ironheart

Disarankan untuk menonton serinya sebelum membaca ulasan di bawah.

Ironheart adalah miniseri kreasi Chinaka Hodge yang merupakan seri ke-14 dari Marvel Cinematic Universe (MCU) produksi Marvel Studios. Titel karakternya masih dibintangi Dominic Thorne, dengan didukung  Lyric Ross, Manny Montana, Matthew Elam, Anji White, Jim Rash, Eric André, Cree Summer, Sonia Denis, Shea Couleé, Zoe Terakes, Shakira Barrera, Anthony Ramos, Alden Ehrenreich, Regan Aliyah, Paul Calderón, hingga Sacha Baron Cohen. Film berdurasi rata-rata 50 menit ini memiliki total 6 episode yang dirilis Disney Plus pada tanggal 24 Juni lalu.

Kisahnya melanjutkan peristiwa yang terjadi dalam Wakanda Forever yang kini fokus pada sosok Riri Williams (Thorne) dengan robot “Iron-Man” kreasinya sendiri, Ironheart. Riri didepak dari MIT karena dianggap menggunakan lab kampus secara semena-mena. Ia pun kembali ke kota asalnya, Chicago, di mana ibunya tinggal. Riri yang butuh biaya untuk menyempurnakan kostum besinya, akhirnya menerima sebuah pekerjaan dari satu kelompok kriminal yang dipimpin Parker Robbins (Ramos) alias The Hood.

Robbins memiliki jubah misterius yang membuatnya memiliki kekuatan sihir untuk memudahkan aksinya. Riri pun menyadari jika ia bekerja pada orang yang salah dan mencoba mencari jalan keluar, dibantu asisten A.I.-nya NATALIE. Namun, orang-orang di dekat Riri mulai terdampak dari aksinya dan di balik semua terdapat satu entitas berbahaya dengan kekuatan sangat besar yang tidak disadarinya.

Satu pertanyaan besar, mengapa Riri dengan segala potensi otaknya tidak tinggal di Wakanda? Shuri bisa membantunya dengan semua peralatan modern yang tidak akan mungkin bisa ia dapat di MIT. Why? Jawabnya mudah, karena naskahnya menghendaki begitu.

Saya lompat dulu ke sosok Riri yang kita anggap saja memiliki otak dan kecerdasan Tony Stark, tetapi tanpa uang. Namun, kostum secanggih itu, apa benar bisa dibuat dari hasil mengais dan merakit besi rongsok yang ia bisa dapat begitu saja? Semua terlihat dibuat begitu mudah, tanpa susah payah, seperti yang dilakukan Tony Stark di dalam gua dalam Iron-Man. Kostum ini yang membuat sikap Tony berubah untuk selamanya. Sementara Riri bisa melakukannya seolah tanpa susah payah, tanpa penjelasan yang memadai, bagaimana ia bisa menghimpun energi sebesar itu dalam kostumnya. Just asking.

Kisah Ironheart seperti ingin meluruskan kembali plot Iron-Man yang tidak pernah terjadi dalam MCU. Riri harus berhadapan dengan kekuatan supernatural yang menggunakan sihir. Kita tahu (film animasi home video Iron-Man), musuh besar Iron-Man sesungguhnya adalah Mandarin, satu entitas berkekuatan sihir yang teramat kuat. Saya masih ingat komentar sang sineas, Jon Favreu, yang menganggap Mandarin terlalu absurd untuk kisah live-action-nya. Kini, dengan hadirnya sosok macam Doctor Strange, Wanda, Agatha, serta Shang Chi dalam MCU membuat segalanya dimungkinkan. Ironheart sesungguhnya memiliki potensi kisah yang lebih besar dari Iron-Man sendiri jika memang mengarah ke sini. Teknologi dan sihir adalah satu kombinasi segar dalam MCU.

Baca Juga  Escape the Field

Kini kembali ke plotnya. Alur kisahnya secara kebetulan mempertemukan Riri dengan kelompok Parker, lalu anak dari Obadiah Stane, yakni Ezekiel Stane, hingga sosok kuasa gelap Mephisto. Trauma Riri menjadi problem internal besar yang menjadi esensi plotnya yang diolah sangat brilian. Relasi dengan sang ibu, The Hood, Ezekiel, hingga NATALIE, rupanya hanya menjadi katalis panjang sebelum ia bertemu dengan Mephisto di penghujung. Ending-nya yang mengejutkan menegaskan semua, tetapi prosesnya menjadikan beberapa hal menjadi sia-sia. Riri mementahkan semua usaha kerasnya sendiri, relasi dengan ibunya, persahabatan dengan rekan-rekannya, hanya dengan satu kesepakatan kecil dengan sang iblis untuk membuat hatinya lebih damai (traumanya hilang). Is it worth it? “Aksi sihir pasti memiliki konsekuensi”, ini frase dalam Doctor Strange. Kita harus menanti jawabnya pada musim berikutnya, itu pun jika dibuat.

Ironheart adalah sebuah eksplorasi segar dengan mencari celah di antara narasi besarnya, walau tanpa ujung yang jelas. Seperti sudah saya katakan dalam banyak ulasan film-film MCU sebelumnya. MCU telah masuk ke ranah yang belum pernah disentuh siapa pun dalam industri film. MCU memiliki era emasnya dan era terpuruk. Uji coba dan eksplorasi terus dilakukan oleh para penulis naskahnya untuk mencari kembali formula suksesnya. Mustahil, semua akan sukses. Terlepas kegagalan dari beberapa film terbarunya, MCU telah manjadi fenomena, baik secara kualitas maupun komersial yang ini tidak pernah dicapai genre superhero sebelumnya. Intervensi pemilik baru, Disney, memang banyak berdampak, namun tidak lantas pencapaian sebelumnya bisa diabaikan begitu saja. Perjalanan film-film MCU harus dilihat sebagai satu proses panjang yang tidak bisa kita pisahkan begitu saja. Ironheart hanyalah secuil eksplorasinya, entah ini dianggap berhasil atau tidak.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaHeads of the State | REVIEW
Artikel BerikutnyaHis Name Was Not Listed | Russian Film Day
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses