Film horor ini disutradarai oleh dua sutradara kondang, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani. Mereka berdua memang konsiten memproduksi film horor untuk industri film kita. Dalam seri Jelangkung ini, mereka selalu berkolaborasi sejak Jelangkung (2001) dan Jailangkung (2017), yang rilis tahun lalu. Jailangkung 2 merupakan sekuel dari Jailangkung (2017) yang juga sama-sama mengambil momen Hari Raya Idul Fitri, dan sukses besar dengan meraih sebanyak 2.550.271  penonton. Sekuel filmnya masih diperankan oleh para pemain dan tokoh yang sama pula, yakni Ferdi (Lukman Sardi), Bella (Amanda Rawles), Rama (Jefri Nichol), Tasya (Gabriella Quinlynn), dan Angel (Hanna Al Rasyid).

Cerita filmnya bermula dari sikap Angel (Hanna Al Rasyid) yang aneh, pasca kejadian di film pertama setelah ia melahirkan seorang bayi yang merupakan titisan setan, atau diistilahkan mati anak. Angel membawa mati anak ke rumahnya dan selanjutnya banyak kejadian aneh terjadi. Bella dibantu Rama, mencari Jimat yang bisa mengendalikan mati anak setelah ia mendapat informasi dari teman baru mereka, Bram (Naufal Samudra). Sementara itu, Tasya, anak mereka yang terkecil, bermain jailangkung yang membawanya ke alam lain.

Oleh karena latar cerita mengambil kisah dari film pertama maka bisa dipastikan, penonton yang belum menontonnya, agak susah memahami latar belakang filmnya secara utuh. Flashback yang ditampilkan ketika Angel melahirkan mati anak memang sedikit memberikan informasi, namun tentu tak cukup. Selain itu, masalah film ini juga plot yang tak fokus sehingga bangunan logika cerita terasa ganjil. Misal saja, ketika semua masalah mulai terjadi para tokohnya terlihat minim respon seperti tak terjadi apa-apa. Ketika mati anak berada di rumah, seharusnya situasi terlihat semakin genting, namun tak ada apapun yang terjadi.

Baca Juga  Sekali Lagi tentang Film Horor Indonesia

     Beberapa keganjilan rupanya juga dirasakan penonton lain ketika saya menonton film ini. Sepasang muda-mudi persis di samping saya, selalu berkomentar sepanjang filmnya. Walaupun sedikit berisik, namun saya menikmati komentar-komentar ringan dari pasangan tersebut, yang menurut saya memang ada benarnya. Mereka mempertanyakan beberapa adegan yang kurang wajar dan tak masuk akal. Misalkan, tentang judul Jailangkung yang sebenarnya tak pas dengan cerita filmnya karena filmnya sendiri lebih bercerita tentang mati anak, lalu adegan Tasya yang bermain jailangkung menjadi segmen yang terasa dipaksakan untuk menghubungkan dengan judulnya.

     Beberapa pemberitaan online, mengabarkan bahwa sekuelnya ini lebih menyeramkan dari film pertama. Namun, plot yang lemah dan tempo yang cepat membuat film ini tidak mampu membangun Intensitas ketegangan layaknya film horor. Adegan sepanjang film hampir tak menegangkan dan menakutkan. Apalagi sisipan kisah nyata, misteri tentang kapal oerang medan yang hilang, terasa dipaksakan untuk masuk dalam plot filmnya. Formula teror dan trik horor di tiap adegannya yang sudah usang, tak mampu membuat penonton masuk ke dalam ketegangan sehingga film ini terasa datar dan hambar.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaTarget
Artikel BerikutnyaEscape Plan 2: Hades
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.