Movie Poster

Sutradara: Pete Docter
Produser: Jonas Rivera
Penulis Naskah: Pete Docter/Meg Lefauve/Josh Cooley
Pemain: Amy Poehler/Phillys Smith/Bill Hader/Lewis Black/Mandy Kaling
Sinematografi: –
Editing: Kevin Nolting
Ilustrasi Musik: Michael Giacchino
Studio: Pixar Animation Studios
Distributor: Walt Disney Studios
Durasi: 94 menit
Bujet: US$ 175 juta

Pixar sejak awal memproduksi film animasi panjang menjadi yang terdepan di antara studio animasi lainnya melalui film-film animasi berkualitas tinggi macam trilogi Toy Story, Monster Inc., Finding Nemo, The Incredibles, Ratatoullie, Wall-E, hingga Up yang sukses komersil maupun kritik. Tidak bisa kita sepelekan pula film-film animasi pendeknya yang muncul mendampingi film panjangnya di rilis bioskop, yang seringkali menampilkan animasi pendek dengan ide-ide brilyan dan orisinil dikemas dengan cerdas. Salah satu film pendek yang menarik adalah La Luna (mengawali film Brave). Dengan kemasan yang unik dan metafora yang cerdas plus visualisasi yang amat menawan, La Luna bicara soal bagaimana orang tua seharusnya mendidik anak dengan membiarkan menemukan jalannya sendiri untuk mencapai impiannya. Inside Out menggunakan konsep metafora serupa namun dengan visualisasi yang lebih cerdas.

Inside Out berkisah tentang seorang gadis cilik berumur 11 tahun bernama Riley. Di dalam pikiran Riley terdapat sebuah ruang kontrol pikiran yang dikendalikan oleh Joy, Sadness, Fear, Anger, and Disgust. Mereka berlima memiliki tujuan sama untuk membuat Riley bahagia namun Joy sejak bayi mendominasi mereka. Berjalannya waktu Riley bertambah dewasa dan mulai berhadapan dengan masalah keluarganya yang harus pindah ke San Fransisco. Joy yang berambisi membuat Riley selalu gembira dengan menutup ruang gerak Sadness justru membawa petaka dalam kehidupan Riley.

Konsep cerita jelas sulit diterima anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun. Kelemahan filmnya hanya satu faktor ini saja. Secara brilyan sutradara dan penulis naskah, Pete Docter, mampu menggambarkan semua aspek sisi emosional manusia dengan cara yang gamblang namun dengan konsep cerita yang cerdas. Kisahnya sederhana namun mengena. Intinya Joy belajar menyadari jika ia membutuhkan Sadness, Fear, Anger, dan Disgust untuk bisa mendapatkan kebahagian bagi Riley. Kelimanya juga membentuk karakter Riley melalui perwujudan pulau-pulau kecil, yakni keluarga, hoki (olahraga favorit Riley), kejujuran, persahabatan, humor, serta lengkap dengan Bing-bong (teman fantasi Riley) hingga studio pembuat mimpi yang semuanya diwujudkan lagi-lagi dengan sangat brilyan. Sebuah konsep cerita yang orisinil, cerdas, brilyan, dan sangat manusiawi.  Visualisasi gambaran pikiran Riley membawa kita ke sebuah dunia imajinasi baru yang belum pernah ada di film sebelumnya.

Baca Juga  Life of Pi

Inside Out jelas bukan film animasi yang mudah dicerna anak-anak namun kisah yang orisinil dan brilyan, pesan yang kuat, serta visualisasi penuh warna menjadikan film animasi ini adalah salah satu film animasi terbaik dan menyentuh yang pernah diproduksi. Pixar kembali berjalan dijalurnya setelah Up beberapa tahun lalu. Piala Oscar untuk film animasi panjang terbaik tahun depan jelas sudah di pelupuk mata. Inside Out adalah film untuk kita semua dan bukan hanya sekedar film namun juga pelajaran hidup untuk lebih memaknai hidup kita. Kita tidak akan bisa lari dari masalah. Kepedihan dan penderitaan memang harus kita hadapi dan lewati untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari sebelumnya. Kita belajar menjadi lebih dewasa dan Inside Out memberikan segalanya.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
100 %
Artikel SebelumnyaAphicatpong Weerasethakul : Dalam Perbincangan
Artikel BerikutnyaRebecca Ferguson Berperan Dalam The Girl On The Train
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.