The Two Popes. Apa ulasan film ini sudah telat? Ya tentu saja. Film ini adalah satu dari banyak film berkualitas yang tidak sempat saya ulas, sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini. Ya, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan kilas-balik ke beberapa bulan lalu. Beberapa diantaranya adalah film-film masterpiece yang saya pikir tidak bisa dilewatkan penikmat film begitu saja. Bagi yang belum menonton, ini adalah saat yang sempurna di tengah musibah besar dan pengasingan diri yang tengah kita lakukan sekarang. Siapa tahu, film-film ini bisa membuat kita merenung lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan umat manusia kini atau mungkin hidup kita sendiri. Selamat membaca.

The Two Popes (2019)
125 min|Biography, Drama|20 Dec 2019
7.6Rating: 7.6 / 10 from 145,187 usersMetascore: 75
Behind Vatican walls, the conservative Pope Benedict XVI and the liberal future Pope Francis must find common ground to forge a new path for the Catholic Church.

Saya sudah mengenal dan menjadi fans Fernando Meirelles sejak City of God (2002), siapa yang tidak? Film berikutnya, The Constant Garderner dan khususnya film bencana, Blindness menjadi salah satu film favorit saya. Tema dan penuturan sang sineas selalu unik. Itu yang menjadi salah satu gaya sang sineas, di luar sisi teknis tentu. The Two Popes jika dibandingkan 3 film sebelumnya jauh berbeda secara cerita walau temanya sebenarnya sama, “good vs evil”. Walau “evil” yang dimaksud di sini mudahnya adalah ego atau “evil” dalam diri kita. Secara teknis pun, film ini lebih formal dan halus dari sebelumnya yang bergaya lebih “kasar”. Namun, kematangan estetik sang sineas semakin terlihat dalam film ini.

Berbekal dua bintang senior, Anthony Hopkins dan Jonathan Price, serta kecakapan sang sineas, jadilah The Two Popes sebuah film yang amat berkualitas. Dialog yang panjang dan melelahkan bisa mereka buat menjadi menarik dan intens. Uniknya pula, naskahnya diadaptasi dari pertunjukan teater berjudul sama karya Anthony McCarten. McCarten pula yang menulis naskah filmnya. Memindah naskah pertunjukan ke naskah film tentu bukan pekerjaan mudah dan McCarten melakukannya dengan sempurna. Baik Hopkins, Pryce, dan McCarten, semuanya meraih nominasi di ajang BAFTA, Golden Globe, dan terakhir Academy Awards. Sayang, tidak ada satupun di ajang ini yang mereka menangi.

Setting adalah satu hal yang paling saya kagumi di film ini. Saya sedikit terkejut mengetahui bahwa setting Sistine Chapel, Kota Vatican, yang tersohor itu ternyata dibuat ulang dengan skala yang sama di studio Cinecitta. Setting ini memang mengambil perang penting dalam plot film ini. Satu lagi adalah vila yang sangat indah, tempat peristirahatan sang Paus, Palace of Castel Gandolfo, walau jelas terlihat hanya menggunakan ruang eksteriornya saja. Seluruhnya eksotis, tidak terkecuali areal pemukiman kumuh di Buenos Aires, Argentina.

Baca Juga  Stranger Things 4 Vol.1 & 2

Inti plotnya berkisah tujuh tahun setelah Josep Ratzinger diangkat menjadi Paus. Gereja Vatikan dilanda skandal besar dan yang menggoyang posisi para petinggi Vatikan, termasuk sang Paus sendiri. Namun, kisahnya sama sekali tidak menekankan pada masalah politik atau isu lainnya yang menjadi skandal di Vatikan kala itu. Ini hanya menjadi latar cerita semata. Semuanya dituturkan sederhana dan gamblang melalui sudut pandang Cardinal Bergoglio. Sang kardinal pun sempat berujar ketika harus ikut sang Paus karena urusan mendesak, “kalau saya boleh tahu, ini urusan mendesak apa?”. Pertanyaan yang tidak bisa terjawab memuaskan bagi sang kardinal maupun penonton. Sang kardinal, sejatinya hanya ingin tanda tangan dari sang Paus sebagai persetujuan pengunduran dirinya. Penonton dibuat gemas karena sang Paus pun selalu mengulur soal ini. Obralan intens di luar vila mampu disajikan dengan sangat baik, layaknya obrolan hidup mati, memperlihatkan dua sosok yang sangat berbeda karakter. Sekuen kilas-balik semakin mempertegas arah kisahnya yang di akhir menjadi terang benderang dan begitu menyentuh.

Sejak awal, film ini sudah menyajikan keindahan estetik sekuennya dalam pelaksanaan voting Paus di Sistene Chapel. Satu montage sangat menawan dan indah menggambarkan proses voting dengan memadukan komposisi gambar, sudut gambar, editing, dan efek suara. Salah satu montage terbaik yang pernah saya tahu dalam medium film. Satu hal yang menarik adalah penggunaan beberapa shot dan juga transisi editing, suara bahkan musik pop yang memiliki motif dibaliknya. Hampir lusinan ini dilakukan dalam film ini dan dilakukan dengan cara berkelas pula oleh sang sineas. Pencarian shot bermakna macam ini adalah yang paling menggairahkan bagi penikmat film. Satu diantaranya ada di penghujung film, sesaat setelah pertandingan World Cup Jerman vs Argentina selesai, dengan sosok keduanya dibelakang dengan latar depan salib yang terlihat tidak penuh (terpotong) serta asap dari lilin yang sesaat mati apinya. Coba tebak saja, apa maksudnya?

The Two Popes adalah pencapaian langka yang merupakan perpaduan sempurna antara kisah rivalitas dan sisi estetik berkelas dengan dukungan penampilan sangat kuat dari dua bintangnya. Tak ada komentar lagi untuk Hopkins dan Pryce yang bermain amat brilian. Sementara bagi Meirelles ini adalah kematangan sang sineas yang membuktikan kini sebagai sutradara papan atas. Seperti halnya Roma, sayang sekali film ini tidak tayang di bioskop. Netflix sekali lagi membuktikan tajinya, dengan banyaknya film-film berkelas yang ia distribusikan, berjaya di mana-mana tahun lalu. Akhir kata, The Two Popes mengajarkan bahwa kita manusia tak pernah lepas dari dosa, seberapa pun religius kita. Seperti di film ini, tanda selalu diberikan oleh semesta, tinggal seberapa jauh kita bisa memahami dan mendengar-Nya. Mungkin, wabah korona saat ini adalah satu tanda. Tinggal kita menafsirkannya seperti apa.

Stay Healthy and safe!

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaUlasan Film mOntase di Aplikasi ChatAja
Artikel BerikutnyaThe Hunt
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses