memperlihatkan satu shot brilian dengan Godzilla yang menjadi latar depan dengan ledakan “bom atom” di latar belakangnya. Sang monster sejatinya adalah representasi dari salah satu senjata “terburuk” yang pernah diciptakan manusia. Bagi saya, ini adalah shot terbaik dari semua seri Godzilla yang pernah ada.

Godzilla Minus One mengembalikan kisah orisinal sang monster dengan kisah lebih manusiawi serta kedalaman tema yang menyentuh melalui pencapaian visual yang memukau. Siapa menyangka, Minus One boleh dianggap sebagai film Godzilla terbaik yang pernah ada. Godzilla (2016) garapan Gareth Edwards yang selama ini menjadi favorit saya, berada di kubu yang berbeda melalui mitos sang monster sebagai penyeimbang alam (bumi). Keduanya memiliki kekuatan temanya tersendiri dan poin besarnya adalah bukan pada sosok sang monster, namun adalah manusianya. Keduanya mampu membuktikan jika film box-office mampu berbicara lebih dari sekadar hiburan. Sosok Godzilla mampu digambarkan secara brilian melalui ragam multitafsir dari trauma mental, politik, perang, lingkungan, hingga harmonisasi alam. Dua film ini jelas berbeda kutub dengan seri Godzilla (& Kong) yang baru saja rilis.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
90 %
Artikel SebelumnyaX-Men ‘97
Artikel BerikutnyaMonkey Man
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses