I’m Still Here | REVIEW

By presenting a dark chapter of Brazil’s past through the lens of a family drama, I’m Still Here delivers a poignant and gripping cinematic experience. 4.5/5

0
im still here

I’m Still Here adalah film biografi drama politik produksi Brazil arahan sineas kawakan Walter Salles. Film ini diadaptasi dari memoar karya Marcelo Ruben Paiva. Salles adalah salah seorang sineas berpengaruh di sana yang pernah menggarap film-film drama berkualitas tinggi, seperti Central Station (1998) hingga The Motorcycle Diaries (2004). I’m Still Here dibintangi para pemain lokal, yakni Fernanda Torres, Selton Mello, Luiza Kosovski, Barbara Luz, serta Valentina Herszage. Film ini telah banyak berbicara di berbagai festival besar di dunia, sepetti Venice Film Festival, BAFTA, hingga Golden Globe. Film ini bahkan meraih tiga nominasi Piala Oscar untuk Best Picture, Bess Actress, hingga Best International Feature. Ini adalah pencapaian pertama bagi negara Brazil.

Dikisahkan Ruben (Mello) dan Euenice (Torres) beserta lima anaknya, hidup bahagia di pesisir pantai Leblon, Rio de Janeiro, Brazil, pada tahun 1970. Situasi di Brazil saat itu tengah bergejolak, dipicu penculikan dubes Swiss oleh simpatisan aliran kiri. Rezim penguasa secara membabi buta menginterogasi siapa pun yang dianggap pernah melawan pemerintah, termasuk Ruben yang dulu pernah menjadi anggota kongres pada rezim sebelumnya. Situasi di rumah pun mendadak berubah menjadi mencekam setelah Ruben dibawa oleh pihak militer, dan tak lama, Eunice beserta satu putrinya, Eliana (Kosovski) turut diinterogasi. Sejak momen inilah, hidup mereka tidak lagi pernah sama seperti sebelumnya.

Plotnya jelas mengingatkan pada sesama nominator Best Internasional Picture di Academy Award tahun ini, yakni The Seed of the Sacred Fig. Bahkan beberapa momen genting pun terasa senada, walau Sacred Fig memang sepenuhnya mengarah ke sisi thriller. Sementara I’m Still Here lebih terfokus pada sisi drama melalui sosok Eunice dan keluarganya dalam menghadapi situasi tersebut. Perspektif kisahnya pun terhitung langka karena film-film produksi lokal yang berpengaruh, lebih cenderung mengarah ke isu sosial. Pencapaian akting para pemain jelas menjadi kunci terbesar keberhasilan film adaptasi sumber nyata semacam ini.

Titik balik kisahnya menjadi poin terbesar perubahan penampilan para pemainnya. Suasana hangat dan penuh keceriaan mendadak berubah menjadi dingin dan dipenuhi rasa kegelisahan, ketakutan, dan ketidakpastian. Aktris senior Fernanda Torres melalui perannya sebagai sang istri menjadi motor penggerak yang menghidupkan plotnya. Ia menjadi point of view kisahnya dan mata kamera nyaris tak pernah lepas dari sosoknya. Empati dan simpati penonton selalu tertuju padanya. Dari sosok ceria dan hangat sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, secara perlahan menjadi dingin dan selalu mencoba menutupi ketakutan batinnya pada anak-anaknya. Ini tentu bukan peran yang mudah bagi sang aktris dan ia mampu membawakan perannya dengan begitu elegan. Performa primanya memicu penampilan apik sederetan kasting mudanya yang tampil natural dan ekspresif, khususnya Kosovski dan Luz, yang bermain sebagai Eliana dan Nalu.

Baca Juga  A Good Day to Die Hard

Satu pencapaian mengesankan juga dicapai tata artistiknya yang mampu membawa suasana era 1970-an dengan amat meyakinkan. Untuk scene interior bisa jadi bukan hal yang sulit, namun beberapa segmen eksteriornya, pembuat film berani menampilkan suasana jalanan dan kota pada masanya melalui beragam properti kendaraan dan pilihan sudut-sudut kota lawas. Sang sineas patut diapresiasi atas usahanya untuk menampilkan set luas yang otentik. Tone warna soft (nuansa 1970-an) yang digunakan sebagai palet warna dalam frame-nya juga makin mendukung kuat nuansa dan atmosfir filmnya.

Sepenggal kisah kelam rezim masa lalu disajikan berkelas oleh I’m Still Here melalui perspektif drama keluarga serta penampilan para kastingnya yang menawan. Secuil kisah sejarah ini tentu memberikan kesadaran bagi kita bahwa apa yang terjadi di Brazil juga terjadi di berbagai belahan bumi. Sebagai penikmat film, kita akan melihat bagaimana persaingan antara I’m Still Here dan The Seed of the Sacred Fig di ajang Academy Awards. Faktanya, dua film ini juga menimbulkan kontroversi di negaranya. Dari sisi sejarah dan pemberitaannya, Indonesia pernah mengalami banyak kejadian serupa, kita nantikan sineas lokal yang berani mengangkat topik senada, dengan pencapaian cerita dan estetik yang memadai tentunya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaNosferatu | REVIEW
Artikel BerikutnyaCaptain America: Brave New World | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses