Ice Age: Dawn of the Dinosaurs (2009)

94 min|Animation, Adventure, Comedy|01 Jul 2009
6.9Rating: 6.9 / 10 from 282,279 usersMetascore: 50
When Sid's attempt to adopt three dinosaur eggs gets him abducted by their real mother to an underground lost world, his friends attempt to rescue him.

Satu lagi seri sukses, Ice Age: Dawn of The Dinosaurs turut meramaikan demam sekuel dan remake musim panas tahun ini. Film ini diarahkan oleh Carlos Saldanha yang juga menggarap sekuel keduanya. Sekuel ketiga kali ini masih menggunakan suara pemain seri film sebelumnya, seperti Ray Romano, Chris Wedge, John Leguizamo, Denis Leary, Queen Latifah, Sean Willian Scott, serta bintang baru aktor Inggris, Simon Pegg.

Film mengisahkan kembali petualangan trio Manny, Diego, dan Sid, plus rekan-rekan baru mereka (film kedua) yakni, Ellie (istri Manny), Eddie, dan Crash. Dikisahkan persahabatan ketiganya mulai merenggang tatkala Manny mulai mencurahkan semua perhatiannya ke Ellie yang kini tengah hamil. Diego lalu memutuskan untuk pergi sementara Sid memutuskan untuk menjadi ayah dari tiga telur hewan asing yang tidak sengaja ia temukan. Tak disangka telur-telur tersebut ternyata adalah telur hewan purba (T-rex) yang telah lama punah. Bayi-bayi T-rex yang baru menetas lantas menganggap Sid ibu mereka. Sementara sang empunya telur marah besar. Induk T-Rex lalu membawa ketiga anaknya dan Sid ke dunia bawah tanah yang ternyata merupakan habitat hewan-hewan purba tersebut. Manny, Diego, dkk bergegas menolong Sid dan petualangan pun dimulai.

Ice Age (2002) merupakan kisah awal terjalinnya persahabatan antara Manny, Diego, dan Sid. Kisahnya pun cukup menyentuh terlebih karena melibatkan unsur manusia (bayi) yang menjadi penyebab konflik cerita namun komedi dan aksi tetap menjadi kekuatan utama filmnya. Sekuelnya, Ice Age 2: The Meltdown (2006) menampilkan beberapa karakter baru dengan kisah bertema “global warming” yang sama sekali mengada-ada. Lantas apalagi yang ditawarkan Ice Age 3? Sama sekali tidak ada kecuali unsur komedinya. Naskahnya pun boleh dibilang konyol dan terlalu mengada-ada, seolah penulis naskah kehabisan ide. Film ini tampak sekali memaksakan cerita (sekuel) dengan mencoba menghadirkan kembali “masa silam” yang hilang. Dua spesies berbeda jaman dipertemukan dalam satu ruang dan waktu jelas menjanjikan sebuah konflik yang sangat menarik.

Pertanyaannya bagaimana mungkin hewan prasejarah yang telah punah puluhan juta tahun silam muncul kembali di era kini (cerita film)? Coba perhatikan, T-rex ada sekitar 65 juta tahun yang lalu, sementara mammoth (Manny) baru ada puluhan ribu tahun yang lalu. How could this happen? Dikisahkan para dinosaurus selama puluhan juta tahun terisolasi jauh di dunia bawah tanah yang sama sekali tidak tersentuh hewan-hewan “masa kini” di permukaan (???). Tumbuhan purba (tropis) dapat hidup melalui sinar matahari yang menembus lapisan es jauh diatasnya sehingga dunia bawah tanah nyaris sama terangnya dengan di permukaan bumi (???). Aneh juga, induk T-rex yang nyata-nyata mampu pergi ke atas (mencari anaknya) sama sekali tidak tergoda untuk tinggal di permukaan melihat sumber makanan yang sangat berlimpah. Trah dinosaurus bisa mendapat kesempatan kedua untuk menjadi spesies dominan di planet bumi. Bukankah judulnya filmnya, “Dawn of the Dinosaurs”? So silly isn’t it… jangan-jangan sekuel keempatnya berjudul Ice Age: Invasion from Mars!.. ha ha

Baca Juga  Ruby Gillman, Teenage Kraken

Seperti dua film sebelumnya unsur komedi dan aksi masih menjadi andalan utama filmnya. Sid dengan polahnya yang konyol masih sama kocaknya seperti pada dua film terdahulu. Karakter Manny, Diego dan Ellie tidak banyak perubahan. Karakter Eddie dan Crash cukup menghibur dengan banyolan-banyolan khas mereka. Namun tercatat adalah karakter Buck (Simon Pegg) yang benar-benar mampu menghidupkan filmnya. Karakter karismatik bermata satu (satu ditutup) ini mampu bermain edan sebagai sosok pemimpin yang fasih dengan dunia bawah tanah. “Huh…dasar turis” ujarnya ringan setelah menolong Manny dan Diego yang nyaris tewas oleh tumbuhan pemakan daging raksasa. Bahkan banyolan “tak lucu” sekalipun ketika Buck menerima sambungan “handphone” pun terlihat sangat kocak. Bicara soal banyolan, tercatat satu adegan yang paling kocak adalah ketika Manny, Diego, Crash, dan Eddie terjebak di gua yang penuh dengan gas “tawa”. Sementara karakter Scrat bersama buah kenarinya kali ini mendapat porsi lebih dari dua film sebelumnya plus teman kencannya, Scratte.

Ice Age 3 sebenarnya adalah film tontonan untuk bioskop 3-D dan rasanya film ini jauh lebih atraktif dan menarik jika ditonton di bioskop dengan fasilitas ini. Sekuen-sekuen aksinya yang banyak berupa “roller coaster ride” sangat mendukung hal ini, seperti sekuen klimaks pertempuran di udara yang super seru dan kocak. Kualitas animasinya pun juga jauh lebih halus ketimbang dua film terdahulu. Secara keseluruhan Ice Age 3 adalah film segala usia yang cukup menghibur. Ceritanya filmnya memang konyol (baca: dumb) dan terlalu datar namun banyolan-banyolannya cukup untuk membuat satu isi gedung bergemuruh dengan gelak tawa. Tak ada ruginya menonton film ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaTransformers: Revenge of the Fallen
Artikel BerikutnyaMenamakan Gairah Sinema
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses