How to Be Normal and the Oddness of the Other World

Apa sebenarnya definisi manusia normal itu? Bagaimana kembali menjadi bagian dari masyarakat normal setelah lama berkecimpung di Rumah Sakit Jiwa? Upaya Pia yang mengalami masalah gangguan mental untuk kembali ke kehidupan lamanya dikisahkan dalam How to Be Normal and the Oddness of the Other World.

Pada prolog nampak seorang pasien ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) diwawancarai tentang musisi idolanya, Bjork. Jawaban-jawabannya unik meski sebagian juga ganjil. Kamera lalu beralih ke sosok Pia (Luisa-Céline Gaffron) yang melakukan yoga bersama-sama rekannya dan kemudian kembali pulang ke rumah. Awalnya kedua orang tuanya menyambut kehadirannya dengan senang dan bersikap optimis melihat perubahan sikapnya. Demikian juga dengan Pia yang mencoba disiplin dengan rutinitas hariannya, meminum berbagai obat dan mencoba bersikap ‘normal’.

Ayahnya mengajaknya bekerja di kantor miliknya agar bisa segera beradaptasi di lingkungan masyarakat. Ia lalu melakukan pekerjaan administrasi sederhana setelah sebelumnya melakukan wawancara formalitas dengan pertanyaan yang didesain begitu mudah. Semuanya di awal nampak baik-baik saja. Hingga, Pia berjumpa dengan kawan lamanya dan kemudian penasaran dengan kehidupan mantan kekasihnya.

Ketika ia menghadapi prasangka dari kawan lama dan orang-orang di sekelilingnya, ia mulai gelisah. Orang tuanya juga mulai tak sabar dengannya. Namun, gejolak mental paling berat ketika mengetahui mantan kekasihnya sudah punya tambatan hati baru.

Dari segi cerita, naskah yang ditulis oleh Florian Pochlatko yang juga baru menjajal sebagai sutradara film panjang ini terbilang sederhana. Ada begitu banyak film dengan tema gangguan mental dan jiwa. Dua film Joker terakhir, misalnya. Yang bikin film asal Austria ini memikat adalah visualnya yang tak biasa-bisa saja.

Alih-alih menggunakan alur bertutur yang runtut dan narasi yang jelas, Pochlatko mencoba bereksperimen dengan batas yang kabur antara peristiwa yang nyata atau sekadar halusinasi dan delusi dari Pia. Ini ibarat petualangan imajinasi ala Alice in the Wonderland digabungkan dengan hal sehari-hari dari kacamata penyandang ODGJ.

Baca Juga  Film tentang Wabah: Outbreak

Lantas bagian mana yang hanya imajinasi dan halusinasi Pia serta mana yang benar-benar terjadi di dunia nyata? Penonton perlu jeli memerhatikan petunjuk yang disampaikan di adegan berikutnya. Meskipun, kadang-kadang sulit untuk membedakan antara hal yang nyata dan halusinasi belaka.

Selain penggunaan visual yang seperti mimpi dengan gambar kabur dan bergerak cepat oleh kamera Adrian Bidron, kontribusi editor, Julia Drack,  di sini juga banyak. Ada berbagai tampilan grafis dengan sisipan kutipan dan lainnya yang membuat tampilan film ini terasa fresh. Pochlatko juga membubuhkan adegan-adegan bak dalam film science-fiction dan laga. Apakah adegan tersebut bagian nyata dalam kehidupan Pia atau lainnya, penonton akan menemukan jawabannya kelak.

Penggambaran Pia sebagai ODGJ di paruh pertama nampak seperti gadis dewasa pada umumnya. Hanya, selera makannya dan gaya makannya di sini yang agak ‘ugal-ugalan’. Selanjutnya gaya Pia di sini ala-ala Joker seperti versi Joaquin Phoenix, bahkan juga dandanan makeup-nya. Akting Luisa-Céline Gaffron sebagai Pia di sini memang menjadi senjata andalan dalam film. Sayangnya konflik dan dinamika dalam film ini relatif datar sehingga film dengan durasi 90 menit ini terasa panjang dan di bagian tengah terasa membosankan.

Sebagai karya debut Pochlatko, film yang diproduksi oleh Golden Girls Film Production ini patut dipuji dari gaya visualnya yang unik dan terkesan eksperimental. Film ini juga turut dibintangi oleh Elke Winkens, Cornelius Obonya, Harald Krassnitzer, dan Fanny Altenburger.

Film ini tayang perdana di Berlinale pada 16 February 2025. Kemudian tayang perdana di Indonesia sebagai film pembuka pada gelaran Festival Film 100% Manusia yang diadakan Kamis (4/9) di Kedutaan Austria, Jakarta. Film ini direncanakan bakal tayang reguler di bioskop Austria pada 19 September 2025.Kalian bisa saksikan film How to Be Normal and the Oddness of the Other World di Festival Film 100% Manusia 2025  yang diadakan di Jakarta dan Yogyakarta selama 4-14 September 2025.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaAndai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah | REVIEW
Artikel Berikutnya100% MANUSIA FILM FESTIVAL 2025
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses