Jason Bourne (2016)

123 min|Action, Thriller|29 Jul 2016
6.6Rating: 6.6 / 10 from 243,826 usersMetascore: 58
The CIA's most dangerous former operative is drawn out of hiding to uncover more explosive truths about his past.

Sembilan tahun sudah sejak Bourne Ultimatum (seri ketiga) dirilis serta satu spin off, Bourne Legacy yang rilis tahun 2012 lalu. Sineas kawakan yang menggarap seri kedua (Bourne Supremacy) dan ketiga, Paul Greengrass, kembali duduk di bangku sutradara. Ini adalah untuk kesekian kalinya kolaborasi antara sang aktor, Matt Damon dan Greengrass. Tiga seri awal Bourne dipuji secara kritik dan serta sukses komersil. Apa yang ditawarkan seri kelimanya ini tidak lebih adalah pengulangan semua yang hebat di seri-seri sebelumnya.

Sejak sepuluh tahun pasca kejadian di seri ketiga rupanya Bourne masih saja dihantui oleh masa lalunya. Cerita bermula ketika rekan lama Bourne, Nicky Parson memberikan informasi tentang CIA yang akan meneruskan project Treadstone dengan project Ironhand. Bourne terpaksa beraksi kembali ke lapangan karena ingin pula mengetahui keterlibatan ayahnya dalam project Treadstone. Di lain pihak, pimpinan CIA, Robert Dewey berniat memburu dan membunuh Bourne karena dianggap dapat mengancam masa depan project-nya.

Melelahkan dan membosankan, komentar singkat tentang film ini. Saya penggemar berat trilogi Bourne dan amat sangat mengejutkan ketika sama sekali tidak ada yang baru dalam film sekuelnya ini. Semuanya adalah pengulangan elemen cerita dari tiga seri sebelumnya. ”I remember everything” , kata Bourne mengawali filmnya. Kalimat ini rupanya belum cukup bagi Jason untuk bisa meninggalkan semuanya dan move on dengan project Treadstone, Blackbriar, dan sebagainya. It’s over man! Tidak habis pikir mengapa penulis naskah menggunakan formula yang sama untuk kesekian kalinya. Semua aksi dan drama sudah bisa diduga akan mengarah kemana. Fans Bourne mesti tahu persis ini. Sangat mengecewakan!

Baca Juga  21 Bridges

Greengrass sebagai sineas memang masih menjaga gayanya yang khas, tempo editing cepat, kamera handheld, serta sekuen aksi yang dinamik. Namun apalagi yang mau dilihat jika semua aksinya sudah ada di seri sebelumnya. Car chase yang menjadi trademark seri Bourne menjadi sekuen klimaks filmnya, Greengrass terbukti masih amat terampil mengemas sekuen ini. Namun jika dibandingkan dengan sekuen car chase di Bourne Supremacy, sekuen ini amat inferior. Ilustrasi musik Bourne yang menjadi salah satu kekuatan seri Bourne kini juga sudah tidak mampu lagi mengangkat filmnya. Semua serba melelahkan.

Jason Bourne merupakan seri franchise yang sudah lelah. Tidak ada penyegaran dari nyaris semua sisi, plot dan aksi thriller-nya hanya merupakan pengulangan seri-seri sebelumnya. Matt Damon yang menjadi ruh filmnya juga kini sudah tampak tua dan lelah. Aktor gaek, Tommy Lee Jones, inti perannya tidak jauh berbeda dengan direktur CIA sebelumnya, sementara Alicia Vikander hanya cukup menjadi pemanis tidak lebih. Usaha spin off beberapa tahun lalu sebenarnya menjadi solusi bagus namun entah mengapa tidak dilanjutkan. Rasanya memang bisnis semata, Bourne ke-5 ini diproduksi dan mereka mencoba bermain aman dengan formula sebelumnya. Jika laris mungkin sekuel berikutnya akan diproduksi lagi. Kita lihat saja. Bagi saya seri ini sudah tamat.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaI Love You from 38.000 Feet
Artikel BerikutnyaReboot The Rocketeer & Remake Jumanji
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.