Contagion (2011)
106 min|Drama, Thriller|09 Sep 2011
6.8Rating: 6.8 / 10 from 315,951 usersMetascore: 70
Healthcare professionals, government officials and everyday people find themselves in the midst of a pandemic as the CDC works to find a cure.

Beberapa waktu belakangan ini, popularitas film bencana virus Contagion (2011) garapan sineas kondang Steven Soderberg semakin naik. Contagion banyak disorot medsos karena kemiripan kisahnya dengan bencana wabah yang melanda dunia saat ini, yakni Wuhan Coronavirus. Hingga artikel ini ditulis, virus ini telah menewaskan lebih dari 800 orang di seluruh dunia, yang terbanyak tentu dari Tiongkok, khususnya Kota Wuhan yang disinyalir menjadi titik awal penyebaran virus ini. Negara kita sendiri menurut berita masih belum ada yang terjangkit alias nol. Film Contagion sendiri merupakan film fiksi (rekaan) yang mendapat pujian dari para ilmuwan karena keakuratan ilmiahnya. Sederhananya, apa yang terjadi di film ini memang benar-benar bisa terjadi dan kasus sekarang ini adalah buktinya. Lalu apa gunanya membahas film ini sekarang? Apa hanya semata-mata sensasi. Opini ini jelas salah besar.

Contagion berkisah tentang wabah mematikan, yakni virus MEV-1 yang digambarkan sejak awal sekali, bagaimana bencana ini bisa bermula. Oleh karena luasnya skala cerita, sang sineas menggunakan banyak plot dan karakter dalam menyajikan kisahnya. Sejak pembuka film, melalui montage kecil, secara bergantian disajikan beberapa tokoh yang dikisahkan sebagai pemicu awal terjadinya penyebaran virus ini. Digambarkan, satu demi satu, orang-orang tersebut mulai sakit hingga mereka tewas mengenaskan dalam waktu relatif singkat. Dalam montage ini, digambarkan secara detil (shot close-up) bagaimana interaksi mereka dengan orang lain, apa yang mereka sentuh dan pakai, itu semua kelak menjadi biang keladi terjadinya penyebaran wabah ini. Saya tidak bisa membayangkan jika ini yang benar-benar terjadi di Tiongkok sana. Berapa banyak orang yang sesungguhnya bisa terjangkit. Dalam tiap perpindahan adegan atau lokasi, melalui teks penonton diinfokan nama kota dan jumlah populasi di sana. Ini memang penting bagi plot filmnya.

Dari sudut pandang korban sudah terwakili secara detil, kini dari sudut pandang berbeda yakni tim ahli atau mediknya. Plotnya menyorot peran WHO dan CDC (Center of Disease Control and Prevention) di AS dalam kasus ini. Who mengirim ahli epidemiknya, Dr. Leonora Orantes ke Hong Kong untuk mencari tahu dari mana sumber penyakit ini muncul pertama kali. Penyelidikan dilakukan secara mendetil melibatkan korban-korban yang tewas (opening) dan aktivitas mereka selama di sana. Segmen kilas-balik para korban memang banyak membantu penonton. Sementara pihak CDC mengirim ahlinya, Dr. Erin Mears untuk menyelidiki kasus ini di wilayah AS. Melalui sosok Mears, penonton banyak mendapatkan informasi tentang virus dan bagaimana persebarannya secara gamblang. Dari hal yang sangat remeh sekalipun, seperti bagaimana jari tangan kita secara statistik menyentuh wajah kita hingga 3-5 x per menitnya. Wow. Jika dipikir-pikir memang iya. Coba bayangkan kita bisa menyentuh apa saja sepanjang hari di ruang publik, dari uang, atm, tombol lift, meja kasir, eskalator, pintu masuk swalayan, dan ratusan lainnya. Virus mudah sekali menyebar dari sini. Tidak hanya melalui mata, hidung, dan mulut. Satu lagi adalah Dr. Ally Hextal, ilmuwan CDC yang meneliti genetik virus ini yang berasal dari kombinasi kelelawar dan babi. Melalui sosok ini, digambarkan berapa kali pelanggaran protokoler yang dilakukan untuk akhirnya bisa menemukan vaksinnya. Sementara sang bos CDC, Ellis Cheveer justru malah sering menjadi kambing hitam.

Baca Juga  Film tentang Wabah: Outbreak

Sudut pandang lain yang menarik adalah dari seorang suami dari satu orang korban, Mitch Emhoff. Dari sudut pandang sosok inilah ketidaktahuan, ketakutan, dan kepanikan warga biasa, mampu terwakili. Walau terasa agak kebetulan memang, sosok ini ternyata memilki imun terhadap virus mematikan yang merenggut nyawa istri dan anaknya. Kehati-hatian Mitch terhadap keselamatan dirinya dan putrinya yang sangat berlebihan memang menjadi masuk akal. Semua orang bakal bertindak seperti apa yang ia lakukan di situasi ini. Situasi kota yang senyap berangsur-angsur menjadi mencekam, kacau, panik, rusuh, dan penjarahan pun di mana-mana. Tidak bisa dibayangkan,  bagaimana suasana isolasi warga di Kota Wuhan. Sungguh tidak bisa dibayangkan kepanikan mereka seperti apa sekarang.

Satu lagi sudut pandang adalah bisa jadi yang paling menyebalkan, namun rasanya ini yang paling banyak kita lihat sekarang. Alan Krumwiede adalah seorang jurnalis dan blogger anti-pemerintah yang selalu mencari kesalahan pemerintah dan institusinya melalui teori konspirasinya. Mudahnya, ia adalah tukang hoax. Namun, pengikut Alan sangatlah besar (bukankah mereka begitu?). Isu senjata biologis, hingga isu konspirasi WHO dan CDC untuk mencari profit di tengah musibah, semuanya ia gelontorkan. Padahal semua itu, bisa jadi ia lakukan untuk keuntungan dirinya sendiri. Dalam film ini memang sosok ini digambarkan abu-abu, tak jelas ia berpihak siapa. Selalu ada seorang seperti ini di mana pun bukan?

Film ini menggambarkan semua aspek dalam kasus wabah virus ini secara realistik dan komprehensif. Dalam filmnya dikisahkan virusnya merenggut 25 juta orang di bumi, dan tercatat menjadi salah satu virus paling berbahaya di dunia, bersama SARS dan H1N1. Coronavirus pun hingga kini tercatat telah merenggut nyawa lebih banyak dari virus SARS, padahal virus ini baru meluas bulan Januari lalu. Walau jelas berbeda dengan kisah di filmnya (ada sisi dramatik), namun bukan berarti apa yang terjadi di film ini tidak mungkin terjadi. Film ini telah menyajikan secara lengkap segala macam proses dan prosedur dari A hingga Z. Melalui gambaran film ini, selain menambah pengetahuan tentang seluk-beluk virus, kita sebagai warga biasa dapat lebih berhati-hati lagi, untuk menjaga kesehatan tubuh kita sendiri maupun lingkungan sekitar. Satu dialog menarik yang diucapkan Dr. Ellis di penghujung cerita, “Kamu tahu dari mana asalnya berjabat tangan?” ujarnya. “Dulu ini adalah cara orang untuk mengetahui jika kita tidak membawa senjata.”, jawabnya. Ironisnya, kini penularan virus pun bisa melalui jabat tangan. Kita tentu sangat berharap bencana yang melanda bumi kita tercinta ini bisa segera berakhir, walau di film ini tidak sepenuhnya berakhir “happy ending”. May the force be with us.   

Ulasan seri wabah lainnya: THE CASSANDRA CROSSING OUTBREAKWORLD WAR ZONLY THE FLU THE HAPPENING

   

Artikel SebelumnyaLittle Women
Artikel BerikutnyaNikah Yuk!
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.