Justice League (JL) telah rillis dua minggu yang lalu. Seperti halnya Batman vs Superman, film ini mendapat apresiasi rendah dari kebanyakan pengamat. Dua website kritik film populer yang mengkompilasi ratusan ulasan film memberikan skor buruk. Website rottentomatoes.com memberikan rating 41%, sementara metacritics memberikan skor 46. JL juga sama nasibnya dengan film-film DC Extended Universe (DCEU) lainnya, yakni Man of Steel (MoS), Batman vs Superman (BvS), serta Suicide Squad (SS). Namun, film-film ini terbukti kebal dari kritik karena sukses komersialnya, tercatat JL pun kini meraih hampir US$ 500 juta di rilis globalnya, walau suksesnya bisa jadi tidak akan sebesar film-film DCEU sebelumnya. Tercatat hanya Wonder Woman (WW) yang meraih sukses kritik (92%) dan komersial (US$ 821.8 juta) sekaligus.

Sebenarnya apa yang menyebabkan kegagalan JL secara kritik? Fans fanatik DC tentu tidak terima dengan semua ini, rivalitas dengan pesaingnya, Marvel, semakin memanas. Satu hal mendasar yang menjadi opini para pengamat film adalah bagus tidaknya sebuah film. Film bagus ya tentu film bagus, tanpa ada embel-embel lainnya, begitu pun sebaliknya. Masalah selera bisa jadi ikut di dalamnya tapi para pengamat tentu memiliki argumennya sendiri dari perspektif mereka yang berbeda-beda. Tak perlu pengamat film ahli untuk melihat bahwa JL adalah film yang buruk. Semua penonton film sejati tentu sudah tahu mengapa. Ada banyak faktor yang bisa menjadi acuan. Berikut adalah diantaranya.

  1. Naskah yang Lemah

Sejak MoS kita sudah melihat gejala ini, walau memiliki latar belakang cerita yang cukup, namun film ini tidak memiliki unsur drama maupun intensitas ketegangan yang diharapkan. BvS yang seperti kita tahu dikerjakan serba cepat dan memaksa karena rival mereka semakin perkasa di pasar global, membuat DC jelas tidak ingin kalah bersaing. Tokoh-tokoh baru dimasukkan tanpa penjelasan yang cukup, hasilnya emosi pun kurang maksimal, hal yang sama terjadi juga pada SS dan JL. WW adalah pengecualian. Tampak sekali film ini naskahnya dikerjakan dengan lebih matang dan terkonsep. Hasilnya, penonton bisa berempati dengan karakter menawan ini dengan kisahnya yang lebih humanis.

  1. CGI Medioker

Genre superhero sudah identik dengan penggunaan CGI atau rekayasa digital. Sajian utama genre ini bisa dibilang adalah aspek ini, khususnya untuk mengemas adegan aksinya. Namun, pencapaian CGI dalam film-film DCEU terutama tiga filmnya, BvS, SS, dan JL terhitung amat buruk dan terlalu artifisial, seperti tampak pada segmen klimaksnya. CGI memang identik dengan biaya yang mahal, namun hal ini tentu tidak bisa dipercaya, mengingat bujet produksi JL adalah US$ 300 juta (imdb.com)! Tidakkah studio pembuatnya melihat pencapaian film-film pesaing mereka?

  1. Rivalitas MCU

Seperti kita tahu rivalitas antara DC dan Marvel sebenarnya sudah ada sejak lama, namun semakin memanas sejak Marvel Cinematic Universe (MCU) bergulir. Sejak 20th Centry Fox merilis X-Men di awal milenium, tak ada banyak konflik seperti sekarang. Demikian pula dengan Spiderman yang rilis dengan tahun 2002. Sejak MCU merilis Iron Man (2008) dan diikuti sukses komersial dan kritik film-film setelahnya, DC seperti tersentak dan baru merilis MoS tahun 2013. Padahal selama itu, DC juga sukses dengan trilogi The Dark Knight-nya Christopher Nolan.

Baca Juga  Bagaimana Menilai Sebuah Film?

MCU membangun konsep universe-nya dengan sabar dan matang. Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan dan MCU tidak pernah menggunakan formula yang sama dalam film-film mereka. Selalu ada yang baru dan segar dalam film-film mereka. Unsur drama, komedi, sisi humanis, serta pencapaian visual tampak selalu seimbang dalam hampir semua film mereka. Pesaing lain, X-Men universe pun juga mengekor, dan baru lalu sukses komersial dan kritik melalui Deadpool dan Logan. Sebaliknya, DC terlihat panik dan membangun dunia semesta mereka dengan penuh ketergesaan seperti tak ingin ketinggalan momentum. Hasilnya pun kini sudah kita ketahui bersama. Marvel pun kini semakin melenggang tak terbendung dengan MCU-nya. MCU memang telah meletakkan pondasi yang kuat sejak awal dan kesabaran mereka kini terbayar sudah.

  1. Superioritas Film-film DC Sebelumnya

Superman dan Batman, boleh jadi adalah dua tokoh superhero paling populer di muka bumi ini. Tak ada yang tak mengenal mereka. Bisa jadi ini pula mengapa ekspektasi pada film dua tokoh ini begitu tinggi. Superman yang rilis hampir 40 tahun lalu menjadi film pelopor genre superhero setelahnya. Semua orang seperti melonjak kegirangan karena akhirnya sosok idola mereka bisa muncul dalam medium film. Hingga kini pun, Superman masih dianggap sebagai salah satu film superhero terbaik sepanjang masa. Sosok Batman, satu dekade kemudian berhasil dihidupkan oleh Tim Burton dengan pencapaian artistik yang sangat tinggi, dan dianggap mempelopori genre superhero modern setelahnya. Dua dekade kemudian, Christopher Nolan pun meletakkan standar genre ini makin tinggi melalui trilogi The Dark Knight. Faktor-faktor ini, bisa jadi melatarbelakangi mengapa film-film DCEU sulit bersaing secara kritik. Sosok Superman dan Batman telah memiliki standar film yang demikian tinggi. Walau faktor ini pun sebenarnya juga tidak bisa dijadikan alasan utama karena MCU pun nyatanya berhasil membuat sosok Spider-Man menjadi lebih segar dari sebelumnya dengan terbukti Spider-Man: Homecoming sukses kritik dan komersial.

DCEU sepertinya harus merombak ulang konsep mereka jika ingin bersaing dengan para kompetitor mereka. Mereka butuh penulis naskah yang brilian dan segar. Rasanya, ini pun sudah kepalang basah dan terlambat, namun tidak ada kata mustahil. Wonder Woman berhasil melakukannya, mengapa yang lain juga tidak bisa? Komik memang berbeda dengan medium film. Penonton film jelas tidak semua membaca komiknya, dan mereka pun memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang tokoh-tokoh superhero idola mereka. Medium film semata tidak hanya untuk pasar atau penikmat film, namun juga untuk pengembangan seni film itu sendiri. Sudah terbukti, beberapa film superhero memiliki pencapaian artistik maupun kedalaman tema yang sangat tinggi hingga bisa dikategorikan masterpiece. Genre ini bakal akan terus berkembang, terlepas dari sukses DC atau Marvel, sebagai dua komik populer penyumbang tokoh superhero terbanyak. Superhero adalah simbol harapan, bahwa ada batas tegas antara kebaikan dan kejahatan yang kini sudah mulai menipis. Demikian pula medium film, ada batas antara film bagus dan film buruk, ataukah kini juga mulai menipis?

Artikel SebelumnyaMurder on the Orient Express
Artikel BerikutnyaKiprah Sineas Perempuan yang Membanggakan di Tingkat Internasional
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

2 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.