Headshot (2016)

118 min|Action, Drama, Thriller|03 Mar 2017
6.3Rating: 6.3 / 10 from 16,196 usersMetascore: 61
Uwais plays a young man who washes ashore, an amnesiac with a serious head injury whose past comes back to haunt him shortly after being nursed back to health by a young doctor. Violence ensues. Sweet, sweet violence.

Setelah sukses dengan seri The Raid, Iko Uwais semakin populer dan bermain dalam sejumlah film-film produksi barat seperti, Man of Taichi, Star Wars: The Force Awakens sekalipun hanya bermain sekelebat saja, serta Beyond Skyline yang hingga kini belum rilis. Dikabarkan pula Iko akan bermain dengan bintang besar Mark Walhberg dalam Mile 22. Di tengah padatnya produksi luar, Iko masih menyempatkan bermain dalam film aksi lokal berjudul Headshot yang belum lama di-screening di Toronto Film Festival. Headshot digarap oleh Kimo Stamboel and Timo Tjahjanto (Mo Brothers) yang sukses dengan film-film seperti Rumah Dara dan Killers.

Ishmael alias Abdi mendapati dirinya bangun di rumah sakit dan kehilangan ingatannya. Sang dokter Ailin yang telah merawatnya dengan sepenuh hati mencona untuk membantiu pasiennya untuk mengingat asal-usulnya. Masalah mulai muncul ketika beberapa orang yang mengenali Ishmael mulai memburunya hingga akhirnya Ailin pun diculik. Permainan pun dimulai.

Mau tidak mau film ini bakal menderita komparasi dengan The Raid. Mo Brothers ternyata bukanlah Gareth Evans yang piawai memaksimalkan kemampuan pemainnya melalui plot dan ketrampilan sinematiknya. Sejak sebelum menonton kita sudah tahu bahwa film ini bakal tidak memberikan cerita apa-apa selain plot yang memotivasi aksi. Seperti The Raid, plot mengarah ke satu titik namun bedanya hanya masalah tempo. Headshot terlalu banyak mengulur waktu dengan dialog-dialog yang kaku dan artifisial. Belum lagi bicara masalah banyaknya lubang plot yang benar-benar membodohi kita.

Lubang plot dalam The Raid masih bisa ditolerir namun dalam film ini sungguh tak masuk akal. Kita tahu Abdi bakal melawan satu demi satu anak buah hingga bertemu sang bos Lee tapi cara mengolah adegannya sangat buruk sekali. Satu contoh saja pada adegan di kantor polisi ketika para gangster menyerbu masuk. “Coba kamu nyalakan lampu” ujar, Tejo menyuruh sang partner. Suasana ruang saat itu tidak gelap gulita dan relatif masih ada cahaya yang cukup, lalu untuk apa lampu dinyalakan? Ooh.. akhirnya saya paham. Tejo akhirnya melawan Abdi sendirian hingga tewas mengenaskan dalam satu pertarungan brutal sementara selama itu mungkin sang rekan tengah bingung mencari tombol sekering listrik yang jauh di belakang sana. Begitu Tejo tewas dibelakang Abdi telah menanti rekannya untuk berduel kembali dengannya untuk membalas dendam kematian rekannya. Adegan konyol macam ini hampir ada di semua adegan.

Baca Juga  Retrospeksi Film Pendek Montase: The Photographer

Ok sekarang bicara adegan aksi. Saya baru tahu sekarang mengapa The Raid begitu baik menampilkan adegan aksi perkelahian. Kemampuan serta koreografi sang pemain benar-benar dimaksimalkan melalui pergerakan kamera, komposisi, dan editing dan pertarungan demi pertarungan tidak pernah tampak sama sekalipun setting ruangnya nyaris sama. Sementara dalam Headshot pertarungan demi pertarungan secara teknis tampak repetitif dan hanya mengandalkan karakter dan kemampuan musuh yang berbeda. Tak ada tensi “dramatik” dalam perkelahiannya semua tampak sama dan berulang kali pula kita melihat Abdi bertarung, jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Melelahkan sekali.

Seperti seri The Raid, Headshot adalah ajang uji kemampuan sang bintang dalam menggunakan bela diri secara liar dan brutal cuma hanya jauh lebih buruk. Headshot membuktikan jika sineas-sineas kita memang belum mampu menampilkan adegan aksi berkualitas. Film ini dengan pencapaian cerita dan teknis membuktikan betapa tertinggalnya kita dengan negara-negara Asia lainnya untuk genre sejenis. Film-film aksi hebat ada banyak diluar sana dan para pemain kita sudah unjuk kemampuan. Hanya tinggal bagaimana sineas kita mau belajar untuk memaksimalkan segala potensi yang kita miliki. Baik Iko Uwais maupun Yayan Ruhian memiliki talenta istimewa. Apakah kita harus menunggu sutradara top barat untuk mengarahkan mereka?

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaFast and Furious 8
Artikel BerikutnyaKimi no Na wa
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Benar2 tidak sesuai ekspetasi saya… suguhan yg bener2 membuat saya lelah karena plot cerita yg terkesan datar… adegan2 yg di set seperti dalam ketoprak saja. saya brharap, setidaknya seperti menonton Edge of the darkness- nya Mel Gibson.. ?
    Saya setuju dengan penulis.. mungkin talenta aktor2 seperti Iko Uwais perlu di poles sutradara2 handal di luar sana.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.