Kartini: Princess of Java (2017)

122 min|Biography, Drama, Family|19 Apr 2017
7.5Rating: 7.5 / 10 from 613 usersMetascore: N/A
This movie follows the story of the Indonesian heroine named Kartini. In the early 1900s, when Indonesia was still a colony of the Netherlands, women weren't allowed to get higher education. Kartini grew up to fight for equality f…

Pesona Kartini tidak pernah pudar. Perjuangannya untuk menempuh pendidikan begitu gigih dan menginspirasi bangsa Indonesia. Kartini yang lahir sebagai Raden Ajeng, merupakan anak bupati Jepara pada jaman penjajahan Belanda. Meskipun hidupnya terbelenggu oleh budaya kebangsawanan yang penuh kerumitan, ia tidak putus asa untuk terus memperjuangkan haknya tanpa mengenal rasa takut.

Kartini merasa bosan harus berada di kamar pingitan selama menanti lamaran seorang laki-laki yang pantas memperistrinya. Kakak laki-lakinya pun memberikan ia akses untuk membaca buku sehingga dapat memperluas wawasannya. Bersama kedua adik perempuannya, Kardinah dan Rukmini, ia berupaya untuk terus berkarya bersama orang-orang Belanda yang mendukung keinginannya. Sayangnya, tindakan mereka bertiga justru dianggap membangkang dan tidak sesuai dengan aturan, salah satunya justru oleh Ibu (tiri) dan kakak laki-laki mereka yang lainnya. Pernikahan pun menjadi halangan ketika proses perjodohan memaksa mereka untuk menghentikan semua mimpi. Hingga perjuangan tanpa akhir membuahkan hasil yang hingga kini terus dikenang.

Film garapan Hanung Bramantyo ini mungkin agak membuat penonton merasa bosan dan mengantuk karena bergenre drama dengan tempo yang lambat. Akting para pemain tidak istimewa. Kualitasnya semakin tidak memuaskan karena penggunaan bahasa Jawa yang terkesan memaksa, karena tidak mereka kuasai dengan baik. Mungkin saja, pengucapan bahasa Belanda yang terdapat dalam film juga tidak baik kualitasnya, tetapi dalam hal ini penulis tidak bisa berkomentar karena sama sekali tidak menguasai. Kemunculan Reza Rahardian pun tampak hanya sekedar lewat, dan aktingnya masih belum lepas dari karakter Habibie yang sebelumnya ia mainkan. Justru para pemain pembantu tampak sangat luwes dan mendalami karakternya. Kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh latar belakang pemain yang memang orang Jawa sehingga tampak natural. Akting pemain senior Christine Hakim dan Deddy Sutomo patut diacungi jempol.

Berdasarkan keterbatasan penulis mengenai detail kebudayaan Jawa khususnya tempo dulu, penyajian setting, kostum dan properti sudah cukup representatif. Cara penyajian cerita yang memadukan kenyataan dan imajinasi menjadi gaya yang cukup unik. Sedangkan ilustrasi musik dan lagu tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada filmnya secara keseluruhan. Plot film berjalan dengan cukup jelas sehingga mudah diikuti dan permasalahan dijabarkan dengan fokus. Tetapi, terdapat karakter-karakter yang tidak digali lebih dalam sehingga tampak hanya sekedar tempelan semata.

Baca Juga  Toko Barang Mantan

Terlepas dari segala kekurangannya, film yang naskahnya ditulis oleh Hanung Bramantyo dan Bagus Bramanti ini konsisten untuk terus mengarahkan cerita pada pesan kesetaraan gender yang ingin disuarakan. Film ini berani menampilkan sosok Kartini yang tampak berbeda dari penggambaran Kartini dari film-film sebelumnya. Kartini digambarkan sebagai perempuan muda yang cukup urakan, ceria, spontan dan bersemangat. Penggambaran ini memberikan kesegaran pada penokohan Kartini sehingga cukup menghibur. Menariknya, meskipun mengedepankan kepentingan feminisme, film ini justru berhasil menggambarkan kesetaraan gender tanpa harus menjatuhkan posisi laki-laki. Tampak bahwa sineas memahami ketidakadilan gender juga sangat dipengaruhi oleh budaya yang terus dilestarikan dalam masyarakat khususnya pada masa itu. Tidak hanya perempuan, tindakan laki-laki pun merupakan hasil dari turunan budaya yang membuat mereka sulit memahami situasi dan menentukan tindakan yang bijak. Melalui karakter ayah Kartini, digambarkan dengan jelas bahwa sikap yang teguh dan adil dapat mengubah situasi sehingga mendobrak ketidakadilan yang terus berjalan atas nama kebudayaan yang luhur.

Selain itu, kritik terhadap perempuan juga tampak pada penggambaran tokoh Raden Adjeng Moeriam, ibu tiri Kartini. Ia tampak begitu kekeh untuk mempertahankan pola hidup perempuan yang pasrah pada budaya patriarki. Hal ini dilakukannya karena ia merasa bahwa pengorbanannya yang begitu besar untuk menjadi perempuan yang patuh harus dihargai dan diikuti oleh generasi berikutnya demi nama keluarga. Sikap seperti inilah yang justru menghambat kemajuan perempuan untuk melakukan aktualisasi diri. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan perlu diwujudkan dengan dukungan dari kedua belah pihak tanpa terkecuali.

Pesan moral yang bermanfaat dituturkan dengan rendah hati oleh karakter Ngasirah, ibu kandung Kartini. Sikap pengertian, sabar dan terus berusaha menjadi kunci untuk memperjuangkan hak-hak perempuan tanpa adanya kekerasan dan kebencian. Film Kartini memberikan pemahaman yang bermanfaat bagi kita semua untuk mewujudkan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat hidup berdampingan dengan damai.
WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaStip & Pensil
Artikel BerikutnyaBefore I Fall
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.