Green Zone (2010)
115 min|Action, Drama, Thriller|12 Mar 2010
6.8Rating: 6.8 / 10 from 142,929 usersMetascore: 63
Discovering covert and faulty intelligence causes a U.S. Army officer to go rogue as he hunts for Weapons of Mass Destruction in an unstable region.

Green Zone merupakan film aksi-thriller garapan sineas papan atas, Paul Greengrass. Film ini diinspirasi dari buku Imperial Life in the Emerald City karya seorang jurnalis Rajiv Chandrasekaran yang konon ia tulis langsung di zona hijau di Baghdad. Greengrass sebelumnya sukses dengan film-film aksi berkualitas macam Bourne Supremacy, Bourne Ultimatum, serta film dokudrama, United 93. Ini merupakan kolaborasi kali ketiga antara sang sineas dengan aktor Matt Damon dengan didampingi Greg Kinnear, dan Amy Ryan.

Alkisah cerita filmnya dimulai beberapa minggu setelah pasukan sekutu menginvasi Irak. Roy Miller (Damon) dan timnya mendapat tugas untuk mencari senjata pemusnah masal berdasarkan info dari intel mereka. Dalam pencarian di tiga lokasi, Miller dan timnya selalu pulang dengan tangan hampa. Miller menganggap intel memberikan informasi yang salah namun semua dibantah oleh atasannya. Suatu ketika Miller tengah melakukan pencarian di sebuah lokasi, ia mendapat info dari seorang penduduk lokal bernama Freddy, bahwa di sebuah tempat tengah berlangsung pertemuan rahasia petinggi Irak. Miller yang menyergap lokasi tersebut kaget karena tanpa diduga pertemuan tersebut dihadiri jendral tangan kanan Saddam, Al-Rawi. Selanjutnya Miller dibantu Freddy berusaha terus membongkar konspirasi tingkat tinggi serta keterkaitan Al-Rawi dengan senjata pemusnah masal yang menjadi sebab musabab sekutu menyerang Irak.

Baca Juga  Twilight, Kisah Cinta Sejati antara Manusia dan Vampir

Greengrass sebelumnya juga pernah membuat “interpretasi” sejenis, melalui filmnya Bloody Sunday serta United 93. Fakta adalah kunci yang dipegangnya dan Greengrass hanya mencoba menafsirkan awal sebuah peristiwa melalui data-data, buku, dokumen dan sebagainya. Dalam Green Zone, fakta yang ia pegang adalah tidak ditemukannya senjata pemusnah masal di Irak pasca invasi. Greengrass dengan sangat menawan mampu memadukan fakta dengan kisah rekaan (fiksi) menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur dan menegangkan. Filmnya menyajikan bagaimana andil seorang Chief Miller dengan hanya dibantu seorang penduduk lokal membongkar konspirasi yang dilakukan pejabat Washington yang memberikan informasi palsu yang menjadi penyebab utama sekutu melakukan invasi ke Irak.

Dalam filmnya kali ini Greengrass kembali dengan gayanya yang khas yakni, menggunakan teknik handheld kamera serta editing cepat. Untuk memperkuat nuansa “dokumenter” Greengrass juga menyajikan gambar filmnya dengan “flicker” (semut). Teknik-teknik tersebut menjadikan Green Zone layaknya sebuah film dokumenter. Terutama dalam adegan-adegan aksi kamera bergerak lebih cepat dan kasar lalu editing pun semakin cepat. Teknik-teknik diatas juga membuat akting para pemainnya tampak lebih natural.

Tidak diragukan Green Zone pasti menuai banyak kontroversi karena menyerang kebijakan pemerintah Amerika terkait invasi ke Irak. Sungguh-sungguh tidak dapat dipercaya plot bernuansa “anti-Amerika” seperti ini bisa diproduksi oleh Hollywood. Sineas dokumenter ternama, Michael Moore, berkomentar “I can’t believe this film got made. It’s been stupidly marketed as action film. It is the most HONEST film about Iraq War made by Hollywood”. Entahlah konspirasi tersebut benar atau tidak, apapun itu Green Zone adalah sebuah tontonan apik yang sangat menghibur dan bisa dibilang salah satu karya terbaik sang sineas.

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaClash of the Titans
Artikel BerikutnyaOn The Third Cinema
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.