Incredibles 2 diproduksi 14 tahun berselang sejak rilis The Incredibles pada tahun 2004 silam. Mengapa baru sekarang? Sineas Brad Bird sebenarnya telah lama ingin memproduksi sekuelnya, namun Studio Pixar baru memberi lampu hijau proyek ini pada tahun 2014. Empat belas tahun silam, genre superhero belum berkembang pesat seperti sekarang. Trilogi The Dark Knight garapan Nolan belum dirilis, apalagi film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) yang kini sangat mendominasi genrenya. Namun, pada masanya The Incredibles telah jauh melampaui pencapaian genrenya. Kisahnya yang unik (plotnya pasca era emas superhero), aksi-aksi yang menawan, CGI yang superior, hingga tema keluarganya yang begitu hangat, menjadikan The Incredibles adalah salah satu film superhero terbaik yang pernah ada, bahkan hingga kini. Lantas, setelah sekian lama bagaimana sekuelnya kini? Apakah Brad Bird sebagai sineas sekaligus penulis naskah masih menggunakan formula lama atau menggunakan formula sama sekali baru? Dengan berbekal para pengisi kasting suara yang masih sama (Craig T.Nelson, Holly Hunter, dan Samuel L. Jackson), ternyata jarak 14 tahun tidak membuat semuanya menjadi berbeda, dan masih sama enerjiknya dengan film sebelumnya.

     Satu hal yang unik, plot filmnya menyambung persis dari ending film pertamanya. Satu hal yang sangat luar biasa, mengingat jarak produksi sekian lama. Setelah peristiwa di awal film yang menampilkan aksi seru Mr. Incredibles dan keluarganya bersama Frozone, para superhero yang keberadaannya masih ilegal kembali dipertanyakan karena mereka dianggap lebih banyak merusak ketimbang membawa kedamaian. Namun, ternyata aksi ini menarik perhatian seorang pengusaha kaya, Winston Deavor bersama DEVTECH-nya, yang ingin mengembalikan era emas superhero dengan usaha untuk melegalkan aksi para superhero. Akhirnya, Elastigirl (Helen), istri dari Mr. Incredibles (Bob), dipilih untuk mengembalikan citra baik para superhero dengan memberinya segala peralatan dan kendaraan yang dibutuhkan untuk memberantas kejahatan. Sementara Helen beraksi di jalanan, Bob harus bersusah payah mengasuh putra-putrinya, serta bayi ajaib mereka, Jack-Jack.

    Bicara plotnya, memang terasa ada sedikit kemiripan dengan kisah The Incredibles, hanya saja kini Mr. Incredibles bertukar posisi dengan istrinya. Bedanya juga, si bayi Jack-Jack mencuri perhatian sepanjang filmnya. Sisi komedi banyak didominasi Jack-Jack karena polahnya yang tak bisa diprediksi, sebut saja aksi pertarungannya yang kocak dengan seekor racoon. Walau Helen banyak beraksi, namun porsi cerita kelima anggota keluarga Bob dan Helen semuanya relatif seimbang. Dash dan Violet juga kini lebih banyak mendapat porsi ketimbang film pertamanya. Walau film ini menekankan banyak pada aspek keluarga, namun sisi aksi dan misteri mampu terjalin dengan apik hingga klimaks. Walau tak banyak kejutan di akhir, segala aspeknya yang ditampilkan mengesankan menjadikan film ini adalah hiburan yang sempurna bagi keluarga. Hanya kelemahannya, untuk penonton anak-anak, rasanya kisahnya terlalu kompleks. Bagi yang belum menonton seri pertamanya, juga pasti bakal kesulitan menerima sosok karakter lama, macam Edna dan Rick Dicker. Tapi secara umum memang tak menjadi masalah.

Baca Juga  Tetris

     Walau kisahnya bakal sulit diterima penonton anak-anak, Incredibles 2 merupakan film animasi yang sangat menghibur, mampu memadukan sisi aksi dan komedi sekaligus mengirimkan pesan keluarga yang kuat. Bicara aksi dan pencapaian visual, jelas tak diragukan lagi. Sisi animasi menjadikan aksi-aksinya yang tak masuk akal (dibanding live-action) menjadi terlihat segar dan atraktif, sama seperti yang disajikan seri pertamanya. Seperti aksi Elastigirl ketika mengajar kereta cepat tak terkontrol yang disajikan sangat mengesankan. Walau tak seistimewa seri pertamanya, sekuelnya ini masih mampu membawa nuansa nostalgia melalui visualisasi karakter dan tentu saja ilustrasi musiknya yang enerjik. Jarak 14 tahun, tidak lantas membuat sekuelnya memudar, namun justru bersinar. The Incredibles bersama sekuelnya ini merupakan pencapaian langka bagi genrenya yang tak akan mungkin bisa dilakukan versi live action. Walau seri pertama dan kedua memiliki tema dan pesan yang sama, namun tetap tidak terasa membosankan karena keluarga adalah satu hal yang tak ternilai yang tak bisa diukur dengan apapun.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaTeaser-Trailer: THE NUN (The Conjuring Series)
Artikel BerikutnyaTarget
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses