Jaga Pocong (2018)
83 min|N/A|25 Oct 2018
Rating: Metascore: N/A
N/A

Jaga Pocong, film horor produksi Spectrum Film, Maxima Pictures, dan Unlimited Production ini disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Sang sineas kita kenal dengan film-film bergenre drama dan roman, seperti Heart Beat (2015), Super Didi (2016), serta Mars Met Venus Part Cew dan Cow (2017). Ini kali pertama sang sineas memproduksi film bergenre horor, begitu pula sang aktris utama Acha Septriasa yang juga baru kali ini berakting untuk film bergenre ini. Acha sendiri tampil dominan bersama aktor dan aktris pendukung, seperti Zack Lee, Jajang C. Noer, dan aktris cilik Aqilla Herby.

Film ini bercerita tentang seorang perawat bernama Mila (Acha Septriasa) yang ditugaskan untuk mengunjungi seorang pasien di sebuah rumah. Sesampainya di rumah tersebut, hari telah beranjak malam. Ia disambut oleh putra dari sang pasien yang bernama Radit (Zack Lee). Radit mengatakan bahwa ibunya baru saja meninggal dan meminta bantuan Mila untuk memandikan serta mengkafani jenasahnya. Radit harus mengurus administrasi pemakaman ibunya yang akan dilakukan esok hari dan ia meminta Mila menunggu jasad ibunya. Sejak saat inilah kejadian-kejadian aneh mulai dirasakan Mila.

Plot film ini dibatasi oleh konteks ruang yang terbatas, yakni satu rumah di tengah hutan dengan waktu cerita yang berlangsung hanya semalam. Walaupun pola ini sering digunakan dalam genre horor, namun setidaknya mampu membuat plot film ini menjadi lebih menarik dan fokus dalam membangun unsur suspense-nya. Di rumah tersebut, Mila ditemani oleh seorang anak kecil bernama Novi, yakni putri dari Radit. Namun, sang putri yang cenderung muram, pendiam, dan tak pernah berbicara satu kata patah pun, tak membuat suasana menjadi lebih hangat justru sebaliknya. Novi menjadi satu motif kuat bagi Mila untuk tinggal karena ia tak mungkin meninggalkannya sendiriran, terutama pasca kejadian-kejadian aneh yang menggangu mereka.

Baca Juga  Koki-Koki Cilik

Film ini memiliki tempo cerita lambat karena unsur ketegangan yang diolah secara perlahan. Sang sineas tak terburu untuk menampakkan teror fisik dari sosok hantunya, namun lebih fokus pada gangguan kecil yang mampu menggerakkan cerita semakin intens. Gangguan tersebut dibangun melalui efek suara secara dominan dan teratur dalam tiap adegannya. Aspek suara menjadi penggerak cerita yang memicu Mila untuk mencari sumber suaranya, seperti suara hentakan kaki di lantai atas, goresan kuku di kayu, dan pemutar musik. Unsur suara yang wajar, seperti denting jam pun membuat suasana yang sunyi senyap terasa mengerikan. Gangguan tanpa jeda ini agaknya sedikit membuat penonton lelah karena tak memberikan kesempatan penonton untuk bernafas lega.

Walau telah berhasil membuat suspense sejak awal hingga pertengahan filmnya, sang sineas tak jeli untuk menjaga intensitas dramatik hingga klimaks film sehingga terasa kurang menggigit dan tak ada pesan moral yang bisa disampaikan. Film ini hanya sekedar menyajikan ketakutan semata dalam sebuah suasana sunyi.  Acha Septriasa yang baru kali ini berakting dalam film horor mampu membuktikan kualitas aktingnya, walaupun penampilannya masih bisa diekplor lagi.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaHunter Killer
Artikel BerikutnyaBad Times at the El Royale
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini