Siapa yang tak ingin menonton film horor yang diinspirasi dari salah satu tempat terangker dan terseram di dunia, versi channel berita CNN World. Konon, Gonjiam Psychiatric Hospital adalah satu dari 7 lokasi terangker di dunia. Bangunan ini merupakan bekas rumah sakit jiwa di Korea Selatan yang kini sudah terbengkalai dalam waktu yang lama. Telah banyak warga sekitar yang melihat berbagai keanehan bahkan penampakan dari lokasi tersebut. Mendengar kisah dan rumor yang menyelimutinya saja, sudah membuat bulu kuduk berdiri sebelum kita menonton filmnya. Rumor inilah yang sebenarnya menjadi kunci dari sukses filmnya. Gonjiam: Haunted Asylum, menjadi film horor terlaris kedua di Korsel setelah film horor fenomenal A Tale of Two Sister (2003). Film ini diproduksi dengan bujet sekitar 2 Juta USD dan mampu meraih pendapatan kotor hampir 10 kali lipatnya. Sang sineas, Beom-sik Jeong sendiri memang populer dengan film garapannya yang bergenre horor, seperti Epitaph (2007), Horror Stories (2012), dan Horror Stories 2 (2013).

     Film ini bercerita tentang 7 orang pemuda dan pemudi yang mengikuti sebuah program acara bernama “Horror Time” yang mengunjungi tempat-tempat angker di Korsel. Kali ini, mereka mengunjungi bangunan bekas rumah sakit jiwa Gonjiam yang berada di atas bukit Gwangju, provinsi Gyonggi-do, Korea Selatan. Tak tanggung-tanggung, acara uji nyali ini akan disiarkan live streamin di sebuah media sosial, tentu untuk meraih viewer yang besar. Setelah mereka masuk pada tengah malamnya, banyak kejadian aneh yang menimpa mereka, yang tak mampu mereka jelaskan dan merubah perjalanan mereka.

     Film ini mampu membangun tone yang amat mencekam hampir sepanjang filmnya. Intensitas dramatik filmnya dibangun dari beberapa adegan awal yang menggambarkan background ceritanya. Teknik montage yang berisi sejarah rumah sakit jiwa Gonjiam, mampu membawa penonton terbawa masuk dalam misteri bangunan tersebut. Sang sineas juga mampu membangun unsur misteri di tahap ini dengan tak tergesa menampakkan sosok hantu.

     Unsur misteri terus terjaga ketika para pemain mulai masuk ke dalam bangunan tersebut. Secara sederhana, sang sineas membangun plotnya mengunakan pola struktur bangunan tersebut yang terdiri dari 4 lantai. Mereka memulainya dari lantai 2, 3, dan 4, menyusuri beberapa titik yang disinyalir banyak terjadi penampakan, dan klimaksnya adalah lantai 4, di kamar 402, yang konon tak pernah terbuka dan kabarnya paling angker. Pengenalan titik lokasi, seperti ruang direktur, kamar mandi, laboratorium, dan lainnya, mampu membawa kita sebagai penonton menjadi semakin penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu momen, ketika salah satu dari mereka memasukkan tangan ke dalam kotak di ruang perawatan, tercatat menjadi salah satu adegan seram pada pertengahan cerita yang membuat kita menahan nafas untuk beberapa saat.

Baca Juga  Blade of the Immortal

     Walaupun demikian, intensitas misteri ketegangan menjadi berkurang pada separuh akhir cerita, di saat teror datang bertubi-tubi menimpa setiap dari mereka. Tempo film yang semakin cepat juga membuat penonton kurang menikmati babak akhir. Jika saja konsisten untuk tidak memberilan teror yang berlebihan seperti di awal film, rasanya akan mendapatkan klimaks yang kuat. Contoh saja, adegan horor di kamar 402 yang menjadi puncak klimaksnya, terasa kurang begitu greget.

     Kekuatannya sendiri terletak pada kemasan teknis filmnya yang terlihat sangat realistik. Setting lokasi dan properti menjadi kunci keberhasilan filmnya. Sang sineas mampu membuat setting rumah sakit yang terbengkalai dengan sangat meyakinkan dan mampu mendukung cerita dengan mengeksplor ruang demi ruang. Sepanjang film bisa jadi kita tak akan lupa, lorong demi lorong yang mereka lalui, karena kuatnya visualisasi tersebut. Pengambilan gambar dengan gaya dokumenter, yakni handheld kamera dan found footage ini sangat mendukung unsur ketegangan dan kejutan di setiap frame yang tergambar di filmnya. Film ini tentu banyak mengingatkan kita pada The Blair Witch Project (1999) yang plotnya mirip dengan kemasan yang sama. Walaupun pendekatan estetik Gonjiam tak lagi fresh, namun film ini mampu mengemasnya dengan atmosfer dan nuansa lokal yang amat menakutkan.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaFilm Stars Don’t Die in Liverpool, Antara Masa Lalu, Masa Kini, serta Editing Nonlinier
Artikel BerikutnyaTully
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini