kembang api

Seorang pria yang tengah memasuki masa senja, menyalakan lampu di dalam sebuah gudang. Lalu satu-persatu tamu berdatangan. Mereka masing-masing punya masalah berat dan ingin menuntaskannya secara instan. Mereka mengenalkan kepada pria tua bernama samaran Langit Mendung (Donny Damara) itu dengan nama Anggrek Hitam (Ringgo Agus Rahman), Tengkorak Putih (Marsha Timothy), dan Anggun (Hanggini). Mereka berempat duduk memutari sebuah bola yang di dalamnya berisikan begitu banyak kembang api. Bola itu memiliki tulisan “Urip Iku Urup”. Mereka siap untuk meninggalkan dunia ketika tombol detonator itu ditekan. Tapi nyananya, mereka kembali lagi ke awal. Itulah adegan awal dari film Kembang Api.

“Urip Iku Urup”

Pasca kejadian tersebut, si pria tua yang kali pertama sadar bahwa ia telah pernah mengalami peristiwa tersebut. Ia tahu ada yang salah. Ia lalu membujuk ketiga anggota kelompok bunuh diri bernama Kembang Api itu untuk mengetahui sumber masalahnya, kalau tidak mereka akan terus berulang-ulang bunuh diri dan kembali ke posisi semula.

Kembang Api diadaptasi dari film berjudul 3ft Ball and Souls (2017) yang disutradarai Yoshio Kato. Jika melihat premis dan karakter para tokohnya, maka sepertinya tak banyak perubahan yang ditemui dalam film Kembang Api ini kecuali konteksnya yang diubah lebih sesuai dengan relevan dengan situasi kondisi yang umum di alami di Indonesia. Film Kembang Api mengikuti deretan film-film yang juga merupakan adaptasi dari film sukses mancanegara. Sebut saja Sweet 20, Miracle in Cell No. 7, My Sassy Girl, dan Perfect Strangers.

Namun, apabila dibandingkan dengan film-film tersebut, Kembang Api tergolong film yang berat dan serius. Tema bunuh diri masih dianggap sesuatu yang tabu bagi sejumlah kalangan, meskipun dengan adanya kesadaran akan kesehatan mental, isu ini mulai banyak didiskusikan di masyarakat. Apalagi dengan maraknya kasus perundungan dengan sejumlah korban yang memutuskan melakukan bunuh diri. Alhasil isu bunuh diri dan kesehatan mental yang disampaikan dalam film Kembang Api ini jadi terasa relevan.

Konsep perulangan waktu (time loop) dalam film yang dibesut Herwin Novianto (Tanah Surga… Katanya, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, dan Sejuta Sayang Untuknya) ini bukan hal yang baru di film Indonesia. Film yang dibintangi Vino G. Bastian, Sabar Ini Ujian, juga menggunakan unsur perulangan waktu. Hanya, Kembang Api digarap jauh lebih rapi dan tidak monoton. Ada detail yang berubah setiap kali terjadi perulangan waktu, dari dialog, gerakan pemain, dan mimik mereka.

Baca Juga  Insya Allah Sah 2

Mengingat setting-nya yang memiliki ruang terbatas, yakni di sebuah gudang, maka kinerja penata kamera dan sutradara patut diapresiasi. Tidak mudah mengambil gambar, mengatur blocking pemain dalam sebuah ruangan sempit, apalagi dikisahkan mereka mengalami perulangan waktu. Jika adegan atau dialognya tak jauh berbeda dengan iterasi sebelumnya, maka bakal membosankan dan terasa monoton seperti pengalaman ketika menyaksikan Sabar Itu Ujian.

Ya, selain isu kesehatan mental yang relevan dan dialognya yang bernas, film ini jadi menarik berkat performa akting dari empat para pemainnya. Semuanya bermain solid dan interaksi antar pemain terasa natural. Hanggini, sebagai pemain film termuda, cukup berhasil mengimbangi performa tiga rekan seniornya. Bahkan ia yang paling mencuri perhatian di film ini. Dinamika karakternya begitu jelas, dari anak SMA yang nampak polos namun keras kepala, kemudian berubah menjadi karakter yang membuat penonton ikut bersimpati kepadanya.

Transisi adegan antar tiap perulangan waktu serta antara peristiwa di gudang dan flashback tiap tokoh berjalan cukup mulus. Latar musiknya juga berhasil membuat penonton merasa tegang, apalagi pada peristiwa pertama sebelum terjadi perulangan waktu. Kalimat “Urip iku Urip” dalam kulit bola juga tak hanya tulisan tanpa makna, ini juga merupakan pesan penting dalam film ini.

Hanya sayangnya adegan ketika kembang api meledak kurang mendebarkan. Penonton kurang merasai betapa mengerikannya peristiwa bunuh diri dengan meledakkan kembang api tersebut. Efek kejutnya terasa kurang, demikian juga dengan visual CGI-nya untuk kembang api. Ledakan kembang api saat bunuh diri terasa seperti tempelan kurang menyatu dengan gambar sekelilingnya dan nampak tidak nyata. Adegan penutupnya sendiri juga terasa klise. Jika melihat adegan pembukanya yang kuat, agak disayangkan adegan penutupnya hanya dikemas seperti itu.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaVirgo and the Sparklings
Artikel BerikutnyaSuzume
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.