Hereditary adalah film horor yang ditulis dan digarap oleh sineas debutan, Ari Aster. Film independen berbujet US$ 10 juta ini dipuji banyak kritikus dan pertama kali diputar dalam ajang Sundance Film Festival di awal tahun ini. Film berdurasi lebih dari 2 jam ini, dibintangi oleh aktor-aktris senior, yakni Tony Collete, Gabriel Byrne, serta dua bintang muda, Alex Wolff Milly Shapiro. Jika kamu penikmat seri The Conjuring, film ini menampilkan gaya horor yang sama sekali berbeda.

Sejak sepeninggal ibunya, Annie, seorang seniman pembuat model miniatur dan keluarganya, mulai mendapati hal-hal aneh di rumah tinggalnya. Annie yang kesehariannya berjarak dengan suami dan kedua anaknya memang memiliki gangguan mental akibat sejarah keluarganya yang berakhir tragis. Sesi terapi tidak banyak membantunya, dan rekan terapinya justru mengenalkannya ke dunia arwah. Sejak momen ini, kejadian semakin memburuk, dan sebuah kekuatan gelap secara perlahan mulai meneror Annie dan keluarganya.

Plot film ini mengawali alur kisahnya dengan amat lambat dan banyak terfokus pada sosok Annie. Sejak awal, sudah terlihat jika ada sesuatu yang aneh dengan sosok sang ibu, juga putrinya. Dengan dukungan nuansa misteri yang kental, penonton digiring secara perlahan dan sabar untuk masuk lebih dalam ke kisahnya. Tak mudah untuk mengikuti plotnya, hampir tiap saat, kita bahkan tak tahu apa yang terjadi. Bukan justru bertambah bingung, namun justru membuat rasa penasaran kita terusik. Banyak hal mungkin penonton bakal lewatkan, namun inti kisahnya pasti tak sulit untuk kita pahami. Ending yang demikian gamblang menjawab semuanya. Judul filmnya sebenarnya sudah memberikan petunjuk ke mana arah cerita filmnya.

Bukan kisahnya yang membuat film horor ini begitu berkesan, namun adalah bagaimana dikemas secara sinematik untuk menyampaikan kisahnya. Tak ada trik kejutan atau jump scare macam film horor masa kini. Tone visual filmnya, banyak mengingatkan pada film horor di era 1980-an, seperti Shinning. Satu hal yang amat unik, melihat komposisi visual “film lawas” di setting cerita masa kini. Ilustrasi musik menjadi satu hal pokok yang menjadi roh filmnya sejak awal. Ilustrasi musik yang mencekam dan mengintimidasi bisa dicapai tanpa efek suara mengagetkan layaknya horor masa kini. Satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah komposisi visual nyaris tiap adegannya yang disajikan mirip model miniatur yang digarap sang ibu. Ada motif? Tentu saja, seolah mereka terlihat seperti miniatur model mainan. Get it? Tak perlu spoiler di sini.

Baca Juga  When We Leave

Walau bukan hal yang baru untuk kisahnya, namun Hereditary merupakan sebuah sajian horor yang amat mengusik dengan kemasan serta gaya sinematik yang brilian. Sang sineas berani menyajikan satu horor dengan cara baru tanpa trik horor masa kini. Para pemain, khususnya Collete bermain ekstra spesial di sini. Tak ada sosok seram di sini, namun dijamin beberapa adegannya bakal menganggu beberapa jam setelah menonton filmnya. Film ini adalah satu pencapaian yang istimewa untuk sineas debutan, Ari Aster. Hereditary adalah satu pencapaian horor langka yang kelak banyak menjadi bahan perbincangan di masa datang.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSicario: Day of the Soldado
Artikel BerikutnyaPierce Brosnan: Tom Hardy Perankan Bond
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini