King Arthur: Legend of the Sword (2017)

126 min|Action, Adventure, Drama, Fantasy|12 May 2017
6.7Rating: 6.7 / 10 from 178,403 usersMetascore: 41
Robbed of his birthright, Arthur comes up the hard way in the back alleys of the city. But once he pulls the sword from the stone, he is forced to acknowledge his true legacy – whether he likes it or not.

King Arthur: Legend of the Sword adalah film epik sejarah – fantasi garapan sineas kondang, Guy Ritchie. Ritchie, seperti kita tahu telah menggarap film-film berkualitas, macam Lock, Stock and Two Smocking Barrels serta Snatch, dan menggarap pula film-film mainstream macam seri Sherlock Holmes dan The Man from U.N.C.L.E. Sejak Lock Stock dan Snatch, terhitung sang sineas belum mampu lagi memproduksi film dengan kualitas yang sama. Kali ini, Ritchie mencoba genre yang sama sekali berbeda dengan masih menggunakan gaya sinematiknya yang unik. Kisahnya secara singkat mengambil latar tokoh besar, Raja Arthur, sebelum ia menjadi penguasa wilayah Inggris.

Sejak trailer-nya muncul, film ini memberikan ekspektasi yang kecil sebelum menonton filmnya. Namun, opening filmnya seolah membungkam semuanya. Banyak gambar di sekuen pembukaan tidak disajikan di trailer filmnya. Segmen ini disajikan dengan megah dan menawan walau nuansa fantasi demikian kental sehingga mengaburkan genre-nya di antara biografi dan fantasi. Segmen berikut sungguh diluar dugaan, menampilkan montage yang demikian apik dan dinamis, menggambarkan perjalanan Arthur sejak kecil hingga dewasa. Satu teknik yang tak lazim digunakan untuk genrenya. Sungguh di luar dugaan pula, ternyata segmen pembuka ini adalah segmen terbaik dalam filmnya.

Baca Juga  Harry Potter and The Half Blood Prince

Masalah utama dalam film ini adalah pengembangan cerita yang tak memadu dengan kemasannya. Sang sineas dengan gaya khasnya, seringkali menggunakan teknik kilas-baik dan kilas-depan plus tempo plot yang cepat. Penggunaan teknik kilas-balik dan kilas-depan yang demikian intensif membuat kisahnya menjadi tak fokus dan penonton kehilangan arah. Tempo yang cepat membuat kita tak mampu mencerna informasi demi informasi dengan sempurna. Sebuah percobaan yang bagus memang untuk genrenya, namun untuk apa jika kita lantas kehilangan arah cerita dan membuat kita sangat lelah.

King Arthur: Legend of the Sword masih menampilkan ciri khas sang sineas hanya kemasan sinematiknya tidak mampu mendukung kebesaran temanya. Amat disayangkan karena pencapaian visual dan setting rasanya sudah sangat baik mendukung kisahnya. Tak ada komentar untuk para kastingnya. Ritchie tampaknya sudah terlalu tua untuk menjajal hal baru dan tema kisah yang besar macam Arthur. Akan sangat menyenangkan jika melihat ia mencoba kembali ke genre yang membesarkan namanya.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaFree Fire
Artikel BerikutnyaA Silent Voice
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.