Hellboy (2019)
120 min|Action, Adventure, Fantasy|12 Apr 2019
5.3Rating: 5.3 / 10 from 98,667 usersMetascore: 31
Caught between the worlds of the supernatural and human, Hellboy battles an ancient sorceress bent on revenge.

Bagi saya, seperti belum terlalu lama, sejak Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), dan kini film reboot-nya dirilis. Sang sineas maestro, Guillermo del Toro yang memberi sentuhan unik pada dua film sebelumnya, kini tak lagi terlibat. Lalu sang bintang sendiri, Ron Perlman yang seolah terlahir untuk peran Hellboy, tak mau lagi terlibat dalam sekuelnya jika del Toro tak ada di dalamnya. Lalu film reboot-nya mau menawarkan apa lagi selain sensasi sosok jagoan dari neraka ini?

Kisahnya jelas sudah tak asing bagi fans Hellboy. Ada penyihir jahat dari masa lalu bernama Nimue, yang bangkit kembali di era modern ini. Nimue berniat menguasai dunia dan setelah melihat sosok Hellboy, sang jagoan ternyata memiliki opsi untuk menjadi raja dunia atau memusnahkan sang penyihir. Tak ada yang istimewa lagi.

Singkat saja untuk resume film ini. Pertama. Semua fans lamanya pasti bakal kehilangan Ron Perlman yang kini sosok sang jagoan diperankan aktor David Harbour. Perlman yang karismatik sulit tergantikan oleh Harbour yang memang dipilih semata karena mirip dengan aktor aslinya, baik gesture, suara, serta fisik. Celotehan sang jagoan pun kini masih ada, namun tak lagi sekonyol dan se-cuek Perlman yang selalu menganggap apa saja seolah tak serius. Bahkan, kata-kata ikonik sang jagoan, “oh crap” kini hilang dalam film ini. Kedua. Kehilangan sang master mise_en_scene sekelas del Toro, tentu film reboot ini kehilangan kekuatan desain produksinya yang tak lagi seunik sebelumnya. Kostum unik yang di dua film sebelumnya terasa dominan kini tak lagi tampak, dan malah tergantikan banyak sosok CGI. Ketiga. Milla Jovovich ternyata lebih keren berperan sebagai antagonis ketimbang Alice di seri Resident Evil. Keempat adalah aspek editing. Editing?

Baca Juga  Dolittle

Masalah terbesar film ini ketika saya menontonnya adalah guntingan sensor. Sangat menganggu sekali. Banyak aksi brutal sejak segmen awal hingga akhir, dipotong sama brutalnya. Baru beberapa menit film dimulai, rasanya saya sudah ingin keluar teater karena saking tidak nyamannya. Tahu begini, saya tak akan bakal menonton. Sepanjang filmnya, studio yang terisi setengah kapasitasnya, dari kanan kiri terdengar makian kasar penonton ketika potongan sensor terjadi. Mengapa ini bisa terjadi? Satu hal yang jelas saya merasa tertipu. Film sebelum ini yang saya tonton, Hotel Mumbai (rating sama) yang jelas jauh lebih brutal (jika memang ada potongan), namun saya tak merasakan ada kejanggalan potongan gambar yang berarti. Mengapa bisa berbeda?

Hellboy tak lagi bisa dibedakan antara potongan sensor atau editing filmnya yang buruk. Mengapa filmnya dirilis di bioskop tanah air jika kelak hanya menjadi korban potongan sensor yang demikian brutal? Lantas apa gunanya pula diberi rating “Dewasa” (D17+)? Seingat saya, rasanya baru kali ini menonton film sedemikian kecewa karena guntingan sensor. Seperti film thriller Overlord (rating Dewasa pula) juga ada beberapa guntingan yang kasar tapi tak sebanyak film ini. Saya hanya ingin menyarankan bagi yang ingin menonton filmnya, lebih baik menunggu versi Home Video-nya. Tak ada poin bukan karena filmnya, namun akibat guntingan sensor yang menghancurkan filmnya. Oh crap!

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaHotel Mumbai
Artikel BerikutnyaCaptive State
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.