Prolog Kilas Balik:

Apa ulasan film ini sudah telat? Ya tentu saja. Film ini adalah satu dari banyak film berkualitas yang tidak sempat saya ulas, sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini. Ya, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan kilas-balik ke beberapa bulan lalu. Beberapa diantaranya adalah film-film masterpiece yang saya pikir tidak bisa dilewatkan penikmat film begitu saja. Bagi yang belum menonton, ini adalah saat yang sempurna di tengah musibah besar dan pengasingan diri yang tengah kita lakukan sekarang. Siapa tahu, film-film ini bisa membuat kita merenung lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan umat manusia kini atau mungkin hidup kita sendiri. Selamat membaca.

The Two Popes (2019)
125 min|Comedy, Drama|20 Dec 2019
7.6Rating: 7.6 / 10 from 81,399 usersMetascore: 75
Behind Vatican walls, the conservative Pope Benedict XVI and the liberal future Pope Francis must find common ground to forge a new path for the Catholic Church.

Saya sudah mengenal dan menjadi fans Fernando Meirelles sejak City of God (2002), siapa yang tidak? Film berikutnya, The Constant Garderner dan khususnya film bencana, Blindness menjadi salah satu film favorit saya. Tema dan penuturan sang sineas selalu unik. Itu yang menjadi salah satu gaya sang sineas, di luar sisi teknis tentu. The Two Popes jika dibandingkan 3 film sebelumnya jauh berbeda secara cerita walau temanya sebenarnya sama, “good vs evil”. Walau “evil” yang dimaksud di sini mudahnya adalah ego atau “evil” dalam diri kita. Secara teknis pun, film ini lebih formal dan halus dari sebelumnya yang bergaya lebih “kasar”. Namun, kematangan estetik sang sineas semakin terlihat dalam film ini.

Berbekal dua bintang senior, Anthony Hopkins dan Jonathan Price, serta kecakapan sang sineas, jadilah The Two Popes sebuah film yang amat berkualitas. Dialog yang panjang dan melelahkan bisa mereka buat menjadi menarik dan intens. Uniknya pula, naskahnya diadaptasi dari pertunjukan teater berjudul sama karya Anthony McCarten. McCarten pula yang menulis naskah filmnya. Memindah naskah pertunjukan ke naskah film tentu bukan pekerjaan mudah dan McCarten melakukannya dengan sempurna. Baik Hopkins, Pryce, dan McCarten, semuanya meraih nominasi di ajang BAFTA, Golden Globe, dan terakhir Academy Awards. Sayang, tidak ada satupun di ajang ini yang mereka menangi.

Setting adalah satu hal yang paling saya kagumi di film ini. Saya sedikit terkejut mengetahui bahwa setting Sistine Chapel, Kota Vatican, yang tersohor itu ternyata dibuat ulang dengan skala yang sama di studio Cinecitta. Setting ini memang mengambil perang penting dalam plot film ini. Satu lagi adalah vila yang sangat indah, tempat peristirahatan sang Paus, Palace of Castel Gandolfo, walau jelas terlihat hanya menggunakan ruang eksteriornya saja. Seluruhnya eksotis, tidak terkecuali areal pemukiman kumuh di Buenos Aires, Argentina.

Baca Juga  Anna and the Apocalypse

Inti plotnya berkisah tujuh tahun setelah Josep Ratzinger diangkat menjadi Paus. Gereja Vatikan dilanda skandal besar dan yang menggoyang posisi para petinggi Vatikan, termasuk sang Paus sendiri. Namun, kisahnya sama sekali tidak menekankan pada masalah politik atau isu lainnya yang menjadi skandal di Vatikan kala itu. Ini hanya menjadi latar cerita semata. Semuanya dituturkan sederhana dan gamblang melalui sudut pandang Cardinal Bergoglio. Sang kardinal pun sempat berujar ketika harus ikut sang Paus karena urusan mendesak, “kalau saya boleh tahu, ini urusan mendesak apa?”. Pertanyaan yang tidak bisa terjawab memuaskan bagi sang kardinal maupun penonton. Sang kardinal, sejatinya hanya ingin tanda tangan dari sang Paus sebagai persetujuan pengunduran dirinya. Penonton dibuat gemas karena sang Paus pun selalu mengulur soal ini. Obralan intens di luar vila mampu disajikan dengan sangat baik, layaknya obrolan hidup mati, memperlihatkan dua sosok yang sangat berbeda karakter. Sekuen kilas-balik semakin mempertegas arah kisahnya yang di akhir menjadi terang benderang dan begitu menyentuh.

Sejak awal, film ini sudah menyajikan keindahan estetik sekuennya dalam pelaksanaan voting Paus di Sistene Chapel. Satu montage sangat menawan dan indah menggambarkan proses voting dengan memadukan komposisi gambar, sudut gambar, editing, dan efek suara. Salah satu montage terbaik yang pernah saya tahu dalam medium film. Satu hal yang menarik adalah penggunaan beberapa shot dan juga transisi editing, suara bahkan musik pop yang memiliki motif dibaliknya. Hampir lusinan ini dilakukan dalam film ini dan dilakukan dengan cara berkelas pula oleh sang sineas. Pencarian shot bermakna macam ini adalah yang paling menggairahkan bagi penikmat film. Satu diantaranya ada di penghujung film, sesaat setelah pertandingan World Cup Jerman vs Argentina selesai, dengan sosok keduanya dibelakang dengan latar depan salib yang terlihat tidak penuh (terpotong) serta asap dari lilin yang sesaat mati apinya. Coba tebak saja, apa maksudnya?

The Two Popes adalah pencapaian langka yang merupakan perpaduan sempurna antara kisah rivalitas dan sisi estetik berkelas dengan dukungan penampilan sangat kuat dari dua bintangnya. Tak ada komentar lagi untuk Hopkins dan Pryce yang bermain amat brilian. Sementara bagi Meirelles ini adalah kematangan sang sineas yang membuktikan kini sebagai sutradara papan atas. Seperti halnya Roma, sayang sekali film ini tidak tayang di bioskop. Netflix sekali lagi membuktikan tajinya, dengan banyaknya film-film berkelas yang ia distribusikan, berjaya di mana-mana tahun lalu. Akhir kata, The Two Popes mengajarkan bahwa kita manusia tak pernah lepas dari dosa, seberapa pun religius kita. Seperti di film ini, tanda selalu diberikan oleh semesta, tinggal seberapa jauh kita bisa memahami dan mendengar-Nya. Mungkin, wabah korona saat ini adalah satu tanda. Tinggal kita menafsirkannya seperti apa.

Stay Healthy and safe!

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaUlasan Film mOntase di Aplikasi ChatAja
Artikel BerikutnyaThe Hunt
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.