karate kid legend

Karate Kid: Legends adalah seri keenam dari seri Karate Kid kreasi Robert Mark Kamen yang diawali tahun 1984. Film arahan Jonathan Entwistle ini dibintangi dua aktor seri terdahulu, yakni Ralph Macchio (seri 1, 2, dan 3) dan Jackie Chan (Seri 5). Film ini dibintangi oleh  Ben Wang, Joshua Jackson, Sadie Stanley, dan Ming-Na Wen. Ini adalah untuk kali pertama, plot “spin-off”-nya dipadukan dengan cerita aslinya, bahkan seri televisinya. Apakah popularitas film dan seri televisinya bakal mampu mengangkat filmnya ini?

Li Fong (Wang) dan ibunya (Wen), pindah dari Beijing ke AS mengikuti sang ibu yang bekerja di sebuah RS di Kota New York. Li pun dengan berat hati meninggalkan perguruan Kung Fu-nya dan suhunya, Mr. Han (Chan). Di lingkungan tempat Li tinggal, ia berjumpa dengan Mia (Stanley) dan ayahnya, Victor (Jackson), yang berjualan pizza di gedung sebelah. Kebetulan pula Mia bersekolah di tempat yang sama dengan Li. Masalah bermula, ketika Victor yang terbelit hutang, ingin kembali ke ring tinju untuk menyelesaikan masalah ekonominya. Li yang berbekal ilmu beladiri akhirnya melatih Victor, namun justru berbuah musibah. Mr. Han pun datang dan memaksa Li untuk mengikuti kontes beladiri dengan meminta bantuan Daniel (Macchio), murid dari sahabatnya, Mr. Miyagi.

Bagi yang kenal betul dengan seri ini sejak awalnya, tahu betul bagaimana kedekatan unik dua tokohnya, khususnya Daniel dan Mr. Miyagi. Mengapa seri ini dihentikan karena naskahnya bisa jadi memang sudah terlalu konvensional untuk masa dan target penontonnya. Usaha me-reboot pun juga terhitung gagal melalui seri keempat. Satu lagi, soft reboot, The Karate Kid (2010), kali ini hanya membawa “semangat” serinya, tanpa sedikitpun punya relasi cerita dengan seri sebelumnya. Judulnya pun lebih tepat, “The Kung Fu Kid” dengan Mr. Han menjadi pengganti sosok “Mr. Miyagi”. Sekali pun sudah keluar jalur dari aslinya, film ini tidak bisa dibilang buruk dan bahkan sukses luar biasa. Niat membuat sekuelnya pun tidak pernah terlaksana. Lantas bagaimana dengan Karate Kid: Legends?

Beragam opini bisa jadi bakal muncul. Namun bagi saya, ini adalah sebuah usaha yang menggelikan. Naskahnya mencoba memadukan seri kelima dengan kisah orisinalnya, mengapa tidak? Seri Karate Kid kini kembali menemukan mojo-nya melalui seri televisi Cobra Kai yang menjadi andalan Netflix dan telah berjalan 6 musim hingga kini. So far, tidak ada tanda-tanda seri ini bakal berhenti dan bahkan berkembang ke media lain, seperti video gim, buku, hingga komik. Bisa jadi, memadukan kisah feature dengan serinya justru adalah satu eksplorasi brilian yang kelak bisa menyelipkan karakter Mr. Han atau Li dalam seri ke depan.

Baca Juga  Deadpool

Adegan pembuka menyajikan satu pengadeganan masa silam, antara Daniel dengan Mr. Miyagi yang memberikan momen nostalgia bagi yang dulu menonton seri aslinya. Namun, film ini tidak bicara soal nostalgia. Di luar strategi bisnisnya, jika kita melihat melalui perspektif plotnya, memang sedikit janggal. Apakah dulu Mr. Miyagi pernah menyinggung sosok Mr. Han? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Daniel tidak mengenalinya jika relasi gurunya dan Han sedekat itu? Lalu perpaduan antara konsep Karate (yang menjadi titel) dan Kung Fu juga tampak sekali memaksa dengan sekadar menyambungkan bagitu saja dengan dalih filosofi keseimbangan ala timur.

Plotnya pun tidak pernah mengarah ke sana (kedalaman filosofi) dan tidak memiliki tone serius serta ancaman yang cukup untuk sekadar menaikkan tensi ketegangan. Sejak karakter Mr. Han dan Daniel muncul, justru tone komedi bertambah kental yang makin menurunkan “ancaman”. Sejak momen ini kisahnya mudah diantisipasi dan rasa lelah pun mulai terasa. Separuh durasi awal, ketika momen Li melatih Victor justru adalah sentuhan cerita menyegarkan yang menyenangkan untuk diikuti. Momen klimaks yang dinanti, berakhir seperti yang diharapkan tanpa ada proses yang intens. Gerakan maut Li di penghujung aksi tarungnya juga mengingatkan pada tendangan Bangau milik Daniel di momen yang sama.

Di luar sisi tribute-nya, Karate Kid: Legends adalah sebuah tendangan kecil yang tidak menyakitkan siapa pun tanpa memori membekas. Penampilan kastingnya juga serupa dan kini tidak ada lagi chemistry kuat antara guru dan murid seperti sebelumnya. Hubungan Li dengan Mia dan ayahnya, justru mencuri perhatian di mana chemistry ketiganya terjalin hangat. Untuk serinya, ini adalah satu uji coba besar, jika berhasil, seri televisinya bisa jadi dikembangkan sebagai feature, atau sebaliknya. Jika kamu mencari kisah drama aksi memikat seperti film-filmnya di masa silam, rasanya kamu mencari di tempat yang salah. Walau memiliki nuansa keluarga dan persahabatan yang kental, namun aksi-aksinya (menendang kepala) sedikit ekstrem untuk anak-anak.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaFear Street: Prom Queen | REVIEW
Artikel BerikutnyaEurope on Screen 2025: Rayakan 25 Tahun Nonton Bareng Film Eropa
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses