Jailangkung (2017)

86 min|Horror|25 Jun 2017
3.8Rating: 3.8 / 10 from 180 usersMetascore: N/A
The daughter who tries to figure out the mystery behind her father's tragic incident with the help of a puppet ghost, Jailangkung.

Duo sutradara Jose Purnomo dan Rizal Mantovani kembali memproduksi film horor Jailangkung setalah hampir dua dekade lalu sukses fenomenal dengan Jelangkung (2001) yang menjadi salah satu pemicu bangkitnya industri perfilman nasional yang beberapa tahun mati suri. Menyusul sukses Jelangkung, film ini pun sukses meraup sekitar 800 ribu penonton hanya dalam beberapa hari rilisnya pada masa liburan lebaran kali ini.

Kisah filmnya kali ini tidak ada hubungan cerita dengan film sebelumnya. Cerita bermula dari Ferdi (Lukman Sardi) yang tergeletak koma di rumah sakit tanpa sebab yang jelas, namun hasil pemeriksaan medis tidak menemukan apa-apa. Menurut informasi pilot pribadinya, Ferdi ditemukan di sebuah villa mewah, di sebuah pulau yang tak berpenghuni. Ferdi adalah ayah dari tiga anak, yakni Angel (Hannah Al Rashid), Bella (Amanda Rawles), dan Tasya (Gabriella Quinlyn). Ibu mereka telah lama meninggal. Mereka bingung menghadapi situasi sang ayah hingga suatu ketika Bella bertemu dengan Rama (Jefri Nichol) di kampusnya. Rama adalah seorang pemuda yang tertarik dengan kejawen serta mistik. Rama menyarankan untuk pergi ke villa dimana ayah mereka tak sadarkan diri. Mereka pun berangkat untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan sang ayah.

Plot film ini sangat sederhana. Background cerita yang digambarkan di awal, mampu menggambarkan masalah utama serta motif. Montage kecil yang berisi aktivitas Angel, Bella, dan Tasya menghadapi situasi ayahnya yang sedang koma, mampu menggambarkan suasana hati mereka yang dilanda kebingungan. Plot dan tempo film hingga adegan di rumah terpencil nyaman untuk dinikmati. Unsur misteri pun terbangun dengan baik di sini hingga akhirnya mereka menemukan Jailangkung yang menjadi masalah utama. Namun, sejak momen ini, mendadak semuanya berubah, plot dan tempo bergerak cepat sehingga kisahnya kurang bisa dinikmati.

Baca Juga  Heart, Sekedar Menikmati Pemandangan Alam

Jika saja alur kisahnya tidak tergesa-gesa rasanya plotnya akan berjalan lebih menarik. Unsur misteri yang telah dibangun dengan baik pada separuh awal film, pelan-pelan menghilang tergantikan aksi-aksi kejutan yang mengumbar sosok hantu. Hingga akhir film, adegan-adegan yang ditampilkan hanya terkesan ingin mempermainkan rasa keteganggan penonton tanpa mengolah plot dan tempo dengan baik. Walau satu adegan aksi di rumah sakit ketika Bella terjebak di tangga darurat, mampu disajikan dengan baik penuh dengan ketegangan.

Secara teknis pencapaiannya sudah lumayan baik, seperti setting yang dibangun dalam tiap adegannya sudah mampu menggambarkan suasana suram dan mendukung mood horor filmnya. Namun, beberapa hal justru terasa sangat mengganjal, misalnya, tokoh sang ayah, menggunakan make up yang relatif sama pada tiap umur yang berbeda. Akting pemain juga rata-rata masih terlihat kaku sehingga kurang bisa menghidupkan filmnya. Lalu sosok Eyang Rama jika saja diperankan oleh aktor yang terlihat bijak dan penuh karisma rasanya akan lebih kuat menampilkan sosok “orang pintar” namun ini justru ditonjolkan sisi komedinya.

Jika dibandingkan dengan Jelangkung, Jailangkung menggunakan formula serta pendekatan yang berbeda. Jelangkung menekankan pada sisi aksi horor serta aspek remaja sementara film ini pada masalah keluarga dengan pendekatan yang lebih dramatik. Sayang sekali, sebenarnya jika kisah filmnya digarap lebih sabar, rasanya Jailangkung bisa berpotensi menjadi film horor yang berkualitas. Beruntung, karena tanggal rilis dan juga satu-satunya film horor pada masa liburan ini, film ini bisa mengekor sukses komersial Danur beberapa bulan silam.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaSurat Kecil untuk Tuhan
Artikel BerikutnyaInsya Allah Sah
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.