Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010)
146 min|Adventure, Fantasy, Mystery|19 Nov 2010
7.7Rating: 7.7 / 10 from 412,789 usersMetascore: 65
As Harry races against time and evil to destroy the Horcruxes, he uncovers the existence of three most powerful objects in the wizarding world: the Deathly Hallows.

Dalam seri akhir bagian pertama ini, dikisahkan Harry Potter terus diburu oleh Voldermort dan pengikutnya. Harry mendapat perlindungan dari rekan-rekannya, namun tetap saja mereka pontang-panting untuk bisa lepas dari kejaran death eaters. Dalam sebuah momen, Harry bersama Ron dan Hermione terpisah dari rekan-rekan mereka. Mereka bertiga tidak hanya harus lari dan bersembunyi namun juga mencari Hocrux tersisa yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Tidak seperti seri sebelumnya, kisah filmnya kali ini dipecah menjadi dua volume bersumber dari novel seri terakhirnya. Bisa jadi ini yang menyebabkan kisah filmnya kali ini lebih rinci serta lambat temponya. Seperempat awal filmnya seolah menjanjikan sebuah kisah yang sangat seru dan menegangkan namun nyatanya tigaperempat sisanya hanya menyajikan cerita yang cenderung membosankan dengan sedikit aksi. Untuk pertama kalinya pula Harry, Ron, dan Harmione tampil begitu dominan dengan wajah yang selalu murung, gelisah, dan sedih sepanjang filmnya. Sisi emosional tiga tokoh ini lebih banyak ditampilkan yang menunjukkan kematangan akting tiga bintang remaja ini. Fokus cerita memang ada pada tiga karakter ini sementara perkembangan peristiwa, aksi, serta kejadian penting (baca:seru) di tempat lain termasuk Hogwarts sama sekali tidak diperlihatkan. Apa mau dikata jika cerita aslinya memang seperti ini tapi apa memang separuh awal novelnya juga “membosankan” seperti filmnya ini? Entahlah.

Baca Juga  The Foreigner

Tidak seperti seri sebelumnya untuk pertama kalinya Hogwarts tidak ditampilkan dalam filmnya. Memang ganjil rasanya. Keindahan setting studio seperti seri-seri sebelumnya yang menjadi kekuatan seri Harry Potter nyaris tidak tampak sama sekali. Film ini sepertinya justru lebih banyak menggunakan shot on location, di kota London, pantai, hutan, bukit, dan lainnya. Namun begitu David Yates seperti dua seri sebelumnya patut diacungi jempol karena mampu mempertahankan pencapaian estetiknya dari sisi manapun (kecuali plotnya tentu). Yates juga mulai bereksperimen dengan teknik baru seperti “handheld camera” dalam beberapa shot. (“hei kameranya goyang!”, saya sempat berteriak kecil karena kaget). Agak ganjil memang karena sebelumnya kita tidak pernah melihat satu shot pun “goyang” namun rasanya teknik ini cocok dengan perkembangan cerita yang suram serta semakin tak menentu.

Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 memang bukan seri yang terbaik dari seri Potter yang pernah dibuat, namun film ini memang harus ada sebagai “pembuka”. Tidak seperti seri-seri sebelumnya, film ini menampilkan sedikit aksi dan banyak menampilkan sisi emosional, dominan pada tiga tokoh utama, tanpa Hogwarts, lalu banyak hal yang masih tak jelas, serta tanpa resolusi. Hal kebalikannya pasti terdapat pada film finalnya kelak. Para penonton harus bersabar beberapa bulan lagi untuk menikmati akhir dari saga panjang ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaRed, Melihat Aksi Para Aktor Gaek
Artikel BerikutnyaRapunzel (Tangled)
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini