Inside Out 2 adalah sekuel dari Inside Out (2015) produksi Pixar Animation Studio yang sukses secara kritik dan komersial, serta dianggap sebagai salah satu karya terbaiknya. Film sekuelnya kini digarap oleh Kelsey Mann dengan para bintang regulernya (voice), yakni Amy Poehler, Phyllis Smith, Lewis Black, Diane Lane, Kyle MacLachlan, serta pendatang baru Tony Hale, Liza Lapira, Maya Hawke, Ayo Edebiri, Adèle Exarchopoulos, Paul Walter Hauser, serta Kensington Tallman. Dengan bujet raksasa USD 200 juta, akankah sekuelnya ini mampu menyaingi sukses seri pertamanya?

Riley (Kensington) yang beranjak remaja kini hidup bahagia dengan orang tua dan dua sahabatnya, Bree dan Grace. Prestasi olahraga hoki es akhirnya membawa mereka bertiga ke kamp pelatihan terpusat di mana mereka bisa bergabung dengan tim pujaan. Sementara di alam emosi sang gadis, Joy (Poehler), Saddness (Smith), Anger (Black), Fear (Hale), dan Disgust (Lapira), merasa bahwa Riley dalam kendali penuh mereka. Tidak hingga emosi baru muncul, yakni Anxiety (Hawke), Envy (Edebiri) , Ennui (Exarchopoulos), dan Embarrassment (Hauser). Awalnya, semua berjalan baik, tidak hingga Anxiety ingin mengambil-alih kendali Riley dengan mengusir Joy dan kawan-kawan dari ruang kontrol. Aksi ini pun memberi dampak besar bagi sang gadis yang kini diliputi kecemasan berlebihan sehingga bertindak di luar kebiasaan. Apa pun ia lakukan demi untuk diterima dalam tim hoki pujaannya, termasuk mengkhianati dua sahabatnya.

Produksi film sekuelnya memang terhitung cukup lama, yakni selisih 9 tahun. Ekspektasi pun tidak terlalu tinggi mengingat film pertamanya adalah salah satu karya masterpiece Studio Pixar. Apa lagi yang akan ditawarkan sekuelnya? Emosi baru? Rupanya benar adanya. Plotnya pun lebih terasa seperti pengulangan seri pertama dengan pembeda faktor umur Riley yang kini remaja. Ini tentu berujung pada kisah yang terlalu mudah diantisipasi. Jika dulu, hanya Joy sendirian yang ditendang keluar, kini kelima emosi inti diusir dari ruang kontrol. Karakter yang terlalu banyak juga membuat kisahnya berjejal dengan informasi silih berganti yang mengalir cepat. Dua faktor ini memicu rasa lelah ketika mengikuti alur plotnya.

Baca Juga  The Ant-Man

Ini pun masih diperburuk inkonsistensi kisahnya dengan seri pertama. Plot sebelumnya adalah pelajaran buat Joy untuk tidak egois dengan memberi kesempatan bagi emosi lain yang dianggapnya negatif. Joy akhirnya menyadari bahwa Riley juga butuh kesedihan untuk bisa lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Lucunya, dalam sekuelnya, Joy lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama. Semua memori buruk ia buang, agar Riley tidak bisa mengingatnya kembali. Lantas ini apa maksudnya? Kisah film pertama seolah dimentahkan begitu saja. Ketika karakter emosi (baru) muncul sejalan dengan umur seseorang, mengapa emosi-emosi tersebut tidak muncul dalam karakter dewasa lainnya dalam film pertamanya? Dalam satu adegan penutup, seolah emosi baru ini, hanya muncul jika dibutuhkan. Ini jelas terlalu memaksa, walau ini bisa ditolerir.

Bicara soal visual tentu tak perlu banyak komentar mengingat standar kualitas Studio Pixar yang amat tinggi. Hanya kini, kita bisa melihat tempat-tempat lain yang sebelumnya belum pernah kita kunjungi, walau kini terasa lebih suram. Bentuk-bentuk emosi baru juga terlihat sebagai sosok monster ketimbang Joy dan empat rekannya. Tentu ini bukan masalah besar. Satu visualisasi yang amat menarik adalah ketika Riley dalam situasi kecemasan memuncak. Penggambaran hingar bingar situasi emosi Riley dalam ruang kontrol sungguh sangat luar biasa dan secara brilian mewakili apa yang terjadi di luar sana. Ini adalah momen terbaik filmnya.

Sebuah pencapaian visual yang mengesankan, hanya saja, Inside Out 2 menawarkan formula cerita yang sama sehingga mudah diantisipasi, inkonsistensi cerita, hingga tempo cepat yang melelahkan. Semua ini membuat selipan komedinya terasa hambar. Jarang sekali terdengar tawa penonton, padahal bioskop terisi hingga bangku depan. Kisahnya terhitung berat untuk tontonan bocah, bahkan penonton dewasa pun belum tentu bisa memahami penuh, terlebih jika belum menonton film pertama. Lantas, apakah ke depan kita perlu lagi sekuel keduanya? Riley dengan problem rumah tangganya, plus emosi lain yang semakin banyak dan masalah lebih kompleks. Rasanya tidak, jika solusinya sama.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Zen Diary – JFF Online 2024
Artikel BerikutnyaRomantisme Ozu dalam How to Make Millions Before Grandma Dies
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.