Film horor terbagi menjadi beberapa subgenre, salah satunya adalah subgenre horor kosmik (lovecraftian). Horor jenis ini menciptakan atmosfer seram dengan elemen-elemen unik seperti perasaan terasing, rasa ngeri pada sesuatu yang tak dapat dipahami, dan sebagainya. Ada perasaan tidak nyaman usai menonton subgenre ini. Perasaan ini akan penonton rasakan saat menyaksikan serial Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre.

Serial anime yang digarap oleh Studio Deen ini tayang di Netflix sejak 19 Januari 2023. Sutradaranya adalah Shinobu Tagashira, sedangkan naskahnya dibidani oleh Kaoru Sawada. Musim pertama ini terdiri dari 12 episode dengan durasi sekitar 25 menitan per episode. Seperti judulnya, 20 cerita horor dalam anime ini diangkat dari karya Junji Ito. Termasuk karya populernya, Tomie dan Soichi.

Oleh karena pengalaman menonton film horor umumnya personal, maka ijinkan saya kali ini menulis ulasan dengan personal.

Nama Junji Ito populer di kalangan pencinta manga horor Jepang. Saya sendiri belum pernah membaca cerita horor Junji Ito yang beredar di Indonesia. Oleh karenanya ketika menyaksikan serial anime ini awalnya saya merasa antusias, tapi kemudian saya merasakan perasaan tak nyaman setiap kali usai satu cerita.

Agak berat untuk menuntaskan 12 episodenya karena unsur horornya bukan sesuatu yang biasa. Namun, ada rasa penasaran untuk menyaksikan episode lainnya hingga kemudian tamat. Ada 20 cerita dan saya akan bercerita tentang beberapa episodenya yang ceritanya bak mimpi buruk.

Cerita pertama adalah tentang Ice Cream Bus di episode kedua. Episode ini menceritakan misteri bus es krim yang rajin menjemput anak-anak untuk merasakan sensasi menyantap es krim sambil berkeliling kota bersama anak-anak lainnya. Setiap kali bus tersebut datang, anak-anak menyambutnya dengan gembira. Namun rupanya ada sesuatu rahasia mengerikan yang tak boleh diketahui para orangtua. Rahasia dari bus es krim itu ternyata lebih seram dan mengganggu dari yang saya prediksikan. Tawa anak-anak dan gambar warna-warni sangat kontras dengan apa yang terjadi kemudian.

Cerita kedua yang membuat saya perlu jeda berhari-hari usai menontonnya, berjudul Hanging Balloon di episode ketiga. Dikisahkan seorang Idol ditemukan tewas gantung diri. Kejadian tersebut membuat teman-teman sekolah dan para fans berduka. Namun ada kejadian janggal setelah upacara pemakaman. Beberapa orang melihat ada kepala raksasa dengan wajah seperti Idol tersebut. Rupanya kepala raksasa itu semacam balon, namun bukan balon biasa.

Baca Juga  Mimi

Warna-warna yang suram dan kemunculan balon dengan wujud kepala raksasa itu menyesakkan. Benar-benar cerita yang paling membuat saya tak nyaman. Memang horor Jepang sering menceritakan kasus bunuh diri tapi baru kali ini dikaitkan dengan balon mengerikan. Tak dijelaskan awal muka serbuan balon tersebut, tujuannya, dan juga bagaimana melenyapkannya. Penonton, sama seperti halnya warga kota dalam cerita tersebut, sama putus asanya dan sama merasai teror yang mengerikan.

Cerita ketiga yang membuat saya merasakan atmosfer horor adalah Tomb Town dari episode ketujuh. Ceritanya tentang kakak beradik yang tak sengaja menabrak seseorang ketika hendak menemui kawan si adik. Si korban ternyata meninggal dan si kakak meminta si adik merahasiakan perbuatannya.

Rupanya kota tujuan mereka adalah disebut kota nisan. Nisan bertebaran di mana-mana, termasuk di jalan raya dan di dalam rumah. Di tempat setiap makhluk hidup yang meninggal, akan tumbuh nisan secara ajaib. Ini membuat kakak beradik cemas rahasia mereka ketahuan.

Bayangkan ada nisan bertebaran di jalan-jalan dan di dalam rumah. Pemandangan ini tentu sudah membuat tak nyaman. Demikian juga dengan proses batu nisan tersebut muncul secara alami, tanpa bantuan manusia. Ceritanya sungguh imajinatif. Namun imbas usai menontonnya juga sama-sama menghadirkan perasaan tak nyaman.

Bagaimana dengan 17 cerita lainnya? Cerita-cerita selebihnya bukan berarti tak seram, namun masih bisa ditoleransi. Cerita-cerita horor lainnya juga imajinatif, tema-temanya tak biasa.

Ada cerita tentang sosok adik yang menyeramkan, ruh yang keluar dari dinding, terowongan misterius, keluarga yang eksentrik, wajah yang berlapis-lapis, pembunuhan oleh sosok dari dunia paralel, sosok Tomie yang misterius, dan masih banyak lagi. Beberapa cerita memiliki unsur dark humor dan beberapa cerita lainnya mudah ditebak jalan ceritanya.

Visual dalam Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre umumnya memiliki tone yang muram dan menyeramkan dengan warna-warna yang suram. Gambar-gambarnya ada kalanya begitu disturbing sehingga efek perasaan tidak nyaman ini bisa dirasakan berhari-hari usai menyaksikan serial anime ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaViking Wolf
Artikel BerikutnyaBlood
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.