https://www.imdb.com/title/tt0892769/

How to Train Your Dragon adalah film animasi fantasi produksi Dreamworks Animation. Naskahnya filmnya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Cressida Cowell. Film berformat 3D ini digarap oleh Chris Sanders dan Dean DeBlois. Film berbujet $165 juta ini diisi suara oleh bintang-bintang seperti Gerard Butler, Jay Baruchel, Craig Ferguson, America Ferrera.

Pada suatu masa di kepulauan Berk terdapat sebuah desa Viking yang setiap-kali diserang oleh hewan-hewan naga. Membantai hewan-hewan tersebut adalah tujuan hidup para pejuang Viking disana. Hiccup (Baruchel) adalah seorang putera kepala suku Stoick the Vast (Butler) yang kurang bisa membanggakan ayahnya karena ia bukan sosok pejuang Viking yang tangguh. Sekalipun berhati baik dan pintar namun ia selalu menjadi bahan olok-olok warga kampung karena polah dan alat temuannya. Suatu ketika Hiccup secara tidak sengaja berhasil menangkap seekor naga, Nigth Fury, yang sangat ditakuti warga kampungnya. Hiccup tidak membunuh hewan tersebut namun ia justru menolongnya. Semakin dekat ia dengan sang naga membuatnya sadar jika hewan ini ternyata tidak seganas seperti apa yang orang-orang katakan.

Satu yang menjadi kelebihan filmnya adalah kisahnya yang unik dan segar. Plotnya bisa dibilang orisinil dengan kedalaman cerita yang mampu menggugah emosi kita. Uniknya tidak seperti film animasi sejenis lazimnya, film ini tidak memiliki karakter antagonis (jahat). Tidak ada sisi baik melawan sisi jahat. Kisah filmnya adalah murni konflik batin Hiccup serta bagaimana ia menghadapi tekanan lingkungannya. Hubungan Hiccup dengan Toothless terbangun dengan manis sedikit demi sedikit hingga terbentuk ikatan batin yang sangat kuat diantara mereka. Harmonis dengan ini konflik antara Hiccup dengan Astrid, lingkungan, serta ayahnya pun juga dituturkan secara perlahan dan sabar hingga secara keseluruhan membangun sebuah kisah yang begitu emosional, romantik, dan indah.

Baca Juga  Silence

Tidak hanya kisah yang begitu kuat dan emosional namun film ini merupakan tontonan yang amat sangat menghibur. Unsur komedi disisipkan dengan efektif tanpa memaksa terutama dalam banyak adegan aksinya. Karakter dan bentuk hewan-hewan naga yang bervariasi dan lucu seringkali mengundang kelucuan karena aksi-aksi mereka. Satu sekuen menarik disajikan begitu efektif adalah ketika Hiccup bermain-main dengan Toothless dan tanpa sengaja ia menemukan kelemahan-kelemahan hewan naga. Sontak pelatih serta teman-teman Hiccup terkejut karena ia mampu menjinakkan hewan-hewan ganas ini tanpa kekerasan dengan cara-caranya yang unik. Kemampuan para naga yang lincah, cepat, mampu menyemburkan api dan terbang juga memungkinkan adegan-adegan aksi yang disajikan begitu seru dan dinamis seperti tampak pada sekuen pembuka. Adegan aksi tidak diumbar begitu saja dan bahkan tidak hingga sekuen klimaks terjadi lagi pertempuran antara manusia dan naga.

How to Train Your Dragon merupakan film animasi istimewa segala usia yang tidak hanya sangat menghibur namun juga sarat dengan pesan-pesan moral yang mendalam. Film ini mengajarkan bahwa kekerasan adalah bukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah. “Mengapa aku tidak membunuhnya (Toothless) sejak dulu?” tanya Hiccup pada dirinya sendiri ketika hewan kesayangannya itu ditangkap. “Ya, mengapa kamu tidak membunuhnya?” tanya Astrid. “Karena aku melihat ia sama takutnya dengan aku.. aku melihat diriku dalam dirinya” jawab Hiccup. Jika Anda ingin menjadi ksatria (manusia) sejati seperti Hiccup tidak hanya butuh keberanian, otak, dan kesabaran semata namun diatas segalanya harus memiliki “hati”.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaIron Man 2
Artikel BerikutnyaRobin Hood
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.