How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)
104 min|Animation, Action, Adventure|22 Feb 2019
7.4Rating: 7.4 / 10 from 152,002 usersMetascore: 71
When Hiccup discovers Toothless isn't the only Night Fury, he must seek the Hidden World, a secret Dragon Utopia before a hired tyrant named Grimmel finds it first.

Sejak sekuel keduanya yang dirilis tahun 2014, empat tahun kemudian barulah sekuel keduanya dirilis,  How to Train Your Dragon: The Hidden World. Waktu yang cukup lama untuk sebuah seri animasi yang sangat populer. Bayangkan, dua seri sebelumnya secara global telah meraup lebih dari US$ 1 milyar!  Seri ketiga ini masih diarahkan dan ditulis naskahnya oleh Dean Deblois, dengan para bintang pengisi suara regulernya, seperti Jay Baruchel, Craig Fergusan, Jonah Hill, Cate Blanchett, America Ferrerra, Kirsten Wigg, Gerard Butler, hingga kini didukung aktor senior, F. Murray Abraham. Untuk pertama kalinya, film produksi Dreamworks Animation ini didistribusikan oleh Universal Pictures. Beruntung, rilis film ini di Indonesia hampir 1,5 bulan lebih cepat dari rilis di negara asalnya (AS).

Alkisah Hiccup dan naganya, Toothless bersama Astrid dan rekan-rekan mereka, beberapa tahun terakhir berusaha membebaskan para naga dari tangan-tangan manusia jahat yang ingin membinasakan binatang tersebut. Berk, desa tempat tinggal Hiccup, kini penuh sesak dengan naga dan menjadi sasaran empuk para pembunuh naga. Dari cerita dongeng mendiang sang ayah, Hiccup ingin membawa seluruh warga desa dan para naga menuju lokasi tersembunyi di ujung lautan di mana para naga hidup dengan damai tanpa bisa diganggu manusia.

Setelah dua kisah sebelumnya, kini apa lagi tantangan yang harus dilakoni oleh Hiccup dan Toothless? Tak lagi soal Hiccup yang harus menjadi dewasa untuk memimpin warga desanya, namun kini menguji lebih jauh hubungan persahabatannya dengan sang naga. Toothless kini memiliki pasangan, karena tak disangka satu naga Night Fury betina ternyata masih hidup. Kedekatan sang naga hitam ini dengan pasangannya justru menjauhkan hubungan toothless dengan Hiccup. Ini yang menjadi konflik utama. Kisahnya sendiri berjalan tanpa kejutan berarti, namun alur cerita berjalan tanpa terlihat memaksa. Ini memang poin lebih kisah sekuelnya ini. Hanya saja bicara soal kedalaman cerita, seri pertama jelas sangat sulit untuk dilewati karena telah mematok batasan yang sangat tinggi.

Baca Juga  The Out-Laws

Bicara soal visual, rasanya tak jauh berbeda dengan dua seri sebelumnya yang memang memiliki kualitas visual yang amat menakjubkan. Adegan-adegan aksinya disajikan sangat menghibur dengan tensi cerita yang nyaris tanpa jeda. Seperti sebelumnya, segmen aksi-aksi terbang di udara yang amat mengesankan membuat penonton juga bisa merasakan sensasi yang sama. Satu hal kini yang justru terasa kurang menggigit adalah ilustrasi musik, sekalipun digarap komposer yang sama (John Powell). Score-nya berusaha membuat variasi baru dari musik tema yang sama, namun hasilnya, “semangat dan ruh musik” seri sebelumnya sedikit meluntur. Sisi komedi dalam beberapa momen jelas menghibur penonton, khususnya rekan-rekan Hiccup, walau kebanyakan diantaranya tak lagi menggigit.

How to Train Your Dragon: The Hidden World, tak lagi menggigit tetapi masih menghibur dan menampilkan kualitas visual yang sama baiknya dengan sebelumnya, walau kini tak lagi memiliki sisi magis dan kedalaman pesan seperti seri pertamanya. Secara keseluruhan, filmnya masih terasa sebagai sekuel rutin yang mencoba bermain aman. Namun, setidaknya film ini mampu menutup kisahnya dengan sangat manis. Menonton dua film sekuelnya, hanya menegaskan jika film pertamanya terlalu superior dari sisi kisahnya yang mampu membuat sisi manusiawi kita begitu tersentuh hingga tak sadar mata pun telah basah.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaKeluarga Cemara
Artikel Berikutnya76th GOLDEN GLOBE 2019 Winner
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.