heads of state

Heads of State adalah film aksi komedi yang digarap oleh sineas Ilya Naishuller yang juga menggarap dua film aksi brutal, Hardcore Henry dan Nobody. Film rilisan Prime video ini dibintangi oleh John Cena, Idris Elba, Priyanka Chopra, Jack Quaid, Paddy Considine, Stephen Root, dan Carla Gugino. Akankah film berdurasi 113 menit mampu menyajikan hiburan berkelas?

Satu misi untuk menangkap gembong senjata kelas kakap Viktor Gradov di Spanyol gagal total dan seluruh member gabungan MI:6 dan CIA yang terlibat dalam operasi tersebut dinyatakan tewas/hilang. Presiden AS terpilih, Will Derringer (Cena) berkunjung secara resmi ke Inggris sebelum menghadiri agenda urgen NATO di Trieste, Italia. PM Inggris, Sam Clarke (Elba) adalah seorang politikus sejati yang tidak menyukai latar Will yang seorang aktor laga Hollywood.

Untuk kepentingan publik, akhirnya mereka berdua pergi ke Trieste dengan menggunakan pesawat Air Force One, walau sebelumnya mereka tolak keras. Siapa sangka, Air Force One disusupi suruhan Gradov yang membuat kekacauan besar hingga pesawat pun jatuh. Namun, Sam dan Will di momen genting, bisa keluar dari pesawat bermodal parasut. Satu-satunya harapan dunia, kini hanya bergantung pada dua pemimpin negara tersebut.

Seperti yang diharapkan premisnya, aksi-aksi pun bergerak nonstop tanpa henti dari satu lokasi ke lokasi lainnya mengikuti dua protagonisnya yang diburu pihak musuh. Plotnya tak sulit diantisipasi dan siapa pun tahu dua sosok ini tidak bakal terusik (armor plot). Memang bukan ancaman dan ketegangan yang menjadi poinnya, namun adalah chemistry kedua tokohnya yang saling berlawanan sikap. Tanpa dua bintangnya, Cena dan Elba, tak mungkin chemistry-nya bisa bekerja dengan maksimal. Cena bermain dalam peran regulernya yang memang pas untuknya, tetapi Elba rupanya mampu bermain komedi, sama baiknya dengan peran-peran seriusnya. Karisma keduanya yang menjadi aset terbesar film ini.

Baca Juga  Midway

Walau tak banyak ketegangan dan ancaman yang kita rasakan, namun aksi-aksinya harus diakui sangat menghibur. Adu mulut antara dua protagonisnya dengan latar belakang yang berlawanan menjadikan keduanya begitu mudah dieksplorasi, khususnya sisi humor. Priyanka Chopra sebagai agen perempuan tangguh dan love interest Sam juga hadir di momen yang tepat untuk mengisi celah “koreografi” aksi yang tak mungkin dilakukan Sam & Will. Jack Quaid yang muncul sekilas juga tampil mencuri perhatian dalam satu momen aksinya. Segmen aksi klimaks di jalanan Kota Trieste adalah satu contoh sempurna yang memadukan semua potensi karakternya. Satu kombinasi aksi dan selera humor berkelas dalam banyak momennya. Hanya sayangnya, walau sama-sama aksi komedi, film ini tidak segarang garapan sang sineas sebelumnya, Nobody.

Ringan dan menghibur, Heads of State adalah satu contoh aksi komedi yang berhasil melalui penampilan tiga bintang utamanya. Untuk tontonan streaming ini adalah satu pencapaian yang langka sekalipun ini hanya semata sebagai tontonan hiburan murni yang belakangan sering bermunculan, sebut saja Red Notice, The Man from Toronto, Heart of Stone, Fountain of Youth, Lift, Hitman, serta The Killer. Beberapa di antaranya termasuk Heads of State sesungguhnya layak menjadi tontonan layar lebar. Sebaliknya, beberapa tontonan bioskop sebenarnya lebih layak menjadi tontonan streaming. Dua dekade lalu, tidak ada seorang pun yang akan percaya jika film-film seperti di atas, bakal rilis perdana di layar televisi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Old Guard 2 | REVIEW
Artikel BerikutnyaIronheart | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses