Bagi penonton yang sudah menonton film Hellboy (2019), boleh jadi kecewa, karena banyaknya potongan gambar aksi-aksi sadis dan brutalnya. Siapa sangka, film superhero reboot ini, tidak seperti dua film aslinya, dipenuhi potongan sensor teramat kasar yang sangat tidak nyaman dilihat. Tentu pihak bioskop tidak ada hubungan dengan ini semua, namun adalah LSF (Lembaga Sensor Film) yang bertanggung jawab atas sensor sebuah film. Menurut berita di banyak media, Pihak LSF sendiri menyatakan bahwa Hellboy sebenarnya telah lulus sensor untuk kategori penonton dewasa 21 tahun ke atas. Namun, pihak pemilik film (produser atau distributor) menginginkan film ini diturunkan ratingnya menjadi 17 tahun ke atas. LSF pun meluluskan permintaan ini, namun dengan catatan atau revisi pada filmnya, dan revisi ini dilakukan sendiri oleh pihak pemilik film. Alhasil, Hellboy direvisi dan bisa kita lihat sendiri hasilnya. LSF pun menyatakan tidak bertanggung jawab dengan potongan-potongan film tersebut jika ada penonton yang terganggu atau protes karena ini di luar ranah mereka. Pemilik film memiliki motif yang jelas mengapa mereka melakukan ini, tentunya agar target penontonnya lebih luas karena pasar penonton Indonesia kini sudah dianggap salah satu yang terbesar di Asia.

Oke, sekarang kita tahu jadi pemilik film yang memotong adegan filmnya sendiri sesuai dengan rekomendasi LSF. Pertanyaannya sekarang, sebegitu bodohkah mereka memotong filmnya secara kasar (merusak film mereka sendiri) tanpa memperhitungkan kenyamanan menonton? Bagi para penikmat film yang sudah menonton, tentu bisa merasakan ketidaknyamanan yang nyaris terlihat sepanjang aksi filmnya. Satu contoh pada adegan awal, ketika sang jagoan bertarung di ring, satu aksi sang jagoan dipotong secara kasar (jump cut) sehingga tampak tiba-tiba tubuh sang lawan sudah tertancap di satu tiang pojok ring. Aksi brutal ketika sang jagoan membanting tubuh sang lawan hingga tertusuk di tiang pojok ring sama sekali tidak diperlihatkan. Dalam aksi lainnya, kurang lebih sama, dan hampir tiap adegan aksi, ada potongan kasar seperti ini. Sangat tidak nyaman sekali. Penonton pun tidak sedikit yang mengumpat dengan nada kecewa ketika saya menonton film ini. Tampak jelas, pihak yang memotong filmnya, mengabaikan sisi estetika filmnya.

Bicara soal potongan sensor jelas sudah tak asing bagi penikmat film. Seingat saya, film-film macam Red Sparrow serta Overlord juga mengalami potongan sensor yang sama walau tak sebanyak Hellboy. Kadang mengherankan, batasan sensornya seperti apa sebenarnya. Ketika saya menonton horor hits kita tahun lalu, Suzzanna, banyak adegan aksi sadis dan brutal yang tidak disensor. Tentu alasannya jelas bukan karena film ini produksi film lokal. Kriteria sensor tentu terikat dengan rating filmnya. Semakin dewasa ratingnya tentu semakin menoleransi aksi sadis, brutal, seks, serta aksi lainnya yang masuk dalam kategori ini. Pertanyaannya tentu lantas mengapa disensor jika ratingnya sudah dewasa, atau dalam kasus Hellboy, untuk apa filmnya dirilis di sini jika memang dipotong demikian brutal? Tentu jawabnya profit. Tapi jika sudah kelewatan seperti ini hingga mengabaikan estetika secara umum, tentu ini adalah tindakan bunuh diri yang tentu merugikan pihak distributor sendiri. Pihak bioskop yang hanya memutar filmnya tentu mendapat dampak paling dini dari potongan ini, walau hanya dalam bentuk protes dari penonton. Omongan dari mulut ke mulut penonton yang kecewa dan pemberitaan di media sosial, bisa jadi bakal memengaruhi jumlah penonton film ini.

Baca Juga  Sosok Hantu dan Ilmu Hitam dalam Film Horor Indonesia

Memang rasanya tak masuk akal, produsen filmnya memotong filmnya begitu kasar hingga mengabaikan estetika di dalamnya. Jika ini terjadi di negara asalnya, pasti film ini sudah habis, baik secara kritik maupun komersial. Apa mungkin dianggap penonton kita bakal mengabaikan estetika? Saya tidak pernah berasumsi sejauh ini, namun jika iya sekalipun mereka tentu salah besar. Saya tak habis pikir soal ini dan kita sebagai penikmat film, tentu tidak ingin hal yang sama terjadi lagi. Kita sebagai penonton (setidaknya saya) merasa tertipu karena tidak bisa menonton filmnya secara nyaman dan utuh. Rasanya LSF juga mulai kini harus mempertimbangkan estetika film yang sekaligus masih dalam koridor sensor mereka. Kita sebagai penikmat film tentu menginginkan film yang utuh tanpa sensor. Kualitas film, jelas di luar konteks LSF, namun potongan sensor yang buruk tentu memengaruhi kualitas filmnya. Bicara soal Hellboy, tanpa potongan yang buruk pun, kebetulan saja filmnya juga berkualitas buruk.

Baca ulasan film Hellboy di sini

Artikel SebelumnyaThe Curse of the Weeping Woman
Artikel BerikutnyaTigertail – English
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.