Hancock (2008)
92 min|Action, Fantasy|02 Jul 2008
6.4Rating: 6.4 / 10 from 434,647 usersMetascore: 49
Hancock is a superhero whose ill-considered behavior regularly causes damage in the millions. He changes when the person he saves helps him improve his public image.

Turut meramaikan film-film superhero yang dirilis pada musim panas tahun ini adalah tokoh superhero unik, Hancock. Film ini dibintangi oleh aktor kulit hitam papan atas Hollywood, Will Smith, yang belum lama ini sukses besar dengan I Am Legend. Selain Smith, film yang diarahkan oleh Peter Berg ini juga dibintangi oleh Charlize Theron serta Jason Bateman.

John Hancock (Smith) adalah seorang pria kulit hitam yang memiliki kekuatan super layaknya Superman. Ia mampu terbang secepat kilat, tubuh sekuat baja, serta kekuatan yang berlipat kali kekuatan manusia. Dikisahkan Hancock adalah sosok super yang dibenci warga kota Los Angeles. Ia adalah sosok yang tidak bertanggung jawab, suka minum, berperangai dan berbicara kasar, bertindak semau sendiri tanpa memperdulikan orang lain bahkan anak-anak sekalipun. Hancock memang selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik (menangkap para kriminal) namun harus dibayar dengan kerusakan bangunan serta fasilitas kota yang tidak kecil. Suatu hari Hancock menyelamatkan seorang public relation gagal bernama Ray (Bateman) ketika mobilnya akan tertabrak kereta api. Ray lalu mencoba membantu untuk membangun image Hancock agar ia dicintai warga kota. Walau awalnya berat bagi Hancock namun usaha Ray ternyata berhasil hingga ia akhirnya bisa meraih simpati warga kota. Masalah baru muncul ketika istri Ray, Mary (Theron) ternyata memiliki rahasia besar yang memiliki hubungan dengan masa lalu Hancock.

Salah satu keunikan Hancock adalah karakter sang tokoh super itu sendiri. Belum pernah ada sebelumnya seorang tokoh superhero yang memiliki attitude seperti Hancock. Tokoh superhero umumnya selalu menjadi panutan (terutama anak-anak) namun tidak untuk Hancock. Seperti suatu kali Hancock melempar seorang bocah cilik ke angkasa dan menangkapnya kembali hanya untuk memberinya pelajaran. Namun sayangnya cerita hanya menarik pada separuh cerita awal saja dan selanjutnya hanya merupakan konflik lanjutan yang nyaris “tidak berhubungan” dengan konflik awal. Konflik batin Hancock yang dibangun begitu baik sejak awal sebenarnya sangat menarik untuk digali lebih dalam namun sayang cerita berkembang menjadi konflik pribadi antara Mary dan masa lalunya. Cerita berkembang menjadi layaknya film komedi biasa (mengingatkan pada My Super Ex-Girlfriend). Konflik cerita berkembang begitu konyol hingga satu adegan yang begitu menyentuh ketika Hancock mengambil bola basket di luar pagar pembatas penjara menjadi sia-sia belaka dan potensi akting yang dimiliki Smith pun terbuang percuma.

Baca Juga  Justice League Dark: Apokolips War

Persis seperti plotnya, adegan aksi pun tercatat hanya menarik pada sekuen awal. Adegan-adegan aksi yang menunjukkan polah Hancock yang serampangan mampu disajikan begitu meyakinkan. Seperti adegan ketika Hancock menghentikan mobil sedan yang ditumpangi para kriminal yakni dengan menjebol bagian bawah mobil lalu menghentikan laju mobil dengan kakinya sekaligus merusak permukaan jalan, juga ketika ia membiarkan dirinya tertabrak oleh kereta api, serta juga ketika ia melempar paus ke tengah laut dan mengenai sebuah perahu layar. Pada adegan aksi di pertengahan cerita menjadi tampak konyol ketika Hancock yang kini telah sadar berubah menjadi begitu “lugu”. Seperti ketika ia menolong seorang polwan yang terjebak di tengah ajang tembak menembak, Hancock malah berkata, “Good job… do I have permission to touch your body…(dst)!?. Sungguh konyol dan sosok Hancock justru terlihat bodoh. Adegan perkelahian antara dua sosok super menjelang akhir film juga terlihat lucu karena sepertinya kerusakan kota yang ditimbulkan mereka berdua jauh lebih besar ketimbang yang ditimbulkan Hancock dulu. Sungguh konyol melihat aksi perkelahian begitu seru hanya karena dipicu masalah pribadi.

Hancock sebenarnya memiliki potensi cerita yang cukup untuk digali lebih baik, namun sayangnya tidak dilakukan. Jika kita bandingkan dengan film-film superhero besar pada musim panas ini sejauh ini rasanya Hancock adalah yang terburuk. Namun, nama besar Smith serta sekuen aksi yang menghibur rasanya menjadi jaminan film ini sukses komersil dan bisa jadi akan memicu sekuelnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Incredible Hulk
Artikel BerikutnyaThe Dark Knight
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.