Hunter Killer (2018)
121 min|Action, Thriller|26 Oct 2018
6.6Rating: 6.6 / 10 from 73,505 usersMetascore: 43
An untested American submarine captain teams with U.S. Navy Seals to rescue the Russian president, who has been kidnapped by a rogue general.

Hunter Killer adalah film aksi thriller garapan Dovovan Marsh yang diadaptasi dari novel berjudul Firing Point karya Don Keith dan George Wallace. Film ini dibintangi Gerard Butler, Gary Oldman, Common, serta Michael Nyqvist. Niqvist, aktor gaek asal Swedia ini bermain dalam salah satu peran terakhirnya di dunia film setelah meninggal tahun lalu. Film aksi kapal selam, seperti kita tahu telah banyak yang berkualitas baik, sebut saja Das Boot, Hunt for Ther Red October, Crimson Tide, hingga U-571, lalu bagaimana pencapaian Hunter Killer?

Alkisah satu kapal selam AS menghilang setelah menguntit kapal selam Rusia sekian lama. Militer AS lalu mengutus Komandan kapal selam senior, Joe Glass untuk menyelidiki hal ini. Tanpa disangka, situasi berkembang menjadi semakin pelik ketika pihak AS akhirnya mengetahui adanya sebuah kudeta militer oleh menteri pertahanan Rusia yang menyekap presiden mereka di markas militernya. Joe dari laut dan satu tim kecil unit khusus yang dikirim ke sana, harus bahu membahu untuk mengamankan sang presiden sebelum perang besar yang ditakutkan dua pihak terjadi.

Tanpa ekspektasi banyak, saya menonton film ini yang hanya ditonton segelintir orang saja. Sejak awal pembuka filmnya, tempo alurnya berjalan cepat, namun cukup jelas menggambarkan situasi yang terjadi momen demi momen. Bagaikan lari maraton, film ini berjalan nonstop tanpa henti dalam menyajikan aksi demi aksi yang demikian menegangkan. Situasi yang membuat menarik adalah aksi tak hanya terjadi di laut, namun juga di darat. Penonton nyaris tak diberi kesempatan untuk mengambil nafas ketika kapal selam Joe harus melewati ranjau laut yang dipasang Rusia di luar markas AL mereka. Situasi di darat pun tak kalah gentingnya ketika hanya 4 orang tim khusus saja, mereka harus mendapatkan sang presiden di markas militer tersebut. Walau memang plotnya sedikit absurd dan tak sulit diantisipasi, namun aksi-aksinya adalah momen yang sangat menghibur.

Baca Juga  Cold Pursuit

Walau bisa dibilang lumayan, pencapaian visualnya pun (CGI) juga tak bisa dibilang mulus. Dalam beberapa shot terutama di bawah laut, kapal selam masih terlihat artifisial sehingga kadang membuat jarak dengan penonton karena terlihat kurang meyakinkan. Sebaliknya, aksi di darat disajikan sangat baik. Efek suara juga jelas berperan penting dalam filmnya dan kadang dalam momen tertentu suasana dalam ruangan bioskop juga bisa hening selama beberapa saat tanpa suara. Walau memang bukan ukuran kemampuan akting para pemainnya, namun tercatat Butler dan Niqvist tampil meyakinkan. Sementara aktor peraih Oscar sekelas Oldman justru berperan terlalu ringan untuk kelasnya serta jelas mengkasting sang aktor hanya untuk namanya. Dua kasting buruk adalah untuk sang presiden Rusia dan sang pembangkang, Durov yang tampil tak meyakinkan.

Walau bukan yang terbaik untuk subgenrenya, Hunter Killer adalah aksi nonstop menegangkan yang bakal menghibur para penikmat genre aksi. Aksi-aksi di bawah lautnya tentu pencapaiannya amat jauh jika dibandingkan dengan U-571 dengan tata suara dan visualisasinya yang sangat meyakinkan. Untuk sisi drama thriller-nya juga masih jauh dibawah Crimson Tide dan The Hunt for Red October. Hunter Killer terasa kuat nuansa perang dingin antara Rusia dan AS. Jika saja, film ini diproduksi sekitar tahun 1980-1990an, seperti halnya Red October, tentu nilai film ini akan sangat berbeda.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=L8dpvcuAjCo

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaA Simple Favor
Artikel BerikutnyaJaga Pocong
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.