“Setiap orang memiliki kotak.”

 

Apa yang terjadi bila seorang penulis (amatir) kesepian, antisosial yang rapuh, merasa suntuk di tengah kerumunan kota besar London?

Di luar laku kelaziman, pemuda jomblo ini kerap menguntit kehidupan orang lain, siapa saja—yang tidak mengenalnya, secara acak. Mengikuti kemana pun mereka pergi. Semacam alibi riset/pengamatan yang terbatas untuk inspirasi menulis; tetapi lebih mungkin karena kehidupannya yang membosankan. Gagasan absurd yang dikontrol oleh aturan sendiri itu kemudian dilanggar saat ia mengikuti pria misterius bernama Cobb yang kelak berhasil memergokinya.

Di balik pakaian perlente lengkap dengan dasi, Cobb ternyata seorang pencuri aneh yang sering memasuki flat orang lain saat kosong ditinggal pergi si empunya. Mencuri benda remehan, bukanlah motivasi untuk memperkaya diri, selain sebentuk metode kesenangan mental yang ganjil. Permainan adrenalin yang adiktif itu kemudian menular.

Frekuensi psikis yang sama membuat sang pemuda anonim larut dalam aktivitas terlarang. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk berkenalan dengan seorang gadis pirang pemilik salah satu flat yang pernah mereka curi tanpa sepengetahuan Cobb, maka dimulailah jalinan konflik dengan alur cerita non-linier, bernuansa thriller, mengupas selapis demi selapis informasi rahasia pada rencana intrik yang sesungguhnya berbahaya.

Bagi siapapun yang mengikuti atau setidaknya terkesan dengan salah satu karya Christopher Nolan, mungkin secara antusias dapat langsung mencium karakter kuat ciri khas sinematiknya—keunikan gaya storytelling, plus dialog-dialog falsafi yang bernas ditopang unsur editing yang jenius—tanpa membuat penonton frustasi dengan serakan teka-teki. Karena pada ujungnya nanti, satu bahkan double twist dapat langsung diganjar Nolan secara menyenangkan. Membuat penonton menyadari kelengahannya pada adegan-adegan kecil, yang memberi ‘petunjuk’ bagi rangkaian keseluruhan cerita.

Kegemaran Nolan mengancah scenes pendek lalu memasangnya dengan random di sela adegan utama sering kita lihat di beberapa filmnya. Gabungan dari gaya editing, screenplay, dan sinematografi yang khas jadi kekuatan tersendiri. Cek saja di The Prestige (2006), Inception (2010), atau Memento (2000) tentu saja—film favorit kebanyakan para Nolan fans. Teknik ‘cross-cutting’ sering dipakai untuk efek ketegangan dan emosional, dimana adegan yang berbeda-beda latar ditampilkan langkas secara bergiliran.

Perlakuan serupa diterapkan pada Batman Begins (20015) dan sekuelnya; kombinasi cepat pola ‘cuts-transitions’ terlihat begitu efisien, sering dimunculkan secara tipikal di awal dan menjelang akhir cerita. Gilanya, potongan-potongan pendek adegan yang terselip itu kadang tidak secara kronologis linier dengan plot, bahkan dengan narasi tokoh yang sedang berbicara, hingga akhirnya mengaburkan imajinasi penonton dari apa yang diharapkan sang sutradara.

Tidak ada adegan kecil. Semuanya adalah kepingan puzzle yang harus disusun untuk mendapatkan gambaran utuh peristiwa, yang dimanipulasi sedemikian rupa.

Sejak Memento muncul sebagai benchmark dengan segala pujian kritikus yang bergulir pada raihan produksi film-film blockbuster hingga jadi pembicaraan khalayak, kilas balik pencapaian ini sesungguhnya berawal dari karya indie berdana minim ($6000), berformat 16mm dengan durasi 70 menit, yang memakan waktu produksi hampir setahun—para aktornya masih berprofesi sebagai pekerja full-time, dengan shooting lokasi rumah milik sejawat Nolan: bertajuk Following (1998) sebagai cikal bakal.

Mungkin tak sedikit dari kita yang baru menonton Following di era puncak karier Nolan sekarang. Sebuah thriller psikologis dengan penokohan yang rentan berbalut atmosfer kemuraman. Alur cerita maju-mundur dan susah ditebak terasa begitu mirip Memento dalam bentuk yang lebih sederhana. Bisa dikatakan, Following adalah blueprint sinematik Nolan untuk beberapa film setelahnya.

Semua keterbatasan teknis dikonversi lewat kekuatan storytelling yang unik, dengan genre drama kriminal bergaya ‘noir’ pada pengertian paling harfiah; tone monokrom, ambiguitas moral, gagasan anti-hero, afinitas interpersonal demons para tokohnya yang berujung konflik, hingga unsur seksualitas. Mungkin agak apologi. Tapi gambar hitam-putih justru berkesan dokumentatif. Menyuguhkan rasa realistik yang kuat. Nolan sendiri menyebut film ini sebagai karya ‘naturalisme tinggi’ di sebuah wawancara.

Baca Juga  Saya Daniel Blake, Saya Warga Negara Biasa

Tampaknya ia berniat membuatnya menjadi pakem. Konon, di setiap filmnya Nolan lebih memilih ‘practical effects’ ketimbang CGI. Ia lebih memilih repot membuat set yang ‘wow’ atau merakit simulator/prototipe material untuk kebutuhan efek visual meski peralatan canggih sekarang tak lagi menjadi kendala. Bukan ego idealisme. Lebih pada preferensi artistik yang ingin dibentuk sebagai sebuah trademark, mendukung atmosfer cerita.

Jika dalam Memento lini kronologi ditandai dengan perubahan warna, maka Following bermain-main dengan detail visual si tokoh utama, sang pemuda anonim. Gaya rambut, fashion, dan memar di wajah adalah penanda untuk menerka latar waktu. Ditambah kebiasaan Nolan menampilkan objek mini—perintilan item seperti bola karet di The Prestige, atau totem di Inception—‘anting-anting’ pada narasi non-linier, memberikan kesan periode yang acak sekaligus menjaga ‘aturan’ cerita di benak penonton.

Ketika film dibuka dengan adegan tangan yang di-close-up sedang mengerjakan sesuatu, berlanjut pada sesi interogasi sang pemuda, Nolanite (penggemar garis keras) akan mafhum, bahwa set-up itu hendak berkaitan erat pada ending. Semacam perjalanan kilas balik. Namun sebagaimana kekhasannya yang lain, penokohan karakter selalu tipikal.

Sang pemuda anonim (sebetulnya bernama Bill selain mengaku sebagai Daniel Lloyd) adalah representasi tokoh utama yang tidak selalu benar. Menghapus sifat monolitik. Atau menggurui. Memperlihatkan sudut pandang subyektif yang jujur, sekaligus ambigu bagi stereotip peran protagonis pada umumnya. Tidak ada orang yang selamanya baik atau jahat, kecuali di sinetron-sinetron kita.

Seorang Cobb mampu menguak sisi lain dari Bill dan memengaruhinya lewat pembenaran omong-omong filosofis di sebuah flat kosong saat beraksi (mungkin seperti orang yang sering memanfaatkan filsafat untuk kepentingan pribadi, familiar?).

Perlahan-lahan, Bill merasa memiliki ketertarikan yang sama dengan Cobb (mirip karakter di Inception), si pencuri, dan mulai memanifestasikan kegilaannya yang tersembunyi lewat perilaku voyeurisme tingkat rendahan, meski awalnya mengelak. Sedangkan Si Pirang, menjadi katalis yang terlalu signifikan untuk sekadar disebut pelengkap—faktor penting di lingkaran rantai muslihat.

Laiknya sebuah visi, Following telah menerawang gejala sosial hari ini mengenai absurditas perilaku individual yang terjebak pada suatu kondisi. Media sosial, misalnya. Retorika Cobb menyindir fenomena ini secara sinis:

“Seperti buku diary. Mereka menyembunyikannya. Tetapi sebenarnya mereka ingin seseorang melihatnya.”

Dan ketika aspek pribadi itu mendapatkan respon negatif dari publik, kebebasan individual jadi kilah pembelaan diri.

Gangguan personal serius bisa berangkat dari tingkatan mula yang mungkin termaafkan. Karena hidupnya tak bahagia, Bill terjebak dalam perilaku aneh; menguntit, ingin mengetahui kehidupan orang lain (kepo), sampai terobsesi, lantas terperangkap di kubangan kasus.

Dari fiksi ini timbul pertanyaan pelik; sampai sejauh mana kesadaran atas realitas itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Apakah kita sebetulnya benar-benar mengetahui kebenaran yang kita percayai? Atau lebih mendasar lagi, apakah kita menyadari jika segala hal yang terjadi di dunia ini telah berjalan di atas suatu rancangan besar di luar nalar?

Gagasan liar nan misterius itu diperparah dengan bunyi-bunyi erangan mirip uap ketel, alunan reverb yang tebal dari susunan ambient music nada-nada minor yang dikerjakan David Julyan. Komposer yang juga bekerjasama untuk Insomnia (2002), The Prestige (2006), dan Memento (2000).

Apapun, tiada Nolan yang tak bercela. Selain typecast senior John Nolan, meski sedikit pemakluman, akting dari para aktor di beberapa adegan emosional seharusnya dapat lebih dramatis. Harus diakui. Seorang Nolanite, tanpa perlu jadi snobbish, pasti bisa menerimanya kan?

Oh iya, hampir lupa.

Di film ini ada lambang Batman di pintu flat-nya Bill lho. Hmmm.

***

D. Hardi

Penulis cerpen, puisi, dan resensi, menetap di Bandung. Tulisan penulis telah tersebar di beberapa media.

Artikel SebelumnyaBumblebee
Artikel BerikutnyaMilly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.