Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009)
153 min|Action, Adventure, Family|15 Jul 2009
7.6Rating: 7.6 / 10 from 598,927 usersMetascore: 78
As Harry Potter begins his sixth year at Hogwarts, he discovers an old book marked as "the property of the Half-Blood Prince" and begins to learn more about Lord Voldemort's dark past.

Harry Potter and The Half Blood Prince merupakan seri keenam dari seri petualangan Harry Potter yang film pertamanya dirilis delapan tahun yang lalu. David Yates yang sebelumnya sukses menggarap Harry Potter and the Order of Phoenix (Seri V) dipercaya kembali duduk di kursi sutradara. Seperti film-film sebelumnya seri keenam ini juga masih dibintangi oleh bintang-bintang remaja, Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, serta aktor-aktris senior seperti Michael Gambon, Alan Rickman, Helena Bonham Carter, serta pendatang baru Jim Broadbent.

Harry, Ron dan Hermione tahun ini memasuki tahun keenamnya di Hogwarts. Semenjak kejadian tahun lalu pihak Hogwarts kali ini lebih bersiaga penuh mengantisipasi serangan dari kekuatan gelap Voldermort dkk. Cerita utama terfokus pada usaha Dumdledore menguak masa lalu Voldermort yang terkait dengan mentor lamanya, Profesor Horace Slughorn. Dumbledore memanfaatkan Harry untuk mendekati sang profesor. Sewaktu mengikuti kelas Slughorn, Harry secara tidak sengaja mendapatkan sebuah buku sihir misterius milik The Half Blood Prince. Harry lalu mempelajari buku tersebut dan menjadi terobsesi olehnya. Di lain pihak, Draco Malfoy dipilih oleh Voldermort untuk melakukan misi rahasia untuk melenyapkan seseorang penting di Hogwarts.

Plotnya seperti tren film-film sebelumnya berkembang menjadi lebih suram dan gelap. Nuansa misteri kali ini begitu kental dengan beberapa kali menampilkan adegan kilas-balik. Adegan aksi semakin minim, namun bumbu komedi makin ditambah. Pertandingan Quiditch yang menjadi trademark seri Potter kini juga muncul kembali walau cuma sesaat. Namun satu hal yang membedakan dengan seri film sebelumnya adalah bumbu roman sejalan dengan tokoh-tokoh utamanya yang memasuki masa puber. Nyaris separuh cerita filmnya berisi unsur roman yang tidak berhubungan langsung dengan plot utama filmnya. Sejak seri keempat bumbu roman mulai terasa walau terkesan masih tempelan namun sedikit lebih serius pada seri kelima. Beberapa karakter pendukung seperti Ginny, Dumbledore, dan Draco kali ini lebih menonjol sementara karakter lain seperti Neville, Luna, serta si kembar Weasley mendapat porsi hanya secuil. Karakter Voldermort malah sama sekali tidak muncul dan hanya ditampilkan dalam kilas-balik.

Ok kita bicara masalah roman. Pada seri keenam kali ini roman tidak hanya terfokus pada Harry namun juga hubungan antara Ron dan Hermione. Fan fanatik Potter (novel) rasanya lebih bisa menikmati ini semua. Di filmnya semua tampak serba cepat dan serba membingungkan. Tidak jelas sejak kapan Harry menyukai Ginny. Kita tahu Ginny menyukai Harry sejak kecil (film kedua) namun hingga film kelima Harry belum menunjukkan ketertarikannya pada Ginny. Si malang Cho yang digilai Harry kini telah terlupakan dan di film ini sang gadis hilang entah kemana. Tidak jelas hubungan Ginny dan Dean di awal film untuk membuat Harry cemburu atau apa? Harry sepertinya juga tidak cemburu ketika Ginny berciuman dengan Dean. Kesan dari cerita filmnya malah tampak seperti Harry didekati Ginny karena sang gadis putus dengan Dean. Satu adegan “sia-sia” ketika Ginny berlari melewati kobaran api untuk mengejar Harry ketika rumah keluarga Weasley diserang. Seolah adegan ini nantinya akan makin mendekatkan Ginny dan Harry namun nyatanya juga tidak. Tidak ada sebuah shot pun menggambarkan hal ini. Lalu bagaimana cinta segitiga Ron, Hermione, dan Lavender Brown? It’s just for the fans, they will enjoy more…

Baca Juga  The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor

Sejak seri kelima adegan aksi makin minim, namun setidaknya ditutup manis dengan pertarungan super seru antara Dumbledore dan Voldermort. Pada seri keenam kali ini sama sekali tidak terdapat adegan aksi yang berarti. Sekuen pembuka yang memukau di awal film juga tak jelas maksudnya. Pada penghujung film, ketika Belatrix dkk menyerbu Hogwarts sepertinya menjanjikan serangkaian pertempuran maha hebat tapi nyatanya tidak. Heran, para penjaga (auror) ke mana ya? Klimaks filmnya ditutup dengan endingyang mengejutkan namun anehnya tidak ada penghormatan khusus untuk tokoh maha penting yang telah muncul sejak seri pertama. Mendiang Cedric saja di seri kelima mendapatkan penghormatan lebih baik di akhir filmnya. Entahlah bisa jadi adegan ini disisakan untuk seri penghabisan kelak. Cerita seri keenam ini masih menyisakan banyak misteri dan tidak mampu berdiri independen seperti lima seri sebelumnya. Film ini cuma sekedar pengantar menuju seri klimaksnya yang kabarnya dipecah menjadi dua film.

Seri film Harry Potter adalah salah satu contoh terbaik bagaimana kekuatan mise-en-scenemampu berbicara banyak dalam sebuah film. Seri Harry Potter bisa dibilang adalah salah satu keajaiban sinema yang mampu membawa kita ke sebuah alam fantasi yang tidak bakal mampu kita bayangkan sebelumnya. Aspek ini juga didukung sempurna oleh pencapaian sinematografinya yang menawan serta tidak ketinggalan ilustrasi musik. Seri keenam ini secara umum masih memiliki kekuatan yang sama. Setting Hogwarts tampak lebih suram dari waktu ke waktu sejalan begitu pas dengan cerita filmnya yang makin suram. Setting plus sinematografi luar biasa menawan tampak ketika kereta api uap yang berpacu ke Hogwarts melewati padang kering gersang yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Bicara kasting, para bintang muda setelah lima seri sebelumnya semakin matang dalam perannya, terutama Emma Watson. Para pemain senior seperti Gambon, Rickman, dan Bonham Carter seperti seri sebelumnya tidak perlu kita ragukan kapabilitasnya. Namun tercatat penampilan aktor gaek, Jim Broadbent sebagai Profesor Sloghorn adalah yang mampu mencuri perhatian.

Ketimbang lima film sebelumnya, seri keenam kali ini boleh dibilang adalah yang paling membosankan. Aksi yang minim, plot misteri yang tak terpecahkan, plus bumbu roman yang tak jelas membuat film berdurasi sekitar 2,5 jam ini terasa sangat melelahkan. Para penonton yang telah membaca novelnya jelas mampu menikmati filmnya lebih baik. Seri keenam kali ini adalah murni untuk mereka. As for me (movie lover)… saya adalah salah satu pengagum seri film Harry Potter terutama karena keindahan visualnya. Semua filmnya bisa saya nikmati secara terpisah (independen) kecuali untuk film keenam ini. Seri keempat dan kelima menurut saya adalah yang terbaik dari sisi aksi maupun kedalaman cerita.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaPublic Enemies
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.