Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)
97 min|Horror|02 Aug 2018
Rating: Metascore: N/A
N/A

Kafir: Bersekutu dengan Setan merupakan film horor besutan sutradara Azhar Kinoi Lubis. Film ini kali pertama sang sineas memproduksi film horor, yang sebelumnya lebih sering memproduksi film drama, seperti Jokowi (2013), Dibalik 98 (2015), dan  Demi Cinta (2017). Kafir: Bersekutu dengan Setan ini dinanti banyak penonton karena dari trailer-nya bernuansa sama dengan Pengabdi Setan besutan Joko Anwar. Dalam dua hari pemutaran, Kafir telah meraih 60.608 penonton. Ketika saya menonton film ini pun, seluruh bangku di gedung bioskop terisi penuh. Kita tunggu saja, apakah film ini akan se-booming film Pengabdi Setan atau tidak?

Kisahnya sendiri tentang sebuah keluarga yang bahagia, namun situasi berubah ketika sang ayah meninggal dengan cara yang tak wajar. Keluarga tersebut terdiri dari sang ibu, Sri (Putri Ayudya) serta kedua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina). Mereka mengalami hal-hal aneh dan tidak masuk akal. Sri menjadi pemurung, sakit-sakitan, dan bersikap aneh. Andi dan Dina mengira ibunya belum merelakan kepergian sang ayah. Namun, suatu ketika Sri memuntahkan sebuah beling dari mulutnya, sama seperti yang dialami suaminya. Pemeriksaan medis tidak menemukan gejala apapun. Dina mencoba mempelajari keanehan tersebut dan meyakini bahwa ibunya menyimpan sebuah misteri yang tidak diketahui ia dan kakaknya.

Walaupun kisahnya mengambil topik permasalahan berbeda dengan Pengabdi Setan (2017), namun ada beberapa kesamaan dalam plotnya. Seperti kematian sang ayah yang tak wajar mirip kisah Pengabdi Setan di mana sang ibu juga meninggal tak wajar. Selanjutnya, kita bisa menebak pasti keanehan-keanehan akan terjadi setelahnya. Walaupun tidak lagi fresh, namun kisah film ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni tema santet. Satu adegan yang menarik adalah pola investigasi sang putri untuk memecahkan misteri yang menimpa keluarganya. Dina mencoba menelisik masa lalu keluarganya dengan berbekal sebuah foto yang membuat penonton penasaran tentang alur kisahnya.

Baca Juga  Kuntilanak

Jangan berharap akan melihat sosok hantu yang muncul seperti di film horor kita kebanyakan, namun film ini menyajikan kisah horor melalui ketegangan cerita. Ini yang menjadi kekuatan filmnya. Semenjak keanehan terjadi, sang sineas mampu menjaga tone misteri dan ketegangan dalam ceritanya tanpa memunculkan sosok seram. Bukan hantu yang membuat kita takut, namun oleh karakter Sri, sang ibu yang bersikap dingin dan aneh.

Kisahnya didukung dengan setting dan tone bernuansa era 1980-an. Suasana mendung dan berkabut yang mendominasi juga menambah kesan suram. Setting terbatas memudahkan sang sineas untuk mengolah adegan-adegannya yang terpusat di rumah bernuansa kuno yang mereka tinggali. Tidak hanya itu, iringan musik lawas era 1980-an pun menambah tone kelam dan horor filmnya, mirip lagu-lagu lawas dalam Pengabdi Setan.

Terlepas dari kisah dan pendekatan sinematiknya yang tidak lagi fresh, film ini layak diapreasiasi dan tentunya bisa menjadi acuan bagaimana sebaiknya film horor diproduksi oleh Sinema Indonesia. Film horor kita masih mengandalkan sajian sosok hantu yang mengagetkan penonton semata dan kadang mengumbar adegan sadis dan brutal sebagai wujud terornya. Film horor yang baik, seharusnya memiliki cerita dan plot yang menegangkan, bukan hanya adegan teror semata.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBuffalo Boys: Perwakilan Imajinasi Bangsa Imajiner
Artikel BerikutnyaTenggelamnya Kapal Van der Wijck
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini