Seorang kawan membuat status di akun Facebook-nya beberapa waktu lalu. Begini katanya, “Liat film2 lokal coming soon di 21cineplex.com. Pengen pingsan. Ada yang judulnya “Cin, Tetangga Gue Kuntilanak.”

Wajar reaksinya begitu. Saya pun kaget—meski tak sampai ingin pingsan. Seorang kawan, saat ber-BBM ria menyebut judul itu sebagai “Judul Film Abad Ini”, tentu dengan nada seloroh.

Memangnya apa yang salah dengan judul itu?

Tidak ada yang salah sebetulnya. Mendiang SM Ardan, pengamat film sekaligus mantan pemimpin Sinematek, pernah menulis di Kompas, kalau EYD (Ejaan yang Disempurnakan) tak laku di film. Ia memberi contoh, film cerita pertama Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng (1926) yang masih bisu lalu dibuat ulang dengan judul Lutung Kasarung (1852) yang sudah bicara dan lalu dibuat ulang lagi Lutung Kasarung (1983) yang sudah berwarna.

Sementara itu, dicontohkan Ardan, sineas Sjuman Djaya membuat film Si Doel Anak Betawi (1973) dan dilanjutkan dengan Si Doel Anak Modern (1976). Walau EYD sudah berlaku sejak 17 Agustus 1972, Sjuman Djaya tetap mempertahankan memakai judul “Si Doel” dan bukan “Si Dul”. Kemudian, saat Rano Karno mengangkat lagi kisahnya jadi sinetron pada 1994 nama Doel tetap dipertahankan jadi “Si Doel Anak Sekolahan.”

Pendek kata, Judul “Cin… Tetangga Gue, Kuntilanak!” tidaklah salah dari segi tata bahasa. Sebab, judul film memang tidak sepatutnya patuh pada tata aturan berbahasa menurut EYD.

Yang jadi masalah, judul film itu memang bermasalah. Dengan menambah “Cin..” jelas filmnya sangat menggunakan istilah kekinian. “Cin..” adalah bahasa gaul yang merupakan kependekkan dari “cinta”. “Cinta” di sini sudah jadi kata ganti “kamu” atau “kau” yakni sebutan sayang pada orang yang dicintai. Makna “Cin..” kemudian melebar dan diumbar bukan  hanya ditujukan kepada orang yang dicintai.

Di Jakarta sini, terutama bila Anda bergaul dengan kalangan dunia hiburan, sapaan ”Cin..” atau “Say..” (dari “sayang”) bertebaran di mana-mana.
Masalahnya ya itu, kata itu terutama tenar jadi bahasa gaul Jakarta mutakhir. Saya tak yakin kata itu sudah jadi bahasa gaul di seantero negeri. Hingga ketika filmnya tayang di daerah, mungkin orang daerah tak terlalu paham maksudnya. Mereka mungkin bertanya-tanya, “Cin..” singkatan dari apa? Kalau artinya “cinta” apa itu ditujukan buat orang terkasih? Lalu, bagaimana mengucap “Cin..” yang betul?

Baca Juga  Unstoppable, Unstoppable Aksi

Menilik banyak judul-judul film sekarang, sudah kelihatan seperti apa filmnya. Bahkan kita bisa melihat evolusi kualitas film kita ditilik dari judul-judulnya saja. Kesimpulannya, makin ke sini makin buruk.

Judul film-film sekarang berbeda betul dengan judul-judul film kita di tahun 70-an atau 80-an. Dari judul film-filmnya Warkop DKI misalnya, kita menemukan permainan kata-kata kocak seperti: Maju Kena Mundur Kena, Kesempatan dalam Kesempitan, Atas Boleh Bawah Boleh, Depan Bisa Belakang Bisa, Bisa Naik Bisa Turun, Lupa Aturan Main, dan macam-macam lagi. Dari film-film drama tahun ’80-an kita ketemu judul-judul puitis seperti Seputih Kasih Semerah Luka, Serpihan Mutiara Retak, Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Senyum di Pagi Bulan Desember, Terang Bulan di Tengah Hari, atau Tatkala Mimpi Berakhir.

Sementara itu dari awal 2000-an kita ketemu judul Ada Apa dengan Cinta?. Judul ini dianggap berhasil karena kemudian jadi kosakata budaya pop dipinjam koran atau majalah dengan judul “Ada Apa dengan Anu?” atau “Ada apa dengan Si Fulan?” saat menulis judul berita.  Fenomena ini persis judul film bagus awal tahun 1970-an, Apa Yang Kau Cari Palupi?.

Dari yang kocak, puitis, dan dikenang itu judul-judul film kita kemudian mengalami kemunduran kualitas. Sepanjang dua-tiga tahun terakhir, yang ada di bioskop adalah judul-judul seperti: Maaf, Saya Menghamili Istri Anda, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Hantu Puncak Datang Bulan, hingga akhirnya kita ketemu Cin… Tetangga Gue Kuntilanak atau yang ini: Susah Jaga Keperawanan di Jakarta. Waktu baca judul itu, saya sih hanya bisa membatin, memangnya susah, ya? Lalu, di daerah lain lebih gampang? Apa sih yang ada di kepala sineasnya waktu menentukan judul itu? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa saya tanyakan, dan tak mau dijawab dengan perubahan lebih baik oleh sineas kita.

Artikel SebelumnyaThe Mechanic
Artikel BerikutnyaJIFFEST 2010
Kontributor Montasefilm.com, bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Bukunya yang sudah terbit “Seandainya Saya Kritikus Film” (Homerian Pustaka, Yogyakarta), rilis 2009.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.