Film adalah sebuah karya seni untuk dinikmati publik. Artinya secara komersial, film tersebut dijual baik dari pemutarannya di gedung bioskop, maupun lewat video secara fisik maupun digital. Seorang sineas bagaikan seorang nahkoda yang mengemudikan kapal, membawa penumpang dari satu lokasi menuju lokasi lain, bertanggung jawab penuh dalam perjalanannya. Yang dimaksud dengan sineas, tidak cuma sutradara, tapi bisa merangkap sebagai produser, serta penulis naskah, atau disebut kreator film.

Idealisme seorang sineas (khususnya mainstream) dalam mewujudkan sebuah film, tentu saja mengalami rintangan, terutama dari para eksekutif studio selaku distributor karena merekalah yang memiliki kewenangan akan kelayakan film tersebut untuk dinikmati oleh publik. Terkadang, pertentangan antara sineas dengan eksekutif studio, terkait bagaimana caranya menggabungkan antara unsur estetika dengan komersial (nilai jual) sehingga menghasilkan sebuah film yang siap rilis di bioskop.

Ketika sebuah film laris dan mendapatkan keuntungan, biasanya pihak studio berambisi untuk mengulangi kesuksesan filmnya dengan membuat lanjutannya atau disebut sekuel, kadang tanpa menghiraukan kualitas filmnya. Biasanya, film bergenre action, horor, science fiction, atau fantasi, adalah tercatat paling sering dibuat sekuelnya. Terkadang franchise tersebut diproduksi hingga mencapai titik jenuh hingga hasil akhirnya semakin buruk, baik dari segi pendapatan maupun kualitas. Nah, terkadang seorang sineas jarang terlibat langsung dalam menggarap sekuel dikarenakan adanya perbedaan visi, idealisme, bentrok jadwal dengan proyek lain, dan sebagainya.

Demikian juga dengan proyek remake atau reboot yang biasanya ditangani oleh sineas lain. Meski ia telah berkonsultasi dengan sineas orisinalnya sebelum film tersebut diproduksi. Hasilnya? Beberapa sineas orisinal ada yang merestui, namun ada pula yang menyiratkan ketidakpuasan, meski sebenarnya kembali ke masalah selera. Terkadang, saya sempat menuding kekonyolan para eksekutif studio, yang sepertinya tamak dalam memproduksi sekuel atau remake, dengan ekspektasi semata untuk keuntungan yang besar.

Sangat jarang, sebuah film ikonik, setelah sekian lama dihidupkan kembali oleh sineas aslinya, yang bisa jadi menyayangkan karyanya telah “dirusak” oleh sineas lain. Contoh bagus adalah franchise Alien yang kini kembali ditangani Ridley Scott melalui Prometheus dan Alien Covenant. Belum lama ini, dua kejutan besar terjadi, hingga membuat para hardcore fans kembali antusias menantikan sekuel lain dari Halloween (1978) dan Terminator 2: Judgement Day (1991). Sineas asli kedua film tersebut, yakni John Carpenter dan James Cameron kembali terlibat dalam sekuelnya.

Halloween akan rilis di bioskop pada 19 Oktober 2018. Kisah filmnya menceritakan 40 tahun setelah kejadian di film pertamanya. John Carpenter kembali hadir sebagai eksekutif produser, komposer musik serta kreatif konsultan, sementara sutradara dialihkan ke David Gordon Green. Sedangkan karakter Laurie Strode yang diperankan oleh Jamie Lee Curtis dihidupkan kembali setelah karakternya terbunuh di film Halloween : Resurrection (2002), dan aktor Nick Castle kembali berperan sebagai The Shape alias Michael Myers.

Bagi yang bingung dengan semua ini, jawabnya sederhana. Lupakan semua film sekuel Halloween (terlebih remake-nya Rob Zombie) dan fokuslah pada cerita film Halloween (1978). Carpenter sebagai kreator, komposer musik, produser dan sutradara di film aslinya, sempat kembali menjadi penulis cerita dan produser dalam Halloween II (1981) serta Halloween III (1982). Perbedaan visi dan lain hal, membuat Carpenter tidak terlibat lagi dalam beberapa sekuel setelahnya. Ditambah lagi dengan ketidaksukaan Carpenter akan versi remake-nya Rob Zombie yang mengekplorasi sisi humanis Michael Myers. Tampaknya ini membuat Carpenter ‘gatal’ ingin memperbaiki franchise Halloween yang mengalami penyimpangan konsep. Carpenter tampak ingin agar sosok Myers tetap misterius serta memiliki aura supranatural yang kuat seperti aslinya. Coba lihat trailer-nya yang diselingi sentuhan tema musik orisinal serta sajian visual dan sound dengan tone yang sama dari film aslinya.

Baca Juga  Film Lebaran 2018, Cermin Kualitas Film Kita?

Anda menyukai film-film Terminator? Yup, kabar baik yang pastinya sudah diketahui para fans adalah kembalinya sineas James Cameron di film terbarunya, yang kini sedang diproduksi dan akan tayang tahun depan. Mirip John Carpenter dengan Halloween, pun demikian dengan sang kreator dan sutradara The Terminator (1984). Setelah sukses melahirkan film ikonik ini, tujuh tahun berselang, Cameron kembali sebagai penulis cerita, sutradara, serta produser dalam T2.

Dalam dua dekade berikutnya, berbagai masalah terjadi. Kebangkrutan finansial studio produksi, adanya isu legal, ketidakcocokan naskah cerita, serta perbedaan visi, membuat Cameron enggan terlibat dalam seri ketiga dan keempat. Memang, secara kontinuitas cerita tetap terjaga dan karakter T-800 serta John Connor masih terlibat di dalamnya, namun kualitas dan raihan box-office tidaklah sebaik dua film sebelumnya. Malah di tahun 2015, semuanya di-reboot kembali lewat Terminator Genisys, dengan menghadirkan cerita yang berbeda dan menggagalkan rencana trilogi Terminator Salvation (2009), yang sebenarnya masih setia kepada storyline berbasis film aslinya.

James Cameron yang sempat menyukai Terminator Genisys (karena dianggap menggambarkan kesetiaan cerita dari elemen T2), secara tak terduga akhirnya gatal juga untuk turun tangan, membuat sekuel baru yang hingga kini masih belum berjudul. Kegagalan Terminator Genisys bisa jadi memotivasi Cameron untuk meluruskan kembali visinya meneruskan tradisi Terminator. Sama halnya dengan Halloween, film sekuel Terminator ini kelak adalah sekuel langsung dari T2, maka hiraukan sekuel lainnya, apalagi Genisys! Di film sekuel baru ini, Cameron bertindak sebagai penulis cerita dan produser, sementara sutradara adalah Tim Miller.

Fenomena kembalinya kedua kreator dalam menangani dan meluruskan sekuel dari film orisinalnya adalah hal yang tidak biasa dalam industri film Hollywood pada dua dekade terakhir. Film-film populer dengan beberapa sekuelnya dalam dua dekade belakangan, bisa berakibat kepada kejenuhan. Hadirnya remake atau reboot, yang memperkenalkan generasi baru, juga bisa memiliki resiko besar jika dibandingkan dengan film orisinal, terutama dari sisi kualitas dan gaya. Kembalinya sineas atau kreator film aslinya bisa saja menjadi penyelamat sebuah franchise.

Banyak contohnya, terutama dari film-film horor yang mengalami kelesuan, bahkan kejatuhan akibat banyaknya sekuel hingga remake yang boleh dikatakan tidak perlu eksis. Kita bisa lihat, bagaimana banyaknya sekuel Child’s Play, remake dan reboot The Texas Chainsaw Massacre dengan berbagai variannya, atau remake A Nightmare on Elm Street –andaikan Wes Craven masih hidup- dan Friday The 13th misalnya. Dari genre science fiction, kita bisa lihat keterpurukan sekuel Alien hingga akhirnya Ridley Scott kembali turun tangan hingga franchise ini bisa segar kembali. Juga, Mad Max: Fury Road (2015) yang tetap ditangani oleh George Miller setelah tiga dekade, juga masih mempertahankan gaya yang sama.

Meskipun pola konsumtif dalam dunia perfilman mengalami perbedaan dari masa ke masa, namun tiap generasi memiliki trend tersendiri. Selama masih ditonton orang, sebuah franchise akan terus hidup hingga bahkan terlahir kembali dan balik kepada akarnya. Hanya sineas aslinya yang terbaik untuk kembali terlibat di dalamnya jika sebuah franchise mengalami krisis.

 

Dendi Torowitan

Lahir dan besar di Sukabumi, lulus pendidikan Seni Rupa dan Desain di kota Bandung, serta memiliki pengalaman kerja sebagai Marketing Communication.

Nonton dan menulis tentang film adalah obsesi, lebih dari sekadar hobi. Masih belajar beropini tentang film sekaligus mengelola blog pribadinya beralamat di  www.duniasinema.com, selain menulis beberapa artikel di Kompasiana dan Seword.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini