Siapa kini yang tak mengenal Ernest Prakasa? Dikenal publik sebagai seorang komika yang memiliki ciri khas mengusung tema etnis Tionghoa dalam setiap penampilannya. Ia mulai merambah ke dunia film dengan membintangi sejumlah film komedi, seperti Comic 8 (2014), Kukejar Cinta ke Negeri Cina (2014), hingga Comic 8: Casino Kings (2015). Ia kemudian mencari peruntungan lewat film debutnya, Ngenest (2015), yang mengisahkan hidup seorang pemuda keturunan Tionghoa. Tak disangka, Ngenest mendapat apresiasi luar biasa yang menjadikan ia semakin memantapkan karirnya sebagai sutradara dan penulis naskah. Film berikutnya, Cek Toko Sebelah dan Susah Sinyal kembali sukses luar biasa dan meraih banyak prestasi. Terbukti, Ernest mampu membawa angin segar dalam industri perfilman kita sebagai sineas pendatang baru yang berprestasi dan patut diperhitungkan. Tawaran untuk menggarap film spin-off Ada Apa dengan Cinta? (AADC) tak ditampiknya. Berita ini bahkan sudah santer terdengar sejak awal tahun ini, dan tentu banyak orang menanti, seperti apa seri AADC di tangan Ernest?

Seperti telah kita ketahui, Ada Apa dengan Cinta? merupakan pelopor film remaja modern di Indonesia. AADC tercatat dalam sejarah perfilman kita sebagai film roman remaja berkualitas dengan angka raihan lebih dari 2,5 juta penonton. Kesuksesan film ini bahkan dilampaui oleh film sekuelnya, AADC 2 dengan angka raihan 3.665.509 penonton. Dengan popularitas dua film pendahulunya ini, mampukah film spin-off-nya kini bersaing?

Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga mengangkat kisah dua tokoh pendukung AADC, seperti tersebut di judulnya, kita tahu mereka telah menjadi pasangan suami istri dalam film AADC 2. Kisah kedua sosok ini memang tak banyak diceritakan dalam seri AADC sehingga masih memiliki banyak celah untuk digali. Di film ini, Ernest tentu tidak bisa leluasa mengendalikan karakter-karakter asli dari film pendahulunya. Sang sineas yang merangkap sebagai penulis naskah juga berhati-hati dalam menjaga kontinuiti cerita agar tidak menyimpang dengan cerita sebelumnya. Ernest secara brilian ternyata mampu menangani keterbatasan ini dengan masih mempertahankan gayanya yang khas. Apa saja ciri khas sang sineas yang ia terapkan dalam Milly & Mamet?

Halaman selanjutnya: Tema Keluarga

Baca Juga  Pengabdi Setan; Dari Cult ke Cult

1
2
3
Artikel SebelumnyaDragon Ball Super: Broly Ramaikan Persaingan Box-Office di AS
Artikel BerikutnyaOrang Kaya Baru
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil hobi menonton film dan menulis. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya rubrik film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Ia juga salah satu penyusun dan penulis buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.