Penuh spoiler! Diharapkan sudah menonton dan membaca ulasan Venom sebelumnya di website ini.

Sebuah film cerita atau fiksi kadang tak lepas dari lubang plot. Ada lubang plot yang bisa ditolerir, ada pula yang tidak jika memang itu tidak memengaruhi jalannya alur cerita. Segala aksi dalam cerita, tentu memiliki hubungan sebab-akibat sehingga segala hal bisa dijelaskan sesuai dengan konteks cerita atau genrenya. Sebuah bom yang meledak bisa saja tidak mematikan dalam film komedi dan superhero tapi tentu tidak untuk film drama dan biografi. Genre superhero pun memiliki logika ceritanya masing-masing sesuai konteks kisah dan tokohnya. Dalam satu film tokoh superhero yang sama pun, belum tentu kita bisa menggunakan logika cerita yang sama, semisal saja Batman-nya Burton dengan Batman-nya Nolan. Keduanya tentu memiliki logika cerita yang berbeda karena memiliki tingkat realisme yang berbeda.

Oke, sekarang bicara soal Venom. Rasanya belum pernah sebuah film mengabaikan logika ceritanya sendiri seburuk ini. Kita tidak bicara soal latar belakang cerita, penokohan, pencapaian sinematik di sini, namun hanya lubang plot semata. Sejak awal film dimulai pun, hal ini telah tampak, sekalipun ini bisa saya tolerir. Semisal, bagaimana cerita para ilmuwan Carlton Drake bisa menangkap “simbion-simbion” tersebut? Kita tahu dalam perkembangan cerita berikutnya ketika sebuah simbion lepas, sulit untuk menangkapnya kembali. Menjelang segmen klimaks, kita mendapat info bahwa jutaan simbion lainnya ada di sebuah meteor. Wah, ini membuat saya berpikir lagi, bagaimana dulu para ilmuwan itu menangkapnya? Lantas skenario Riot yang ingin membawa roket dari bumi ke sana untuk menjemput ribuan simbion yang berada di meteor (meteor mestinya bergerak bukan)? Uhh memikirkannya saja sudah tak mampu. Tak usah dianggap serius, ini cuma sambil lalu di awal tulisan saja.

Di luar ini, sebenarnya banyak hal yang masih lemah di sisi naratifnya, misal saja sosok Eddie Brock dan Venom sendiri. Dia ini siapa sih, kok sampai bisa mendapat berkah kekuatan sebesar itu? Lalu mengapa Venom cocok dengan Eddie? Entiti Venom itu apa pula? Film superhero (origin) biasanya amat mengutamakan latar penokohan cerita macam ini, sebut saja film-film solo macam Batman, Wonder Woman, Captain America, hingga Doctor Strange. Saya juga kebetulan menonton dengan rekan saya yang fanatik mengoleksi semua komik superhero dan menonton semua film bergenre ini, dan ia pun menonton memakai kaos Venom. Setelah selesai menonton, ia menganggap film ini hanya sebuah lelucon karena sosok Venom dan Eddie Brock, jauh sekali penggambarannya dari komiknya. Sosok Eddie yang penuh dendam digambarkan justru culun dan konyol, ungkapnya. Venom dan Spider-Man tidak pernah bisa terpisahkan. Rekan saya jelas lebih banyak tahu sosok Venom dan Eddie daripada saya yang cuma penikmat film.

Kembali ke lubang plot dalam Venom. Hal-hal yang akan saya utarakan di sini hanyalah lubang plot yang benar-benar tidak bisa ditolerir. Intinya, keterlaluan sekali jika sampai penulis naskah tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Atau entah, memang mungkin sengaja diabaikan dan berharap terlewatkan oleh penonton atau kritikus film? Beberapa lubang plot ini begitu “mematikan” hingga mampu membunuh kisah filmnya sendiri. Setidaknya bagi saya dan tentu bisa jadi berbeda bagi penonton lain. Saya hanya gregetan tidak bisa menulis semua hal ini di ulasan awal karena terlalu banyak spoiler di sini.

The Long Long Journey to San Fransisco

Di awal film, kita tahu ada satu simbion yang lepas di tempat jatuhnya pesawat milik Life Foundation. Jatuhnya pesawat angkasa ini dikisahkan di suatu wilayah di Malaysia. Entah bagaimana bisa lepas tidak diperlihatkan dan simbion ini merasuk ke dalam tubuh seorang astronot, lalu di dalam mobil ambulan merasuk lagi ke tubuh perempuan petugas medik lokal. Ia merobek atap mobil dengan mudahnya, dengan berjalan membawa secarik kain bertuliskan “Life Foundation”. Sang simbion yang belakangan kita tahu benama Riot, seolah tahu ke mana ia akan pergi. Pertanyaannya, sebenarnya apa ia tahu itu tulisan apa? Mengapa harus ke sana? Apa ia tidak tahu jika rekan-rekan simbion yang tertangkap masih ada di sekitar situ? Mengapa sejak awal ia tidak kembali membebaskan saja semua rekannya? Tentu saja cerita akan berbeda bukan.

Pertanyaan belum terjawab, sang perempuan datang ke keramaian warga, dan ia membuat onar di sana dengan terang-terangan membunuh secara membabi buta orang-orang yang menganggunya. Tubuhnya berpindah ke tubuh perempuan tua pincang yang mendadak bisa berjalan layaknya orang normal. Tidakkah ada seorang pun di sana yang merasa aneh jika mereka berhadapan dengan “alien” yang jelas-jelas bukan manusia? Lebih tepatnya, tidakkah ada seorang pun yang melaporkan hal ini? Pertanyaan ini muncul karena kekonyolan lainnya tak lama muncul. Dikisahkan setelah enam bulan berikutnya, sang perempuan tua terlihat ada di bandara. Hal yang mengejutkan ternyata dia masih ada di Malaysia!! Saya tertawa geli karena saya pikir ia sudah berada di bandara San Fransisco. Saya tegaskan lagi, setelah enam bulan ternyata ia masih ada di negara yang sama! Bagaimana cerita? Pada satu adegan pembantaian warga di atas sebelumnya, tampak jelas bahwa segalanya bakal berjalan cepat karena ia tidak ragu bertindak sadis. Lalu apa saja yang ia lakukan dengan tubuh perempuan tua itu selama enam bulan? Saya berpikir ke sana saja sudah tak mampu.

Baca Juga  Fenomena “Blackanda”

Security System on Life Foundation Building

Ini mungkin adalah salah satu hal terkonyol yang ada dalam kisah film ini. Sungguh tak masuk akal. Bangunan modern seperti itu tidak memiliki sistem keamanan yang memadai. Kini, bangunan toko kelontong pun sudah memakai CCTV. Sungguh aneh jika Eddy dan Dr. Dora bisa masuk ke dalam ruangan lab dengan mudahnya. Masak tidak takut terekam CCTV, pikir saya sebelumnya. Saya abaikan karena saya pikir bakal ada penjelasan tentang ini. Ternyata yang terjadi sungguh di luar dugaan. Eddie bahkan mencoba menyelamatkan teman gelandangannya, yang terang-terangan mengaktifkan sistem alarm gedung tersebut. Setelah Venom masuk ke tubuh Eddie, ia pun keluar bangunan dengan mudahnya.  Pada adegan berikutnya, Dora dipanggil sang bos dan ia pun ditanya siapa yang masuk ke dalam labnya dan “mengambil” simbionnya. What!?? Saya bingung dan sudah kehilangan mood filmnya sejak momen ini. Sebuah institusi yang bisa membangun pesawat angkasa sedemikian canggih ini ternyata tidak punya CCTV di bangunan gedungnya! Sepele sekali memang, tapi bagi saya ini sudah merusak semua ceritanya karena semua titik balik cerita berawal dari sini.

The News on Venom?

Setelah Venom beraksi di apartemen Eddie, aksi kejar-mengejar seru terjadi. Walau bagi saya, jalan cerita sudah tak ada roh, tapi saya masih mencoba menikmati sisa cerita. Aksinya memang tidak jelek dan terasa segar di beberapa momen karena kemampuan Venom memang berbeda dengan superhero lainnya. Dari sisi cerita, aksi yang penuh ledakan ini (plus setengah lusin jasad di apartemen Eddie) mestinya menggegerkan seisi kota dan menarik perhatian warga, polisi, dan tentu stasiun tv. Dalam satu momen, ketika Venom akhirnya menunjukkan wujud aslinya, di belakang tampak bahkan beberapa warga mengabadikan momen tersebut. Sosok alien yang mengobrak-abrik kota sebesar itu? Tidak diperlihatkan sedikit pun terliput oleh stasiun tv atau situasi kota yang panik, atau polisi dan militer berusaha memburu sosok tersebut. Okelah ini bisa saja dibaikan, namun tetap terasa tidak wajar saja ketika situasi kota tampak sepi. Perburuan seorang teroris di satu kota saja bisa membuat satu kota terasa mati, apalagi sosok monster macam ini.

Eddie Brock Identity

Ini juga satu hal yang paling menggelikan dalam filmnya walau saya sudah tidak kaget lagi. Setelah semua yang terjadi, aksi brutal di apartemen Eddie, hingga aksi tembak-menembak di tempat kantornya dulu, wajah Eddie secara fisik jelas-jelas sudah dikenali polisi sesaat ia keluar dari elevator. Aksi pembunuhan brutal di apartemen Eddie jelas mengarah pelaku ke dirinya. Ketika semua berakhir, betapa mengejutkan semua proses tersebut terlewatkan, dan kita melihat sosok Eddie dan Anne duduk di teras rumah Anne, berbincang dengan santainya. What the hell is going on?? Apa polisi tidak mengenali Eddie? Lalu siapa yang menjadi tersangka? Pada mid-credit scene tampak Eddie telah kembali dengan pekerjaan lamanya dan seolah semuanya yang terjadi sebelumnya tidak pernah ada. Bagaimana bisa?

 

Lubang plot memang kadang tak terhindarkan, namun seburuk ini rasanya jarang terjadi untuk film sebesar ini. Justice League misalnya, sekalipun naskahnya dinilai buruk tapi ia tidak mengabaikan logika dalam konteks ceritanya. Sederhananya, apakah sesuatu yang terjadi bisa mungkin terjadi dalam konteks ceritanya. Jika mungkin, walau hanya tipis bisa kita maafkan, namun jika tidak tentu tak bisa kita tolerir. Apa yang terjadi dalam film ini menurut saya kelewatan. Rasanya saya belum pernah melihat sebuah film sebesar ini mengabaikan logika cerita sebanyak ini.

Artikel SebelumnyaVenom
Artikel BerikutnyaSmallfoot
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini